Majalah Sunday

Sebuah Cerpen - Ramadan di Antara Waktu

Penulis: Muhammad Rasyid Setyadi Dwi Putra

Ramadan di masa kecilku adalah kisah yang tak akan terulang. Sebuah cerita yang terasa begitu jauh, seolah milik orang lain, bukan lagi bagian dari hidupku. Jika kupejamkan mata, aku masih bisa mengingatnya dengan jelas—betapa magrib selalu datang dengan aroma gorengan dari dapur ibu, betapa malam terasa hangat dengan cahaya lampu minyak yang berpendar di teras rumah.

Aku tumbuh di sebuah kampung yang sederhana, tempat Ramadan bukan sekadar ibadah, melainkan perayaan yang memenuhi setiap sudut kehidupan. Sejak hari pertama, semuanya terasa istimewa. Subuh selalu lebih riuh dari biasanya. Orang-orang bergegas ke masjid dengan sarung yang masih terlipat rapi, napas mereka masih berat karena sisa kantuk yang belum tuntas. Aku selalu ikut ayah, meskipun sering kali lebih sibuk menghitung jumlah jamaah daripada benar-benar salat dan mendengarkan ceramah subuh.

Setiap orang memiliki cerita Ramadan yang beragam. Salah satu cerita Muhammad Rasyid Setyadi Dwi Putra, "Ramadan di Antara Waktu"

Namun, waktu terbaik dalam sehari selalu datang menjelang senja. Sore hari di bulan Ramadan adalah sesuatu yang tak bisa ditukar dengan apa pun. Aku dan teman-teman menghabiskan waktu di tanah lapang dekat masjid, berlarian sampai napas tersengal, memainkan petasan yang suaranya menggema di antara rumah-rumah. Kami tak punya banyak uang, jadi setiap ledakan kecil dari petasan yang berhasil kami beli adalah kebahagiaan tersendiri. Jika beruntung, ada yang membawa bola, dan permainan akan berlangsung sampai suara azan magrib terdengar. Saat itulah kami berhamburan pulang, tertawa di sepanjang jalan meskipun tubuh penuh debu.

Di rumah, ibu sudah menunggu dengan piring-piring yang masih mengepul. Kolak pisang buatan beliau selalu jadi favoritku, manisnya pas, lembutnya sempurna. Meja makan selalu penuh, bukan hanya oleh keluarga inti, tetapi juga tetangga yang mampir untuk berbuka bersama. Ramadan dulu terasa seperti ikatan yang menghangatkan semua orang, membuat batas antar rumah menjadi kabur.

Malam harinya, setelah perut kenyang dan kantuk mulai merayap, aku sering duduk di teras bersama nenek. Udara malam terasa sejuk, dengan suara jangkrik bersahutan di kejauhan.

Ramadan di Antara Waktu

“Dulu lebih seru,” kata nenek tiba-tiba, sambil menarik napas panjang dan menghembuskannya pelan.

Aku menoleh. “Seru gimana, Nek?”

Nenek tersenyum, menatap langit yang bertabur bintang. “Dulu, waktu nenek kecil, Ramadan itu meriah sekali. Kalau malam, anak-anak membawa obor keliling kampung, bukannya main petasan. Orang-orang berkumpul di masjid, bukan cuma buat salat, tapi juga mendengarkan cerita-cerita dari orang tua. Kalau ada yang bisa khatam Al-Qur’an sebelum Lebaran, rasanya bangga sekali. Dan yang paling nenek suka, dulu kalau sahur, orang-orang berkeliling membangunkan tetangga dengan kentongan, bukan dengan suara alarm.”

Aku membayangkan pemandangan itu—anak-anak kecil berlarian dengan obor, suara kentongan membelah sunyi malam. Ramadan nenek terdengar begitu jauh, tapi entah kenapa, terasa akrab di hatiku.

“Sekarang juga seru, Nek,” balasku.

Nenek terkekeh pelan. “Iya, setiap zaman punya serunya sendiri.”

Aku tak terlalu memikirkan kata-kata nenek saat itu. Bagiku, Ramadan yang kualami sudah cukup menyenangkan. Aku masih punya teman-teman, masih ada petasan, masih ada tawa yang memenuhi malam.

Tapi yang paling kurindukan bukanlah makanan atau permainan sore hari. Yang paling menyesakkan adalah kenangan tarawih di masjid kecil dekat rumah.

Dulu, tarawih bukan sekadar salat, melainkan sesuatu yang kami nantikan. Masjid dipenuhi orang-orang dari segala usia, dari kakek-kakek yang duduk di saf belakang hingga anak-anak kecil yang datang dengan sarung kebesaran dan mukena yang masih wangi lemari. Aku ingat bagaimana aku dan teman-teman selalu memilih saf paling belakang—tempat terbaik untuk bercanda tanpa terlalu banyak teguran. Kami menghabiskan sebagian besar waktu dengan mencuri-curi pandang ke arah teman yang mulai mengantuk atau berusaha menahan tawa saat ada yang salah membaca doa.

Namun, di akhir salat, ada rasa bangga yang sulit dijelaskan. Kami pulang dengan langkah ringan, berceloteh tentang hal-hal sepele, sesekali melihat ke langit yang penuh bintang. Ramadan adalah kebersamaan, dan kebersamaan itulah yang membuat segalanya terasa lebih indah.

Tapi sekarang, semuanya berbeda.

Bukan Ramadannya yang berubah, melainkan aku.

Atau mungkin, semuanya memang benar-benar telah berubah.

Aku melihat anak-anak di lingkunganku lebih banyak menunduk ke layar ponsel. Mereka tidak lagi berkumpul di tanah lapang, tidak lagi saling berteriak memanggil teman untuk berbuka bersama. Tarawih bukan lagi tentang berlarian ke masjid dengan penuh semangat, melainkan sekadar rutinitas yang diselesaikan secepat mungkin sebelum kembali tenggelam dalam dunia masing-masing. Tidak ada petasan yang meledak-ledak di sore hari, tidak ada suara tadarus yang menggema dari rumah ke rumah.

Ramadan kini sunyi dengan cara yang berbeda. Sunyi bukan karena hening, melainkan karena setiap orang sibuk dalam dunianya sendiri.

Aku merindukan masa kecilku yang terasa begitu hidup, penuh keriangan sederhana yang kini sulit ditemukan. 

Mungkin benar kata nenek waktu itu—dulu lebih seru.

*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.

Ikutan berkarya di
Majalah Sunday

Post Views: 6