Penulis: Ayu Anjani – Universitas Pendidikan Indonesia
Iqra turun di dalam sunyi yang memeluk semesta malam,
Saat manusia terdiam dalam kebingungan sejarah zaman,
Ia bukan teriakan, melainkan bisikan lembut penuh salam,
Yang mengajak akal dan hati bangkit menata arah iman.
Di gua yang jauh dari sorak dan ambisi kuasa,
Wahyu hadir tanpa gemerlap dan janji nama,
Karena kebenaran lahir dari jiwa yang merdeka,
Bukan dari suara keras yang mengejar pujian harta.
Di malam turunnya Al Qur’an,
Kata Iqra lahir sebagai perintah membaca,
Membuka cahaya ilmu dan awal peradaban,
Sebagai renungan malam Nuzulul Qur’an.
Iqra mengajari membaca lebih dari sekadar aksara,
Ia menuntun menafsir luka, realitas, dan keadaan,
Agar ilmu tak berhenti di kepala tanpa makna,
Melainkan hidup sebagai tanggung jawab dan kesadaran.
Membaca diri menjadi langkah paling berat,
Sebab cermin nurani sering kita hindari perlahan,
Padahal disanalah tumbuh kejujuran yang utuh dahsyat,
Agar kesalahan tidak diwariskan sebagai kebiasaan perlahan.
Ramadhan datang melunakkan ego yang lama keras,
Lapar mengajarkan jeda pada nafsu yang kasar,
Hingga jiwa belajar tunduk tanpa merasa formalitas,
Dan iman tumbuh jernih tanpa ingin menguasai liar.
Wahyu pertama bisa membaca dunia yang penuh gaduh oleh berita,
Menyaring dusta dari kebenaran yang rapuh,
Agar manusia tak kehilangan arah di tengah dusta,
Dan nurani tetap berdiri meski realitas tampak bergemuruh.
Bagi generasi yang tumbuh di layar teknologi dan kecepatan,
Iqra menjadi rem agar pikiran tak melampaui etika,
Sebab ilmu tanpa arah hanya melahirkan kesesatan,
Dan kecerdasan tanpa adab mudah mengingkari norma.
Malam nuzulul Qur’an bukan sekadar tanggal dan peringatan,
Ia panggilan panjang untuk hidup dalam tindakan,
Agar iman tak berhenti pada simbol dan ucapan,
Melainkan nyata dalam kejujuran dan keteladanan.
Makna Iqra artinya bacalah dunia dengan cahaya iman,
Agar ilmu menjadi jalan pulang, bukan sebagai senjata,
Sebab manusia diselamatkan oleh keseimbangan iman,
Saat akal, adab, dan cinta berjalan beriringan bersama.
Melalui puisi Iqra ini, Sunners diajak untuk mengingat kembali bahwa Malam Nuzulul Qur’an bukan sekadar peringatan, melainkan panggilan untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya ilmu dan keimanan. Perintah Iqra hadir sebagai pengingat agar manusia terus belajar membaca tanda-tanda kehidupan, merendahkan hati di hadapan wahyu, serta menjadikan Ramadhan sebagai ruang memperbaiki diri dengan lebih jujur dan bermakna.

*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.