Penulis: Lubna Apdria Kuwaysa – SMKN 48 Jakarta
Aku masih ingat betul malam itu. Cahaya bulan baru saja mengintip dari balik tirai, tapi aroma mentega dan selai nanas sudah memenuhi dapur kami. Ibuku, dengan apron bergambar bunga kecil, menatapku penuh semangat. Hari ini, beliau akan membuat kue nastar.
“Nak, ayo bantu ibu bikin nastar,” katanya.
Aku menatapnya sambil mengucek mata. “Ibu, aku nggak jago bikin nastar. Lagian… cowok itu nggak perlu masak kue, kan?”
Ibuku mengerutkan kening, setengah menahan tawa, setengah menegur. “Cowok atau cewek, semua bisa belajar. Lagi pula, ini bukan soal gender, tapi soal kebersamaan. Jadi duduk sana, dan bantu ibu.”
Aku menghela napas panjang. Baiklah, aku menyerah. Dengan hati setengah enggan, aku duduk di kursi kecil, menatap adonan nastar di meja.

“Ini digiling dulu, Nak. Jangan terlalu keras, nanti keras kayak batu,” kata ibuku sambil mengaduk adonan dengan gerakan luwes.
Aku mencoba menguleni, tapi entah kenapa tanganku lebih cepat lelah dari yang kubayangkan. Setiap adonan yang kubuat selalu gagal bulat sempurna. Beberapa malah seperti “tapak kaki kecil” di loyang. Aku menatap hasilnya sambil menahan tawa sendiri.
“Eh, Nak… itu apaan?” Ibuku menatapku tajam, tapi aku bisa melihat kilatan tawa di matanya.
“Tapak kaki…” jawabku polos.
Ibuku menepuk dahinya sambil tertawa. “Tapak kaki? Maksudmu nastar! Dan jangan cemilin selainya dulu, Nak!”
Ah, iya. Selai nanas yang ada di mangkuk kecil di sampingku memang terlalu menggoda. Sekali dicolek… hmm… rasanya manis legit, langsung masuk ke mulut. Dan tentu saja, ibuku menatapku dengan mata setengah marah, setengah geli.
“Aduh… Nak! Jangan dimakan semua dong, nanti nggak cukup buat kue!”
Aku cuma nyengir sambil menelan selai nanas. “Enak banget, Bu…”
Ibuku cuma bisa menggeleng sambil tersenyum. Aku tahu dia menikmati kekonyolanku. Kami tertawa bersama, meski adonan berantakan dan bentuk nastar jauh dari sempurna.
Lagi-lagi membentuk adonan nastar. Ibuku mencontohkan bentuk bulat kecil dengan selai di tengah. Aku? Tangan ini entah kenapa membuat bentuk yang aneh-aneh: ada yang oval, ada yang lonjong, dan beberapa benar-benar mirip tapak kaki.
“Ini apa lagi, Nak?” tanya ibuku sambil menahan tawa.
“Bentuk sosis, Bu…” jawabku polos.
Ibuku menepuk dahi lagi. “Sosis? Nak, kalau kamu bikin kue kayak gini disajikan, orang pasti bakalan bingung kalau itu nastar atau sosis!”
Aku tertawa sambil memperbaiki yang “paling membingungkan”. Tapi tentu saja, beberapa tetap jadi tapak kaki kecil dan sosis di loyang.
Selanjutnya, giliran menaruh selai nanas di tengah nastar. Ibuku mencontohkan cara mengambil selai pakai sendok kecil, tapi aku… selalu tergoda. Sekali dicolek, selai itu langsung masuk ke mulutku.
“Eh, Nak! Lagi-lagi dimakan duluan!”
“Maaf, Bu… soalnya enak banget rasanya…”
Ibuku menatapku, setengah marah, setengah geli, lalu akhirnya tertawa juga. “Nak… kalau kamu makan terus, nanti nggak cukup buat nastar!”
Aku hanya bisa tersenyum, tapi hati ini hangat. Meski aku gagal bikin nastar sempurna, kebersamaan itu terasa manis.
Sekarang, aku dewasa. Berdiri di dapur rumahku sendiri, tangan hangat karena baru saja mencampur mentega dan tepung, aroma selai nanas memenuhi ruangan. Istriku tersenyum padaku dari seberang meja.
“Kamu serius mau ikut bantuin bikin kue?” tanyanya.
Aku tersenyum tipis. “Iya… rasanya, aku pengen coba.”
Saat aku menata adonan di meja, beberapa bentuk sengaja kubuat sedikit miring, hanya untuk mengenang masa kecilku. Istriku mengangkat alisnya, penasaran tapi tersenyum.
Aku mengisi selai nanas ke dalam adonan dengan hati-hati, menahan godaan yang dulu begitu menggoda. Dalam hati, aku mengucap, “Terima kasih, Bu,” untuk ibuku yang sudah tiada.
Istriku menatapku. “Kenapa ini ada yang nggak rapi?”
“Ada kenangan di sini,” jawabku sambil tersenyum.
Dia mengangguk, tersenyum, dan kami melanjutkan menata nastar bersama. Aroma mentega dan selai nanas membawa nostalgia yang hangat, membuatku merasa seperti anak kecil lagi yang duduk di dapur bersama ibunya, tertawa karena bentuk nastar aneh, dan tersenyum karena cinta dan kebersamaan itu lebih manis dari apa pun.
Saat terakhir menaruh kue di piring saji, aku menatap istriku. “Mari kita sajikan, ya.”
Dia tersenyum, dan aku tahu, meski ibuku tidak lagi di sini, cintanya tetap ada. Dalam bentuk tapak kaki nastar kecil, dalam tawa kecil di dapur, dalam setiap kenangan yang menghangatkan hati.
Dan aku tersenyum. Membantu ibuku dulu bukan sekadar belajar bikin kue—itu belajar mencintai, belajar sabar, dan belajar bahwa kebersamaan, sekonyol apa pun, selalu manis.

Kadang, kebahagiaan terbesar bukan dari nastar yang sempurna, tapi dari tangan yang sama-sama menguleni adonan dan tertawa bersama.
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.