Penulis: Selese Putriani Munawarah – Universitas Indonesia
Sunners, pernah lihat kegiatan Sabung Ayam? Di sebuah lapangan kecil, puluhan pria berkumpul mengelilingi sebuah arena bambu. Di tengahnya, dua ekor ayam berhadapan. Sesaat kemudian, keduanya berlaga. Sorak-sorai. Taruhan dilempar. Tetapi di sudut lain arena, seorang pemangku adat justru tengah memanjatkan doa. Di sinilah sabung ayam hidup, di antara ritual suci dan permainan yang penuh taruhan. Kegiatan ini punya sejarah panjang yang menyentuh hampir setiap lapisan masyarakat Nusantara, mulai dari raja-raja Jawa, bangsawan Sulawesi, hingga ritual Hindu di Bali. Tetapi hal ini juga membuatnya kompleks, ia tak bisa lepas dari sisi gelapnya. Yuk, simak pembahasan tentang sabung ayam!

Sabung ayam sudah jauh lebih tua dari negara kita. Inskripsi-inskripsi dari Bali abad ke-10 sudah menyebutnya sebagai bagian dari kehidupan masyarakat. Di tanah Jawa, kisah rakyat Cindelaras, yaitu si bocah ajaib dengan ayam jago sakti, menjadikannya pusat cerita yang sampai hari ini masih diingat oleh orang-orang.
Di Sulawesi Selatan, sabung ayam bahkan punya peran strategis. Dalam catatan sejarah perang Gowa-Bone di abad ke-17, adu ayam disebut-sebut sebagai medium diplomasi dan cara para bangsawan mengukur keberanian satu sama lain. Di epik La Galigo, karya sastra terpanjang di dunia dari tanah Bugis, sabung ayam muncul sebagai simbol kejantanan dan kehormatan.
Antropolog Clifford Geertz berpendapat bahwa sabung ayam di Bali bukan sekadar hiburan, melainkan cerminan hierarki sosial dan jaringan solidaritas masyarakat (Geertz, “Deep Play: Notes on the Balinese Cockfight”, dalam The Interpretation of Cultures, 1973). Dalam sabung ayam, atau yang di Bali disebut tajen, kamu bisa membaca siapa saja di sebuah komunitas: siapa yang kaya, siapa yang punya pengaruh, dan siapa yang bisa dipercaya dalam satu panggung sosial.
Nah, ini bagian yang paling penting untuk dipahami. Sabung ayam bukan satu entitas tunggal. Ia punya berbagai bentuk dengan makna yang sangat berbeda, berikut beberapa contohnya.
Arena sabung ayam tradisional disebut wantilan di Bali, biasanya dibangun dari bambu dan kayu, berbentuk lingkaran atau persegi. Penonton duduk atau berdiri mengelilingi area tengah yang cukup kecil. Suasananya ramai, riuh, dan intens.
Ayam yang digunakan bukan sembarang ayam. Biasanya ayam bangkok atau ayam aduan yang sudah dilatih dan dirawat khusus, diberi makan tertentu, dilatih kekuatan dan refleksnya. Pada taji, yaitu kaki bagian belakang, biasanya dipasangi bilah tajam dari besi atau tulang. Di sinilah perdebatan tentang etika hewan mulai masuk.
Sabung ayam adalah potret nyata bahwa budaya Indonesia punya banyak lapisan ritual, sosial hingga kontroversial. Di satu sisi, Tabuh Rah adalah bagian autentik dari sistem kepercayaan Hindu Bali yang sudah berlangsung berabad-abad. Menghapusnya begitu saja sama saja dengan merenggut satu fragmen dari mozaik budaya Indonesia. Di sisi lain, ketika tradisi itu hidup berdampingan, atau bahkan menjadi kedok bagi praktik perjudian ilegal yang merusak, kita tidak bisa pura-pura tidak melihat. Tugas kita bukan sekadar menilai, tapi memahami dan memilih dengan bijak.
*****
Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.