Penulis: Daneen Kalea Alesha Waas – President University
Kita pasti sering dengar cerita korban pelecehan seksual yang diam saja ketika dilecehkan. Nggak jarang, korban butuh waktu lama untuk menyadari bahwa pelecehan yang mereka alami itu nggak pantas bagi mereka.
Namun sayangnya, masyarakat cenderung langsung menyalahkan korban karena hanya bersikap diam, bukannya melawan. Tapi kenapa ya, fenomena korban yang diam saat dilecehkan sering terjadi?
Ketika seseorang mengalami pelecehan seksual, nggak semua korban bisa langsung melawan atau menjauhkan diri dari pelaku, lho. Kondisi ini disebut sebagai tonic immobility.
Tonic immobility adalah rasa kaku yang muncul di tubuh saat mengalami kejadian traumatis, seperti pelecehan seksual. Respons ini dapat menyebabkan korban terdiam seakan nggak mampu untuk melawan baik dengan kata-kata ataupun kontak fisik.
Dilansir dari hellosehat dan Alodokter, tonic immobility seringkali dikaitkan dengan kecemasan berlebihan atau PTSD (post-traumatic stress disorder). Oleh sebab itu, kondisi ini dapat berdampak negatif pada kesehatan fisik dan mental korban. Korban akan merasa nggak berdaya dan bisa mengalami trauma psikologis, terutama jika lingkungan sekitarnya terus menghakimi dan menyalahkan kenapa mereka nggak berani melawan.

Penting bagi kita untuk bisa jadi support system yang baik untuk teman-teman penyintas pelecehan seksual, terutama pada mereka yang mengalami tonic immobility setelahnya. Berikut beberapa cara yang bisa kita lakukan:

Dampak pelecehan seksual sama sekali nggak main-main untuk para korban, jadi kita harus belajar untuk stop menyalahkan korban pelecehan seksual yang belum berani melawan.
Yuk, terus tunjukkan dukungan untuk teman-teman kita yang berusaha bangkit dari trauma!
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.