Penulis: Selese Putriani Munawarah – Universitas Indonesia
Pernahkah kalian membayangkan sebuah kota mendadak “berhenti” sejenak karena kesibukan di dapur? Di Aceh, fenomena ini sangat nyata saat aroma rempah tajam tercium dari setiap sudut rumah dan pasar penuh dengan pedagang daging segar. Masyarakat setempat mengenal tradisi ini dengan nama Meugang atau Makmeugang.
Tradisi Meugang Aceh bukan sekadar ritual masak biasa, melainkan sebuah panggilan rindu bagi para perantau. Oleh karena itu, banyak warga Aceh rela menempuh perjalanan jauh demi bisa berkumpul di meja makan yang sama. Momen ini selalu punya tempat spesial sebagai rangkaian menyambut Ramadhan dan hari raya. Penasaran apa yang membuatnya begitu bermakna? Yuk, kita bedah lebih dalam!
Tradisi Meugang tidak muncul begitu saja. Akar sejarahnya bermula pada masa keemasan Kesultanan Aceh Darussalam, tepatnya di bawah kepemimpinan Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Menurut catatan sejarah dari Lembaga Adat Kebudayaan Aceh (LAKA), Sultan Iskandar Muda memulainya sebagai bentuk rasa syukur atas kemakmuran kerajaannya. Saat itu, beliau memerintahkan pemotongan hewan ternak dalam jumlah besar, lalu dagingnya dibagikan secara gratis kepada seluruh rakyat, terutama kaum fakir miskin. Langkah ini diambil sebagai bentuk penghormatan menyambut bulan suci Ramadhan. Sultan Iskandar Muda ingin memastikan bahwa seluruh rakyatnya memiliki gizi yang cukup dan hati yang gembira untuk melaksanakan ibadah puasa. Hingga kini, masyarakat Aceh menjadikan Meugang bagian tak terpisahkan dari identitas kultural mereka.

Perayaan tradisi Meugang di Aceh biasanya mencapai puncaknya pada H-2 atau H-1 sebelum bulan Ramadhan dan hari raya. Salah satu fenomena paling ikonik yang bisa kamu temukan adalah kemunculan pasar daging dadakan di sepanjang jalan protokol hingga pelosok desa. Kemudian, para pedagang daging menjajakan daging sapi dan kerbau segar yang menjadi buruan utama masyarakat untuk persiapan hari besar.
Keunikan Meugang berlanjut hingga ke dapur dengan hadirnya menu wajib bernama Sie Reboh (daging rebus khas Aceh). Hidangan ini istimewa karena menggunakan cuka enau sebagai pengawet alami sehingga membuat daging tetap awet dan lezat meski disimpan lama di luar kulkas. Selain Sie Reboh, wangi gurih kari kambing dan sapi yang penuh rempah akan tercium dari hampir setiap rumah. Aroma masakan dari dapur warga inilah yang membuat kangen dan sukses memancing selera makan. Bagi para perantau, wangi masakan ini menjadi “panggilan” untuk segera pulang dan kumpul bersama keluarga di rumah.

Kenapa Meugang begitu spesial bagi masyarakat Aceh? Jawabannya terdapat pada nilai-nilai yang terkandung di dalamnya:
Meugang bukan sekadar urusan perut atau makan daging enak. Ia adalah simbol kehangatan keluarga dan kepedulian sosial yang sudah terjaga selama berabad-abad. Oleh sebab itu, sebagai generasi penerus, menjaga tradisi Meugang Aceh adalah tugas kita agar budaya Indonesia tetap lestari di tengah perubahan zaman.
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.