Penulis: Aurelia Stefany
Ramadan masa kecilku selalu penuh dengan keajaiban. Aku percaya bahwa bulan Ramadan akan selalu memberikan banyak kejutan ajaib setiap tahunnya. Tapi di antara semua kejutan yang kudapatkan, ada satu yang paling berkesan sepanjang hidupku, yaitu pertemuanku dengan perempuan yang kupanggil kak Leila.
Aku masih ingat saat itu aku baru berusia sepuluh tahun. Aku hidup di lingkungan dengan orang-orang yang berbeda keyakinan denganku. Tapi itu tidak menjadi masalah untukku. Aku masih punya teman-teman baik yang berbeda keyakinan denganku, dan mereka sangat menghormatiku sebagai seorang Muslim. Walau aku berbeda, setiap bulan Ramadan tiba, orang-orang di lingkungan sekitarku selalu membantu memasang hiasan Ramadan di rumahku. Dari lampu-lampu, hiasan ketupat dan sebagainya.
Saat aku ingin pergi tarawih, aku harus menempuh perjalanan yang sedikit jauh menuju Masjid. Karena di sekitarku, tidak ada masjid yang berdiri sama sekali sehingga aku mau tak mau harus berjalan jauh begini. Aku sendiri tarawih di masjid yang dekat dengan pusat ibu kota. Di sana, setiap saat Ramadan tiba, tempat itu seolah menjadi dunia yang penuh dengan cahaya. Lampu berkelap-kelip, suara anak-anak seumuranku yang memainkan petasan di kejauhan, dan aroma kolak pisang yang menguar dari dagangan takjil di sepinggir jalan.

Setiap malam sesudah tarawih, aku ada kebiasaan bermain di tepi sungai yang ada bebatuan cahaya. Mama selalu melarangku karena katanya bahaya, namun aku ini adalah anak kecil yang rasa penasaran dan keinginan untuk eksplorasinya cukup tinggi; jadi larangan ibuku kerap suka aku abaikan. Aku suka menyentuh bebatuan cahaya di pinggir sungai, mereka seolah dibuat oleh peri-peri cahaya dari dunia lain.
Suatu malam, saat aku sedang merendamkan kaki mungilku ke dalam air sungai yang dangkal, aku mendengar suara seseorang terjatuh di semak-semak. Aku sedikit terkejut suara itu. Dalam hati aku sontak bertanya, “Siapa itu?”
Aku memberanikan diri melangkah menuju sumber suara. Melihat siapa yang terjatuh. Ketika kubuka semak-semak yang lebat, aku mendapati seorang perempuan yang sepertinya berusia lebih tua beberapa tahun dariku. Dia mengenakan hijab sepertiku! Dan dia terlihat sangat cantik dan manis.
“Apa kakak baik baik saja?” tanyaku sambil membantunya berdiri.
Perempuan itu tersenyum kepadaku. “Aku baik. Terima kasih sudah membantuku”
Aku mengangguk. Senang bisa membantunya, tapi ada sesuatu dari sorot matanya yang terasa sangat nyaman dan lembut ketika dia menatapku.
“Kakak siapa? Kenapa kakak bisa ada di sini?” tanyaku, agak malu-malu tapi juga penasaran.
“Kamu bisa panggil aku Leila,” jawabnya dengan senyum lembut.
Aku mengangguk semangat. Ok, namanya kak Leila! Senang bisa berkenalan dengannya.
“Apa yang sedang kakak lakukan di tempat seperti ini?” tanyaku lagi.
“Aku sedang mencari sesuatu,” katanya, menatap permukaan air yang berkilauan diterpa cahaya bulan, “Lentera perdamaian.”

Aku memiringkan kepalaku. “Lentera perdamaian?”
Kak Leila mengangguk. “Setiap Ramadan, akan ada lentera-lentera yang muncul di dunia ini. Mereka terbang menuju langit malam yang bersinar dengan bantuan bintang-bintang dan bulan yang jauh di atas sana. Mereka membawa harapan, kedamaian serta cinta dari setiap hati. Namun, tidak semua manusia dapat melihat lentera-lentera itu. Hanya mereka yang memiliki hati yang bersih, menerima perbedaan dan keinginan untuk mengetahui arti dan membawa kedamaian sesungguhnya dari sebuah “perbedaan” lah yang bisa melihat lentera-lentera tersebut”
Aku terdiam dengan mataku yang kian membulat. Itu terdengar seperti dongeng-dongeng yang selalu diceritakan untuk anak-anak sepertiku. Tapi entah kenapa aku ingin percaya dengan perkataan kak Leila, dan dari lubuk hatiku, aku sangat ingin melihat langsung lentera perdamaian itu.
“Bisakah aku melihatnya juga?” tanyaku.
Kak Leila tersenyum dan mengulurkan tangannya. “Ikut aku.”
Aku menerima uluran tangan kak Leila. Perlahan, seketika aku merasakan bahwa tubuhku dibawa melayang di atas permukaan. Ke atas dan terus ke atas hingga sampai ke langit.
Rasanya sangat tidak dapat dipercaya. Aku sekarang dibawa terbang. Aku terus menutup mataku sampai ketika kak Leila mengusap pipiku dan berkata, “Sekarang buka matamu.”
Aku membuka mataku dengan perlahan, hingga ketika aku melihat sesuatu yang benar-benar mataku tak dapat berpaling. Langit malam yang sangat indah. Bulan bersinar terang, dan ribuan lentera yang terbang seolah ikut menghiasi malam bersama bulan dan bintang. Rasanya seperti ada dongeng yang hidup di depan mata, dan aku ingin melihat ini selamanya.
Aku menahan nafas, “Ternyata mereka benar-benar ada.”
Kak Leila mengangguk. “Setiap lentera pun, menyimpan kenangan-kenangan indah tentang perbedaan dan keindahan yang pernah terjadi di dunia ini. Kamu melihatnya?”
Aku mengangguk dan kak Leila menatap sebuah lentera berwarna emas yang terbang mendekati kami, Saat dia menyentuhnya, cahaya dari lentera tersebut seakan menyelimuti kami, dan tiba-tiba, aku melihat sebuah adegan yang asing namun terasa akrab di hatiku.
Aku melihat sekelompok anak sekolah dari berbagai agama berkumpul untuk menyiapkan acara buka puasa bersama dan berbagi makanan ke orang-orang sekitar yang ingin berbuka puasa. Di tempat lain, seorang biarawati dan seorang kyai duduk berdampingan, berbincang dengan penuh rasa hormat. Aku melihat seorang anak Muslim dan seorang anak Kristen yang berteman baik tanpa mempedulikan perbedaan yang ada pada mereka.
Sekilas, aku merasakan perasaan tersentuh dan terharu melihat adegan-adegan yang kulihat. Apa ini yang dimaksud keindahan dari yang namanya perbedaan? Kehangatan yang sungguh belum pernah kurasakan.
“Apa yang kamu rasakan?” tanya kak Leila.
Mataku berbinar, “Ini sungguh indah, kak!”
“Memang indah. Tapi apa kamu tau? Ada kata yang cocok untuk lebih menjelaskan apa yang kamu lihat tadi?” tanya kak Leila lagi.
“Apa itu, kak?” tanyaku.
Kak Leila tersenyum.,“Toleransi.”

Aku tertegun hingga kak Leila kembali melanjutkan kalimatnya, “Toleransi bukan hanya tentang menerima perbedaan, tapi juga tentang merayakannya. Ramadan bukan hanya untuk mereka yang berpuasa. Tetapi juga untuk semua orang yang ingin berbagi kebahagiaan dan kedamaian.”
Senyumku semakin lebar, “Kak Leila, aku ingin membawa kedamaian seperti ini. Bagaimana caranya?”
Kak Leila mengusap hijabku. “Kamu bisa melakukannya di lingkungan sekitarmu. Dengan kamu berteman dan saling menolong sesama yang berbeda dengan dirimu. Kamu telah membawa kedamaian.”
Aku mengangguk, memahami sesuatu yang menjadi bekal untuk kehidupanku selanjutnya.
Saat kak Leila mengantarku kembali ke pinggir sungai, ia sudah tidak ada. Aku menatap langit dan tidak ada ribuan lentera yang menghiasi langit. Aku berdiri di pinggir sungai seorang diri, tapi hatiku terasa penuh.
Keesokan harinya, aku menceritakan semuanya pada mama, tapi ia hanya tersenyum dan mengusap hijabku. “Mungkin itu hanya mimpi, Nak” katanya lembut.
Namun, aku tau itu bukan sekedar mimpi. Sejak malam itu, aku selalu mengingat lentera-lentera yang melayang di langit. Mengingat bahwa Ramadan bukan tentang ibadah pribadi, tetapi juga tentang menjalin kebaikan dengan semua orang tanpa melihat perbedaan.
Dan setiap kali aku melihat cahaya lentera di malam Ramadan, aku selalu bertanya-tanya, apakah kak Leila masih mencari lentera perdamaian di tempat lain dan kelak akan mengajakku terbang melihat ribuan lentera yang bersinar di langit malam lagi?
*****
Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.