Penulis: Maharani Intan Phitaloka – Universitas Pendidikan Indonesia
Bambang percaya bahwa meminum air yang ditutup kartu ujian dan bantuan “Joki Khodam” lebih manjur daripada belajar rumus kuantitatif.

“Tidak, soal-soal ini lagi…” Bambang menggeleng frustasi sambil mengacak-ngacak rambutnya. Otaknya sudah seperti bubur bayi setiap kali melihat soal kuantitatif.
Di X, orang-orang sibuk flexing skor try out 700+, sementara Bambang masih bingung membedakan antara rumus peluang dan peluang untuk tidak jomblo tahun depan.
“Kok orang-orang bisa sih ngikut try out mulu, mana skornya tinggi banget setinggi harapan Indonesia Emas 2045.”
Putus asa, lelaki yang akan mengikuti UTBK SNBT itu mulai menggulir layar gawainya menyelami media sosial, niatnya untuk mencari hiburan.
“Apa nih? Kok kayak asik? Join ah.”
Namun, tanpa ia mengeklik tautan di kolom komentar yang terlihat menjanjikan. Ya, menjanjikan untuknya, “RAHASIA LULUS SNBT 100% TANPA BELAJAR.”
Langsung saja Bambang masuk ke grup Telegram bernama Sekte Pejuang PTN Jalur Ilahi.
“Wih… gokil juga nih kalau beneran.”
Di sana, admin bernama ‘Suhu Ambis’ membagikan tips yang lebih mirip ritual. “Lupakan buku tebal! Cukup minum air yang ditutup pakai kartu peserta dan dengarkan audio subliminal ‘Otak Einstein’ saat tidur,” tulis si Suhu.
Bambang yang sudah malas menghafal sinonim kata, mulai tergiur.
“Wah, ini baru solusi! Ngapain belajar sampai tipes kalau ada cara yang lebih estetik,” gumam Bambang sambil memandangi gelas minumnya yang sudah ia tutup atasnya dengan kertas kartu ujian. Ia bahkan hampir mentransfer uang tabungannya saat admin menawarkan paket ‘Joki Khodam’.
“Tenang kak, Khodam kami lulusan S3 Oxford, nanti dia bisikin jawaban pas ujian,” klaim si admin.
Manggut-manggut si Bambang, “Masuk akal, jin juga butuh edukasi.”

Harinya tiba.
Bambang datang dengan penuh percaya diri, meski perutnya agak mulas karena semalam minum air yang disimpan 3 hari dengan kertas kartu ujian di atasnya.
Sesuai tips Bro tidak belajar karena sibuk mendengarkan audio “Gelombang Alpha” yang ternyata cuma suara sikat gigi elektrik diulang-ulang. Saat layar komputer menyala, Bambang menutup mata, menunggu bisikan gaib.
“Ayo dam, khodam, bisikin dong. Nomor satu apa nih?” bisiknya pelan ke arah bahunya sendiri.
Peserta sebelah menoleh heran. “Mas, lagi zikir?” tanya dia bingung.
“Lagi sinkronisasi server langit, Mas. Jangan ganggu,” jawab Bambang ketus.
Namun, alih-alih suara jawaban, telinganya justru berdenging karena kurang tidur. Soal pertama muncul: Penalaran Umum. Bambang menatap layar dengan nanar.
“Lho, ini kok pertanyaannya pakai bahasa manusia? Katanya Khodam mau bantu?” keluhnya dalam hati.
Tak mau overthinking, ia mencoba tips terakhir dari admin grup alias ‘Suhu Ambis’ “Pilih jawaban yang paling panjang.”
Tapi sial, semua pilihan jawaban panjangnya sama persis sampai ke tanda komanya. Bambang akhirnya sadar, ‘Suhu Ambis’ itu kemungkinan besar cuma bocah SMP yang lagi cari uang jajan buat top up game.
Sambil menghela napas, ia mulai menghitung kancing kemejanya. “Kancing satu: A, kancing dua: B… Ya Tuhan, kenapa kancingku cuma empat padahal pilihannya sampai E?”
Kisah Bambang menyentil realitas remaja yang terjebak FOMO dan janji manis joki SNBT. Pada akhirnya, tidak ada “jalur instan” yang bisa menggantikan usaha nyata. Mengandalkan keberuntungan tanpa persiapan hanya akan berakhir pada kepanikan di depan layar ujian.
Berhenti percaya pada solusi instan yang tidak masuk akal. Mulailah belajar dengan strategi yang benar dan jujur. Jangan sampai masa depanmu hanya ditentukan oleh jumlah kancing baju!
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.