Penulis: Lubna Apdria Kuwaysa – SMKN 48 Jakarta
Kalau ada lomba menunda pekerjaan tingkat nasional, kemungkinan besar aku sudah punya piala emas, perak, perunggu, dan mungkin juga piala favorit juri. Haha, benar-benar imajinasi yang indah.
Namaku Arga. Siswa kelas sebelas yang menurut wali kelasku, “punya potensi besar kalau saja dia tidak menjadikan kasur sebagai tujuan hidup.”
Hari itu di pelajaran Seni Budaya, Pak Damar memberi tugas yang katanya sederhana.
“Anak-anak, untuk tugas minggu ini, kalian harus menggambar sesuatu yang menurut kalian indah.”
Beliau menulis di papan tulis.
“Gambarnya bebas,” kata Pak Damar. “Bisa pemandangan, benda, orang, apa saja.”
Temanku Bima langsung berbisik, “Gue gambar sunset aja lah.”
“Gue gunung,” kata Rafi.
Aku menyandarkan kepala ke meja, “Gue… belum tahu.”
Bima menepuk bahuku, “Arga, hidup lu tuh penuh misteri.”
Aku mengangkat bahu sebagai respon.
Aku pulang sekolah dengan penuh keyakinan.
“Tugas gampang ini,” kataku sambil membuka pintu rumah.
Aku langsung ke kamar, melempar tas ke kasur, lalu mengambil kertas gambar dan pensil.
Aku duduk di meja dan kertas putih terbentang di depanku.
Aku menatapnya.
Kertas itu menatap balik.
Kami saling menatap selama beberapa menit dan tidak ada yang berkedip. Tidak ada suara selain keheningan yang memenuhi ruangan ini.
Aku mengangkat pensil lalu berhenti. Entah kenapa tiba-tiba otakku terasa kosong, mencoba membuat sebuah imajinasi mengenai sesuatu yang indah. Kira-kira, sesuatu yang indah itu seperti apa,ya?
Lima menit kemudian aku menyadari sesuatu.
Aku lapar.
“Ya… otak manusia butuh energi,” gumamku bijak.
Aku pergi ke dapur dan mulai mengambil beberapa makanan dan minuman yang bisa aku konsumsi sambil mengerjakan tugas.
Keripik, cokelat, dan air. Ketiga barang itu aku ambil dari kulkas.
Lalu kembali ke kamar dengan perasaan seperti ilmuwan yang siap melakukan penelitian penting.
Aku makan keripik sambil menatap kertas.
Kunyah.
Tatap.
Kunyah lagi.
Tatap lagi.
Sepuluh menit berlalu dan satu bungkus keripik yang kubeli habis. Dan yang buruknya lagi, kertas masih kosong.
“Hmm,” Aku menyilangkan tangan, “Mungkin aku butuh inspirasi.”
Tanganku mulai mengambil HP yang tergeletak di sampingku.
Cuma mau buka Instagram sebentar, cuma lima menit untuk mendapatkan inspirasi atau referensi dari hal indah yang akan aku gambar.
Itu rencananya. mudah, kan?
Namun, sepuluh menit kemudian aku menonton video kucing yang memakai kacamata hitam.
Dua puluh menit kemudian aku melihat video orang memasak mie instan dengan 37 topping.
Tiga puluh menit kemudian aku menonton seseorang membuat rumah mini untuk hamster.
Empat puluh menit kemudian aku lupa dengan tujuanku.
Lalu tiba-tiba aku melihat kertas di meja.
Aku meletakkan HP pelan-pelan.
Seperti seseorang yang baru menyadari dia membuat kesalahan besar dalam hidup.
“Arga,” kataku pada diri sendiri,”fokus.”

Kini aku kembali memegang pensil.
Aku menggambar garis kecil, lalu ku hapus.
Aku menggambar lingkaran, lalu ku hapus lagi.
“Kenapa sulit banget sih?” Aku berdiri, aku terdiam sebelum terpikirkan sesuatu. Aku bergumam pada diriku sendiri, “Katanya olahraga bikin otak lebih segar.”
Aku pun mulai melakukan push-up.
Satu.
Dua.
Tiga.
Empat.
Lima.
Dan setelah itu aku langsung rebahan di lantai, “Oke cukup.”
Aku bangkit lagi dan kembali ke meja, dan kertas itu masih kosong.
Aku menatapnya curiga, “Ini kertas kayaknya nyedot ideku.”
Aku akhirnya keluar kamar dan mulai muter-muter rumah.
Buka kulkas, tutup kulkas, buka kulkas lagi, tutup lagi.
Padahal jelas-jelas isinya sama.
Jam menunjukkan 18.20.
“Aku belum mulai…” Tapi bukannya panik produktif, aku malah panik rebahan.
Aku berbaring di kasur, menghela nafas dengan gusar dan mulai menutup mata, “Cuma lima menit.”
Sampai akhirnya aku membuka mata lagi dan langit sudah semakin gelap.
Aku melihat jam.
20.53.
Aku langsung duduk, “YA AMPUN.”
TUGAS.
Aku berlari ke meja, dan kertas masih kosong dengan setia.
Seolah berkata: “Halo Arga. Kita bertemu lagi.”
Aku menghela napas, “Oke. Sekarang serius.”
Aku kembali memikirkan hal yang indah.
Pantai, bunga, pelangi, dan air terjun.
Namun entah kenapa semua itu terasa… biasa saja.
Aku membuka HP lagi, “Cari referensi.”
Lima belas menit kemudian aku malah membaca komentar orang berdebat soal topping pizza. Setelahnya aku sadar dan menutup HP dengan dramatis.
“AKU HARUS FOKUS.”
Jam terus berjalan.
21.40.
22.15.
22.50.
Aku mulai menatap langit-langit kamar, terisak kecil, “Kenapa aku harus hidup kayak begini?”
Aku hampir menyerah.
Lalu tiba-tiba aku melihat sebuah postingan di HP, foto seseorang memegang dompet tebal.
Sangat tebal, dan dari dalamnya terlihat banyak lembar uang.
Captionnya: “Saldo aman, hidup tenang.”
Aku terdiam sambil menatap layar. Lalu menatap kertas. Lalu menatap layar lagi.
Tiba-tiba aku duduk tegak.
“OHHHH!”
Mataku berbinar, “INI DIA!”
Aku langsung mengambil pensil, lalu tanpa ragu aku mulai menggambar.
Dompet, dompet yang sangat tebal. Aku menggambar lipatannya, menggambar jahitannya, dan menggambar uang yang keluar dari dalamnya.
Seratus ribu, seratus ribu, seratus ribu lagi.
Banyak sekali.
Aku menggambar dengan penuh semangat seperti seniman yang baru menemukan makna hidup.
Jam menunjukkan 00.07, dan aku bahkan tidak sadar waktu sudah lewat tengah malam.
Akhirnya aku selesai, lalu aku menatap gambarku.
Sebuah dompet coklat, tebal, dan dipenuhi lembar uang seratus ribu. Warna merah dari uang itu menambah keindahan.
Aku menyilangkan tangan, mengangguk puas. “Indah sekali.”
Dan setelahnya aku langsung tidur dengan sangat nyenyak.
Pak Damar mulai mengumpulkan tugas, “Semuanya sudah selesai?”
“Sudaah,” jawab kelas.
Aku maju dan menyerahkan gambarku.
Temanku Bima langsung bertanya, “Lu gambar apa?” Aku mengangkay bahu dan menjawab.
“Hal yang indah.”
“Apaan?”
Aku mengangkat bahu kembali, “Nanti juga tahu.”
Ruang guru mulai sepi, dan Pak Damar terlihat sedang duduk dengan setumpuk kertas gambar di atas mejanya.
Beliau mulai menilai.
“Ah ini bagus.”
“Sunset lagi.”
“Gunung lagi.”
“Bunga lagi.”
Beliau terus membalik kertas sebelum berhenti di satu gambar.
Beliau terdiam. Di kertas itu terlihat gambar dompet sangat tebal dengan uang seratus ribu keluar dari dalamnya seperti air terjun, detailnya pun juga luar biasa.
Pak Damar membaca nama di sudut kertas.
“Arga.”
Beliau tertawa kecil, “Hal yang indah, ya…”
Beliau menulis nilai besar.
95
Di bawahnya beliau menulis komentar kecil, Sangat jujur dan realistis.
Pak Damar menaruh kertas itu di tumpukan nilai, masih tersenyum sebelum mengeluarkan tawa kecil yang dia tahan,
“Minimal anak ini tidak munafik.”

Keindahan tidak selalu hal yang puitis seperti sunset atau bunga. Kadang, hal yang paling terasa indah justru hal yang sederhana dan realistis.
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.
paragraph isi
(di setiap paragraf isi gak perlu ada keyphrase)