Penulis: Daneen Kalea Alesha Waas – President University
Kata “maaf” termasuk sebagai salah satu magic words selain “tolong,” “terima kasih,” dan “permisi.” Kata “maaf” juga yang sering dianggap kata yang paling susah buat diucapin, sampai dijadiin lagu tuh sama Elton John, Sorry Seems to Be The Hardest Word.
Kadang sulit banget ya untuk minta maaf padahal memang kita yang salah? Atau coba maafin orang lain, tapi hati udah terlanjur terluka karena perbuatan mereka?
No worries Sunners, kamu nggak sendiri kok. Di artikel ini, kita bakal bahas apa yang sebenarnya kita lepaskan saat meminta maaf atau menerima permintaan maaf. Yuk kita simak!

Ketika kita bikin kesalahan, ya kita wajib minta maaf dong. Tapi, seringkali ada ego yang tersembunyi dalam diri kita saat harus meminta maaf kepada orang lain. Ada beberapa alasan mengapa kita sulit meminta maaf, meskipun kita yang berbuat salah, yaitu:
Kalau kita punya rasa gengsi yang tinggi, kita akan sering merasa harga diri kita direndahkan atau terluka kalau harus mengakui kesalahan dan meminta maaf, baik itu kesalahan kecil maupun besar. Ditambah kalau punya empati yang rendah, kita bakal susah banget untuk melihat situasi dari sudut pandang orang lain yang merasa kelakuan si pelaku itu salah.
Menurut psikolog Ikhsan Bella Persada, M.Psi., banyak orang yang melakukan kesalahan sebenarnya sadar kalau mereka salah. Namun, mereka yang malu buat mengakui kesalahan karena takut menghadapi respon yang diberikan atau masalah yang semakin bertambah. Misalnya, setelah minta maaf masih dimaki-maki, menghadapi kerugian, dan nggak dipercaya orang lain.
Sangat manusiawi untuk merasa sulit untuk menurunkan ego demi meminta maaf. Tapi kalau kita berani meminta maaf, seluruh emosi negatif yang masih terasa bisa terlepas dan suasana hati jadi lebih ringan. Yang tadinya sibuk mau membela diri, kita bisa sadar bahwa kita nggak selalu benar dalam setiap situasi. Dan kata maaf bisa jadi acuan untuk memperbaiki diri supaya nggak mengulangi kesalahan yang sama.

Di saat yang sama, kita juga bisa merasa kesulitan memaafkan orang lain. Seringkali karena kita merasa nggak pantas mendapat perilaku seperti itu, atau merasa kesalahan yang diperbuat sangat keterlaluan bukan cuma buat kita, tapi orang lain di sekitar kita. Kita bisa sulit memaafkan karena beberapa alasan berikut:
Misalnya, kita udah bilang sama teman dekat untuk menjaga suatu rahasia. Atau lagi buat project yang bakal berpengaruh untuk nilai mata kuliah sama partner yang udah ditentuin. Kalau kepercayaan itu dilanggar dengan cara apapun, pasti kecewa kan? Dan rasanya nggak mau lagi berteman atau kerja sama dengan orang-orang seperti itu karena merasa perasaan dan usaha kita nggak dihargai dan udah nggak percaya sama mereka.
Dilansir dari SatuPersen.net, ada semacam power atau kekuatan tersendiri saat kita menjadikan amarah dan dendam pada seseorang yang kesannya dapat melindungi kita dari sakit hati atau “menghukum” si pelaku.
Rasa marah bisa mengingatkan kita untuk nggak mudah melupakan perilaku mereka dan dapat lebih tegas dalam menyaring sifat orang-orang yang layak kita jadikan teman atau partner. Tapi di saat yang sama, rasa marah yang terus dipendam dapat menyebabkan masalah pada diri kita sendiri seperti stres atau susah move on dari kejadian yang udah berlalu.
Memaafkan dapat melepaskan amarah dan dendam yang selama ini menghantui pikiran dan hati, keinginan untuk membuat orang lain merasa tersiksa, serta melepaskan beban pikiran berlebihan yang dapat mengganggu kesehatan mental dan fisik kita.

Manusia adalah tempatnya salah, jadi manusiawi jika kita atau orang lain berbuat kesalahan atau khilaf. Kata maaf memang sulit untuk diucapkan dan diterima begitu saja, tapi tetap bisa diusahakan sebagai cara untuk memperbaiki diri dan mengikhlaskan yang sudah lewat.
Meminta maaf dan memaafkan merupakan bentuk pendewasaan agar kita jadi pribadi yang lebih baik, bukan sebuah kekalahan atau memberi kesempatan untuk mengulangi kesalahan. Yuk kita coba lebih berani buat meminta maaf dan belajar memaafkan secara bertahap!
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.