Penulis: Maharani Intan Phitaloka – Universitas Pendidikan Indonesia
“KENZO, ARSHA, BANGUN! IMSAK TINGGAL 5 MENIT! Pake the power of kepepet sahur lo sekarang atau kita mati kelaparan di sekolah!” — Teriak Deryl.

Layar ponsel Deryl berkedip tiada henti. Grup WhatsApp bernama “Geng Sahur Anti-Tepar” sedang meledak dengan notifikasi.
Kenzo: “Woi, besok ada mapel olahraga. Awas aja kalau ada yang tepar gara-gara telat sahur lagi kayak minggu lalu.”
Arsha: “Kan elu yang tepar… siapa suruh dibangunin tapi malah HP-nya silent.”
Deryl: “Sama aja lo juga, Sha. Gue tidur jam 3 ya gara-gara bangunin lo pada yang kayak kebo!”
Kenzo: “Udahlah, mending kumpul di kamar Deryl sekarang. Kita susun strategi tempur biar nggak ada drama kesiangan lagi. Gue otw bawa gorengan sisa tadi buka.”
Sepuluh menit kemudian, kamar kos nomor 102 milik Deryl mendadak jadi markas komando. Di tengah kepulan uap bakso dan sisa gorengan, mereka duduk melingkar dengan wajah serius.
“Oke, dengerin. Biar nggak drama lagi, kita pakai cara manual yang nggak butuh sinyal atau baterai HP yang sering di silent itu,” Deryl mengeluarkan senjata rahasianya: dua buah HT mainan bekas adiknya. “Arsha, lo pegang satu. Kenzo, lo satu. Jam 03.15 semua harus bersuara ‘Bangun woi! Jam lima… jam lima…’ trus teriak ‘Ganti!’ di HT buat bangunin.”
Ujung bibir Kenzo berkedut sinis mendengar meme basi itu lagi ‘Jam lima’ dari Deryl. “Nggak kreatif.” gumamnya yang langsung mendapat pukulan sadis Deryl.
“Sakit woi!!” Pekik Kenzo yang tak digubris.
“Trus, ini kalau HT-nya mati gimana, Der?” tanya Arsha sambil sibuk mencolokkan charger ponselnya, si tukang numpang cas.
“Gampang! Strategi cadangan: gue bakal lempar kerikil ke jendela kamar lo, terus lo gedor pintu kamar Kenzo pakai sapu atau apalah sampai ini anak bangun. Pokoknya saling back-up lah!” jawab Deryl yakin.
Kenzo mengangguk mantap. “Sip! Aman berarti ya. Strategi kita udah bulletproof nih. Berhubung udah kumpul, satu match mabar dulu lah ya? Tanggung, gue dikit lagi naik Mythic. Lagian kan kita saling bangunin, jadi nggak perlu takut bablas.”
“Gas! Kan ada sistem keamanan tingkat tinggi!” seru Arsha sambil membuka aplikasi game-nya penuh semangat.
“Tapi mabar di habitat masing-masing aja sana. Takut dihantam Bang Gino kalau berisik di kamar gue,” tukas Deryl dengan wajah was-was sambil melirik ke arah tembok sebelah.
Kenzo terkesiap dan langsung berdiri tegak, “Lupa gue kalau singa sebelah lagi skripsian.”
Bisa-bisa di-smash pake laptop,” Arsha buru-buru mendorong punggung Kenzo untuk keluar dari kamar Deryl. Sebelum menutup pintu, ia nyengir lebar, “Yo, jangan kangen sama kita ya, Der!”
Deryl menatap jijik kedua sahabatnya itu. “Mata lo di dengkul! Sana balik!”
Sayangnya, “satu match” berubah jadi maraton hingga jarum jam melesat ke angka 03.00 pagi. Dengan mata merah dan sisa tenaga terakhir, mereka tumbang ke kasur masing-masing, merasa sangat aman karena percaya “Geng Sahur Anti-Tepar” akan bekerja sebagaimana mestinya.

Suasana kos-kosan sunyi senyap. HT di samping bantal Deryl mengeluarkan suara static lemah sebelum akhirnya mati total karena baterainya soak. Arsha mendengkur halus, sementara Kenzo memeluk guling dengan posisi mulut menganga.
Pukul 04.25.
Mata Deryl tiba-tiba terbuka lebar. Jantungnya seolah berhenti berdetak, ia langsung menyambar ponselnya yang masih menyala dan panas.
“MATI GUE!” teriak Deryl, suaranya pecah dan melengking. “LIMA MENIT LAGI IMSAK!”
Deryl melompat dari kasur, hampir terjungkal karena kakinya tersangkut kabel terminal. Ia menyambar HT-nya dan berteriak-teriak, “Arsha! Kenzo! Ganti! Masuk! Woi, bangun makhluk halus!”
Hening. HT itu tetap bisu.
“Ck!” Deryl berlari keluar kamar, menggedor pintu Arsha dan Kenzo seperti penagih hutang yang sedang mengamuk pakai sapu. “ARSHA! KENZO! BANGUN! BANGUN SEKARANG!”
Deryl tidak peduli lagi dengan etika bertetangga. Ia menggedor pintu kamar Arsha dan Kenzo sekuat tenaga menggunakan tinjunya, menciptakan suara dentuman yang bergema di lorong kosan yang remang-remang.
“KENZO, ARSHA, BANGUN! IMSAK TINGGAL 5 MENIT! Pake the power of kepepet sahur lo sekarang atau kita mati kelaparan di sekolah!”
Dari dalam kamar, terdengar suara “Brak!” disusul rintihan Arsha.
Pintu kamar Kenzo digedor lebih brutal. “KENZO! BANGUN! LARI KE DAPUR CEPETAN!”
Pintu Arsha terbuka dengan sentakan kasar. Wajahnya bantal, rambutnya mirip sarang burung, dan ia masih memegang HT seolah itu adalah saksi hidupnya.
Di kamar sebelah, Kenzo muncul dengan kondisi mata yang hanya terbuka satu milimeter. Tanpa sempat mencuci muka apalagi merapikan baju, ketiganya langsung lari tunggang-langgang menuju dapur bersama di lantai atas.
Suasana the power of kepepet sahur benar-benar terasa; deru napas mereka bersahutan dengan langkah kaki yang berisik di tangga kayu.

Dapur sempit itu mendadak jadi medan perang. Cahaya lampu terang menambah aksi yang makin terburu-buru. Arsha menyadari memasak mie instan duo adalah misi mustahil. Dengan tangan gemetar, ia menyobek plastik Pop Mie dan menyiramnya dengan air termos yang ternyata sudah tidak terlalu panas.
“Sha, itu belum matang!” seru Kenzo sambil mengacak-acak kulkas.
“Bodo amat! Yang penting ada tekstur mienya!” jawab Arsha sambil mulai mengunyah mie yang masih keras dan kriuk di mulutnya.
Kenzo yang nyawanya belum terkumpul sempurna melihat sebuah botol plastik bening di rak paling bawah kulkas. Karena mengira itu adalah air mineral dingin yang sangat ia dambakan, ia hampir saja menenggak isinya.
“KEN! JANGAN! Itu minyak goreng baru punya gue!” jerit Bang Gino yang muncul tepat sebelum bibir Kenzo menyentuh botol tersebut. Kenzo tersentak, hampir saja ia mengolesi tenggorokannya dengan lemak nabati.
Bang Gino yang melihat kekacauan tiga remaja tanggung berkacak pinggang sambil geleng-geleng kepala. “Mepet mulu sahurnya gue liat-liat lo pada. Begadang mulu sih!”
Arsha melirik sekilas ke arah Bang Gino. Dengan mulut yang masih penuh perjuangan mengunyah mie instan setengah matang, ia menyahut pelan, “Maaf, Bang… namanya juga manusia, tempatnya khilaf…”
“Nyahut mulu lo orang tua lagi ngomong! Buruan, mau imsak noh!” Tukas Bang Gino galak sebelum melenggang pergi meninggalkan dapur yang bau bumbu mie instan dan kepanikan.
Kenzo berbinar melihat sebungkus roti sobek, harta karun takjil gratis dari masjid seberang karena ia sempat ikut tadarusan 2 hari lalu.
“Rezeki anak soleh!” gumam Kenzo sambil merobek plastik roti itu secara brutal. Tanpa peduli isinya cokelat atau keju, ia langsung menjejalkan separuh roti yang sudah agak keras karena suhu kulkas itu ke mulutnya.
Mengunyah secepat mesin penghancur kertas, sampai tenggorokannya seret dan tangannya refleks menyambar botol bening di dekatnya.
Sementara itu, Deryl yang paling panik melihat jam sudah menunjukkan pukul 04.29. Tanpa pikir panjang, menyambar kotak kurma di atas meja.
Mengambil tujuh butir sekaligus dan menjejalkannya ke dalam mulut hingga pipinya menggembung seperti tupai yang sedang menimbun kacang.
“Ukh… ukh…” Deryl mengambil biji kurma sambil berusaha menelan. Lalu meraih gelas air putih terdekat, tepat saat tegukan air kelima menyentuh kerongkongannya, suara adzan subuh menggema dengan syahdu dari masjid seberang kosan.
Hening seketika. Mereka bertiga mematung di dapur dengan sisa makanan di tangan dan mulut yang masih penuh. Pertempuran berakhir, dan mereka kalah telak oleh waktu.

Siang harinya di sekolah, kelas terasa seperti gurun Sahara. Deryl, Arsha, dan Kenzo duduk di barisan belakang dengan kepala terkulai di atas meja. Perut mereka mengeluarkan suara keroncongan yang lebih kencang dari suara guru yang sedang menjelaskan rumus fisika di depan.
“Gue… gue liat spidol itu kayak stik keju,” bisik Arsha dengan tatapan kosong.
“Gue malah ngebayangin es cendol melayang-layang di atas kepala Pak Guru,” timpal Kenzo lemas.
Deryl hanya bisa menghela napas berat, merasakan sisa-sisa rasa kurma yang masih menempel di langit-langit mulutnya. Di tengah rasa lapar yang melilit dan rasa kantuk yang luar biasa, mereka akhirnya sadar. Kemenangan push rank semalam tidak ada harganya dibanding penderitaan ini.
“Malam ini nggak ada mabar,” kata Deryl lirih namun tegas. “Jam sembilan malam, semua HP mati. Gue beneran kapok kena azab the power of kepepet sahur.” Arsha dan Kenzo hanya mengangguk lemah, setuju bahwa disiplin adalah satu-satunya cara agar hari esok tidak berakhir menjadi zombi di sekolah lagi.

Sahur Kepepet mungkin terasa heroik dan lucu saat diceritakan, tapi dampaknya nyata: lemas, otak tidak fokus, dan halusinasi visual (melihat spidol seperti stik keju). Sahur bukan hanya soal makan, tapi soal kesiapan mental menghadapi hari.
Secara medis, menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur (mendekati imsak) memang dianjurkan karena membantu menjaga stabilitas gula darah lebih lama selama berpuasa. Namun, ingat “akhir waktu” bukan berarti “kepepet banget” apalagi pakai the power of kepepet sahur. Makan terburu-buru malah bikin pencernaan kaget dan tubuh makin lemas. Jadi, sahur yang berkualitas adalah kunci energi yang stabil
Pengalaman sahur cuma minum air putih satu gelas karena telat bangun? Yuk, mulai besok kita hargai tubuh sendiri. Pasang alarm lebih awal dan disiplin bangun, karena badan kamu butuh ‘bahan bakar’ yang layak buat ibadah seharian, bukan cuma sisa-sisa tenaga dari air putih.
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.