Majalah Sunday

Rupiah Melemah! Apa Dampaknya Untuk Remaja?

Penulis: Alvita Marsandraputri – Universitas Airlangga

Hi, Sunners! Belakangan ini, pasti kita sering mendengar berita bahwa kondisi rupiah sedang melemah. Mungkin kita berpikir, “Ah, ngapain sih peduli tentang rupiah? Toh aku masih remaja, mau rupiah naik atau turun, gak ada dampaknya untukku!” Namun, kita perlu menyadari bahwa kondisi rupiah yang melemah ternyata bukan cuma urusan orang dewasa, lho! Sebagai remaja, kamu juga pasti harus mengeluarkan biaya, misalnya untuk membeli makanan dan minuman, buku, bahkan bensin bagi kamu yang memakai kendaraan pribadi ke sekolah. Kira-kira, kenapa sih rupiah bisa melemah, dan apa dampaknya untuk kita sebagai remaja?

sumber: istockphoto

Kenapa Rupiah Bisa Melemah?

Sebelum kita masuk ke penjelasan detailnya, Sunners perlu mengetahui bahwa Rupiah sangat bergantung dengan hukum permintaan (demand) dan penawaran (supply). Jadi, bisa dibilang Rupiah sama saja dengan barang-barang lain yang bisa diperjualbelikan di pasar internasional, seperti sepatu bermerek atau tiket konser. Kalau ada banyak orang di dunia yang ingin membeli Rupiah, maka nilainya akan menguat karena permintaannya meningkat. Berbeda kalau banyak orang malah ingin menjual Rupiah dan ingin membeli mata uang lain, terutama Dolar AS, justru nilai Rupiah akan menurun.

Lalu, kenapa akhir-akhir ini, orang-orang lebih tertarik untuk memegang mata uang lain terutama Dolar dan Rupiah “dilepaskan” begitu saja? Yuk, simak penjelasannya!

1. Suku Bunga Tabungan Bank Sentral AS Meningkat

Bayangkan ada dua bank, Bank A (Indonesia) dan Bank B (Amerika Serikat). Lalu, Bank B menaikkan suku bunga tabungan mereka, lebih tinggi dibanding dari Bank A.

Bagi Sunners yang belum paham, “Apa sih yang dimaksud dengan suku bunga tabungan? Kenapa suku bunga tabungan berpengaruh banget sama kondisi perekonomian?” Simpelnya, uang yang kamu punya sebenarnya bukan benar-benar milikmu. Uangmu bisa dipinjam dan dipinjamkan. Salah satu hal yang bisa kamu lakukan dengan uangmu adalah “meminjamkannya” ke bank. Sebagai ucapan terima kasih karena kamu sudah menitip uang di mereka, maka bank akan memberikanmu “bonus” berupa suku bunga tabungan.

Semakin tinggi suku bunga tabungan suatu bank, tingkat kepercayaan orang-orang terhadap bank tersebut akan semakin tinggi pula karena mereka akan mendapat lebih banyak “bonus”.

Nah, inilah yang terjadi dengan para investor, manajer keuangan, dan orang-orang kaya. Mereka menganggap menitip uang di Bank Amerika Serikat akan jauh lebih aman dan menguntungkan. Terlebih lagi, Amerika Serikat adalah negara superpower yang kondisi ekonominya sangat stabil, berbeda dengan Indonesia yang masih berstatus negara berkembang dan memiliki banyak risiko. Maka dari itu, banyak orang berbondong-bondong pindah ke Dolar AS.

2. Masyarakat Indonesia Masih Sering Belanja Barang Impor

Tanpa Sunners sadari, sebagian besar barang yang kita konsumsi merupakan hasil produksi dari luar negeri, mulai dari handphone, skincare, pakaian, hingga aplikasi berlangganan untuk nonton film atau mendengarkan musik. Bahkan, bahan baku seperti gandum untuk menghasilkan tepung terigu adalah hasil impor dari Australia, Kanada, dan negara Eropa Timur lainnya, karena Indonesia tidak bisa menanam gandum sendiri. Sedangkan, banyak sekali makanan kita sehari-hari yang dibuat menggunakan tepung terigu, contohnya mie instan, roti, dan gorengan.

Selain itu, Indonesia juga bergantung pada minyak mentah dan BBM dari negara lain. Padahal untuk transportasi sehari-hari, kebanyakan orang menggunakan kendaraan pribadi dan perlu membeli bensin, termasuk pelajar yang naik motor untuk pulang-pergi sekolah.

“Bukannya Indonesia bisa memproduksi BBM sendiri?” Itu memang benar, tapi ladang minyak yang Indonesia punya tidak mencukupi dibandingkan jumlah konsumsi BBM masyarakat yang sangat besar.

Untuk membeli barang-barang dari luar negeri tersebut, Indonesia harus menggunakan Dolar karena Dolar adalah mata uang yang umum dipakai untuk transaksi internasional.

3. Kondisi Geopolitik yang Memanas

Saat ini, dunia sedang dilanda berbagai isu seperti perang dan ketegangan politik di berbagai negara. Di tengah kekacauan dunia, para investor dan perusahaan-perusahaan dunia tentu saja sangat panik. Mereka takut perusahaan mereka tidak bisa beroperasi dengan lancar sehingga nantinya akan menimbulkan kerugian. Maka dari itu, mereka berusaha untuk “kabur” dan “bersembunyi” supaya aset yang mereka miliki aman terkendali. Dolar AS-lah yang dianggap sebagai “safe haven” atau tempat aman bagi mereka. Kembali lagi, alasannya adalah karena Dolar punya “backingan” yang kuat, yaitu negara superpower Amerika Serikat. Para investor percaya, di tengah kondisi dunia yang tidak stabil, Amerika Serikat akan bertahan kokoh dan tidak akan hancur dalam semalam.

Apa Dampak Rupiah Melemah Untuk Remaja?

sumber: istockphoto

Jangan kira rupiah melemah hanya urusan orang dewasa! Meskipun kita tidak menggunakan dolar untuk transaksi sehari-hari, menguatnya dolar tetap berpengaruh terhadap kehidupan kita.

Akibat rupiah yang melemah, harga barang jadi meroket, termasuk barang-barang yang kita konsumsi untuk keperluan sehari-hari seperti bahan baku makanan, pakaian, hingga aplikasi berlangganan. Salah satu barang yang paling terlihat lonjakannya adalah bensin, terutama Pertamax. Seperti yang Sunners ketahui, harga bensin Pertamax melonjak dari Rp 12.300 per liter menjadi Rp 16.250 per liter. Tentu hal ini membuat masyarakat resah.

“Kenapa harus resah kalau harga Pertamax naik? Kan, masih ada Pertalite yang harganya lebih murah.”

Memang benar bahwa ada jenis bensin lain yang lebih murah. Namun, memilih bensin ternyata tidak hanya soal gengsi-gengsian.

Hampir semua motor matic keluaran terbaru saat ini memiliki teknologi mesin dengan kompresi tinggi, dimana mesin ini dirancang khusus untuk “diberi makan” bensin berjenis Oktan (RON 92), dan salah satunya adalah Pertamax. Bensin ini memang istimewa karena membuat motor menjadi lebih bertenaga, terasa “enteng”, dan mesinnya tidak mudah rusak.

Banyak orang mengira hanya orang-orang kaya yang menggunakan Pertamax. Faktanya, Pertamax justru banyak dikonsumsi oleh masyarakat kelas menengah, termasuk ojek online, pedagang UMKM, pekerja kantoran, bahkan mahasiswa dan pelajar SMA.

Kalau para pengguna Pertamax beralih ke bensin dengan RON yang lebih kecil, mesin kendaraan bisa mudah rusak dan biaya servisnya justru lebih mahal. Jadi serba salah, kan?

Bagi remaja pun, tentu hal ini sangat meresahkan karena uang jajan akan terpotong lebih banyak. Padahal, seperti yang kita ketahui, sebagian besar remaja belum memiliki penghasilan sendiri dan hanya mengandalkan uang jajan dari orang tua.

Selain itu, pengeluaran remaja terutama pelajar SMA tidak sekecil yang dibayangkan. Ada banyak sekolah yang mewajibkan murid-muridnya untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah menggunakan handphone dan platform online. Sedangkan, tidak semua pelajar bisa membeli handphone bahkan aplikasi berlangganan, terutama mereka yang tinggal di daerah terpencil. Hal ini juga tentunya akan berdampak pada sistem pembelajaran di sekolah dan akan semakin memunculkan ketimpangan pendidikan di daerah maju dan daerah terpencil.

Lalu, Apa yang Bisa Kita Lakukan Sebagai Remaja?

sumber: istockphoto

Di usia kita yang masih muda ini, mungkin kita berpikir tidak ada hal yang bisa dilakukan untuk menghadapi kondisi ekonomi yang tidak stabil. Namun, Sunners dapat melakukan hal-hal sederhana seperti berikut:

1. Belajar Budgeting dan Eco-Driving

Budgeting adalah sikap merencanakan dan mengalokasikan uang dengan bijak untuk menghindari pengeluaran yang berlebih.

Salah satu teknik “budgeting” yang paling mudah adalah aturan 50-30-20. Alokasikan 50% uangmu untuk kebutuhan, 30% untuk keinginan, dan 20% untuk tabungan.

In this economy, sebaiknya Sunners belajar untuk memilah mana yang termasuk kebutuhan dan mana yang merupakan keinginan. Hindari mengonsumsi barang-barang yang tidak terlalu dibutuhkan, misalnya jajan makanan dan minuman viral, make-up, serta barang untuk hobi seperti top-up saldo gameaction figure dan photocard idola K-Pop.

Lalu, apa itu “eco-driving”? Istilah ini lebih jarang dibahas dibandingkan budgeting, tetapi hal ini cukup berpengaruh untuk mengurangi pengeluaran sekaligus melindungi lingkungan. Eco-Driving adalah teknik mengemudi yang berfokus mengurangi penggunaan bahan bakar dan emisi karbon. Kalau Sunners pergi ke sekolah, universitas, atau tempat kerja menggunakan kendaraan pribadi, kamu dapat melakukan eco-driving dengan mengurangi menginjak pedal gas secara agresif, karena hal tersebut dapat menghemat konsumsi bahan bakar hingga 10%. Selain itu, kalau tempat tujuanmu dekat dengan rumah, hindari menggunakan kendaraan bermotor dan pergilah dengan berjalan kaki atau naik sepeda. Selain untuk menghemat isi dompetmu, tubuhmu juga akan semakin bugar!

2. Belajar Skill yang Bisa Menghasilkan Dolar

Dengan kecanggihan internet saat ini, Sunners bisa “nyicil” memperoleh penghasilan sendiri hanya dengan gadget yang kamu miliki di rumah. Melalui berbagai platform di Internet, kamu bisa belajar skill-skill seperti video editing, desain grafis, coding, menulis artikel, atau menjadi social media manager. Kebanyakan pekerjaan yang menggunakan skill-skill tersebut biasanya bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja, serta bisa menghasilkan dolar kalau kamu berhasil menarik perhatian pengguna jasa dari luar negeri.

Sunners bisa menggunakan berbagai platform untuk menawarkan jasa dan mengerjakan proyek berdasarkan skill yang telah kamu pelajari, di antaranya adalah Upwork, Fiverr, dan Freelancer.

3. Kurangi Belanja Produk Luar Negeri

Daripada Sunners membeli barang-barang dari brand luar negeri yang harganya tidak masuk akal, terutama produk fashion, kamu bisa beralih ke produk lokal. Saat ini, kualitas produk lokal seperti baju, tas, bahkan skincare sudah meningkat pesat dan tentunya tidak kalah saing dengan produk luar negeri.

Dengan membeli produk lokal, kamu bisa membantu perputaran uang tetap berada di dalam negeri sehingga kondisi perekonomian Indonesia dapat menguat lagi.

4. Mulai Lirik Barang Thrifted atau Preloved

Supaya penampilan Sunners tetap keren in this economy, kamu bisa mulai melirik toko-toko barang thrifted atau preloved.

Barang thrifted atau preloved adalah barang-barang yang sudah tidak dipakai oleh pemilik sebelumnya, tetapi masih memiliki kualitas yang layak pakai dan harganya jauh lebih miring. Meskipun barang thrifted kasarannya adalah “barang bekas”, kamu tidak perlu malu dan khawatir karena biasanya kualitas barang thrifted masih terbilang bagus. Namun, tentunya kamu harus pintar-pintar dalam memilih barang thrifted dan selalu mengecek apakah barang yang ingin kamu beli punya kecacatan atau tidak, supaya kamu nggak kena zonk!

Selain barang-barang fashion, barang lain yang biasanya di-thrift adalah buku, kamera, perabotan rumah, dan lain sebagainya.

Setelah membaca berita yang beredar, kamu mungkin merasa khawatir dengan kondisi perekonomian Indonesia yang sedang tidak baik-baik saja. Namun, Sunners bisa melakukan tindakan-tindakan kecil seperti yang sudah dijelaskan di artikel di atas, supaya kamu menjadi remaja Indonesia yang produktif, bukan konsumtif!

*****

Majalah Sunday, Teman Memahami Tips Belajar, Edukasi Seksual dan Kesehatan Mental, Mengapa Menunda Belajar Sering Terjadi, Padahal Kita Sudah Paham Materinya

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.

Ikutan berkarya di
Majalah Sunday

Post Views: 4