Penulis: Maharani Intan Phitaloka – Universitas Pendidikan Indonesia
23:59 Di Luar Rute

Pagi itu tidak mencoba membuktikan apa pun. Aku terbangun sebelum alarm sempat berteriak, seolah tubuh ini sudah lupa bagaimana rasanya tidur nyenyak. Di depan cermin, wajahku tampak normal—tidak cukup buruk untuk membuat orang khawatir. Masih terlihat “baik-baik saja” di mata dunia.
Suasana kelas mendadak formal saat hasil ulangan matematika dibagikan. “Harsa Senapati,” panggil guru. Aku maju menerima kertas bertuliskan angka 84. Menatapnya lama, tidak menemukan rasa bangga, hanya kehampaan.
“Berapa, Sa?” tanya Rian.
“Delapan empat.”
Temanku itu mengangguk, “Masih tinggi.”
Tidak gagal. Di depan, Mulan kembali ke bangkunya dengan nilai sempurna tanpa ekspresi. Baginya, angka seratus adalah keharusan. Sementara bagiku, angka 84 ini hanyalah noda tinta yang menandakan ada sesuatu yang sedang bergeser.
Hari berlalu dalam rutinitas: duduk, mendengar, mencatat. Tiba-tiba, sebuah pikiran muncul tanpa diundang: aku lelah. Bukan lelah yang bisa hilang dengan tidur, melainkan lelah karena terus berjalan tanpa tujuan.
Aku adalah rahasia yang tak ingin digali siapa pun. Hanya Rian yang tahan dengan diamku. Sisanya? Memilih menjaga jarak, atau mungkin aku yang lebih dulu membangun tembok itu.
Aku sering tidur saat pelajaran bukan karena malas. Mata ini sudah terjaga sebelum matahari terbit, dengan waktu tidur yang jarang menyentuh tiga jam. Saat siang tiba, tubuhku hanya mengambil kembali haknya yang dirampas malam.
Kepala tergeletak di atas meja, sementara suara guru terdengar samar. Mereka tahu dan membiarkannya. Selama nilaiku tetap aman di atas garis, puing-puing di dalam diriku bukanlah urusan mereka. Hasil selalu lebih dipuja daripada manusia yang mencapainya.

Kemarin, di jam Fisika, aku melakukan hal yang sama, mengambil hasil. 89. Lumayan. Tidak istimewa. Cukup. Tak lama kemudian, nama Mulan dipanggil. Ia berjalan dengan punggung tegak tanpa ragu. 100. Setelah itu duduk kembali seolah segalanya memang sudah semestinya.
Tidak tahu kenapa aku terus memperhatikannya. Mungkin karena dia terlihat seperti satu-satunya orang yang tidak butuh pengakuan siapa pun. Kami seperti berdiri di tempat yang sama, hanya saja ia berdiri di bawah cahaya, sementara aku memilih tetap di bayang-bayang.
Jarak yang diciptakan orang-orang padaku bukan tanpa alasan. Semua bermula dari kejadian beberapa bulan lalu, saat seseorang mencoba mengujiku di belakang sekolah. Ia tidak suka caraku menatapnya.
Padahal, aku sendiri tidak yakin kapan terakhir kali aku benar-benar “melihat” seseorang. Ia melayangkan tinju, tapi tubuhku bergerak lebih cepat dari pikiranku. Menghindar, menangkap lengannya, dan membuatnya terjatuh ke tanah hanya dalam satu gerakan. Teknik lama yang masih berguna.
Menatapnya sebentar, memastikan ia masih bernapas, lalu pergi. Sejak itu, kelas menjadi lebih sepi bagiku. Mereka tetap menjaga jarak, tapi kali ini dengan rasa hati-hati yang berbeda.
Menjelang sore, arah pulang selalu sama: pasar. Ayah sudah sibuk di lapaknya. Di antara bau sayur dan suara tawar-menawar, preman pasar datang menagih uang yang mereka sebut “keamanan”. Tanpa protes, Ayah menyerahkannya lalu kembali bekerja.
Dari sana pelan-pelan kupahami: dunia tak selalu ramah pada orang yang hidup lurus. Kadang, agar esok tetap ada, seseorang harus merelakan sedikit harga dirinya hari ini.

Hari-hari berikutnya, aku mulai mengeja hal-hal kecil tentangnya: ia yang selalu tiba sebelum riuh, duduk di tempat yang sama, dan terbungkus ketenangan absolut.
Namun, ada yang ganjil. Kadang, saat kelas bising, ia akan melempar tatap ke luar jendela seperti seseorang yang sedang menanti. Entah apa yang ditunggunya, dan mengapa aku begitu ingin tahu.
Di sore lain, langkahku tertahan di jembatan. Biasanya, tempat ini hanyalah penghubung bisu antara dua titik yang tak berarti. Namun hari ini, ada seseorang di sana. Mulan. Seragamnya berkibar, jemarinya bertumpu ringan pada pagar besi. Ia sempat menunduk, lalu mengangkat wajah menatap angkasa.
Dan saat itulah, sesuatu yang tak pernah kulihat sebelumnya terjadi. Ia tersenyum lepas, kecil dan nyata. Kemudian terkekeh pelan; suaranya tak terdengar, namun getarnya terasa. Aku mematung sampai Mulan pergi, menyadari satu hal: itu bukan Mulan yang dikenal dunia. Mulan mungkin tak seutuh kelihatannya.
Panggilan Ayah merenggutku kembali ke rutinitas pasar. Namun, meski jemariku sibuk, pikiranku tertahan di jembatan itu. Bayangan senyum ganjilnya—saat ia tampak bebas dari beban—menolak luruh dan terus mengusik dengan pertanyaan tanpa jawaban.

Jembatan itu seharusnya hanya bagian dari rute, bukan jeda. Dua hari pertama aku berhasil melintas tanpa menoleh, mengubur sisa bayangan Mulan di antara tumpukan barang pasar dan hiruk pikuknya.
Anak pasar ini melakukan segalanya dengan benar. Pulang, lalu mencoba tidur, atau setidaknya memejamkan mata sampai pagi tiba kembali.
Logika akhirnya runtuh pada hari ketiga. Aku berhenti dan berdiri di tempat Mulan sebelumnya, meniru gesturnya: menyentuh pagar besi dingin dan menatap angkasa yang terbentang luas. Menunggu sesuatu—mungkin sisa tawa atau kebebasan yang ia rasakan.
Namun, tidak ada. Saat itulah untuk pertama kalinya, aku menyadari sesuatu yang tidak pernah ingin diakui. Mungkin ada sesuatu dalam diri ini yang tidak bisa diperbaiki.
Nyatanya aku bukan dia, dan tidak akan pernah menjadi dia. Melepaskan tangan dari pagar, membiarkan dinginnya tertinggal di kulit sebagai pengingat.
Dunia berjalan seperti biasa di pasar. Uang berpindah tangan, percakapan mengalir, dan aku tetap menjadi anak yang melakukan segalanya dengan benar. Ternyata, menjadi ‘benar’ tidak selamanya berarti merasa hidup.
Sebelum menutup lapak, sebuah pikiran liar muncul: bagaimana rasanya tidak pulang? Bukan karena ada tujuan lain, tapi aku ingin tahu apa yang tersisa jika berhenti memenuhi ekspektasi dunia. Aku tak mencari jawabannya dan mulai berkemas saat Ayah bersuara. Sementara itu, di sudut yang tak terlihat, sesuatu mulai bergerak—pelan, namun pasti.

Malam tampak biasa, dan mungkin itu alasannya. Pasar mulai lenggang. Beberapa lampu dimatikan, menyisakan lorong yang setengah hidup, setengah menyerah. Udara membawa bau yang sudah terlalu akrab. Aku sedang melipat terpal ketika ayah bersuara. “Harsa, kamu pulang duluan ya, Ayah mau ngobrol sama Mang Dude dulu, nanti nyusul.”
Aku mengangguk sambil menarik simpul terakhir hingga kencang. Pandangan Ayah beralih ke sudut lapak. “Mau coba bawa cator?” tawarnya. Ini caranya mengajariku hal-hal kecil.
“Boleh.”
Ayah mengangguk dengan senyum tipis yang hampir samar. Semuanya terasa sederhana. Mesin dinyalakan; deru kasarnya memecah keheningan pasar yang tak pernah benar-benar sepi.
Cator bergerak keluar, disambut lampu-lampu jalan. Di perempatan pertama, lampu merah menahan laju. Hening. Ketika lampu berubah hijau, seharusnya aku pulang. Namun, malam itu kemudi tak berbelok. Tanpa rencana, cator melaju mengikuti jalan—seperti air yang mengikuti celah.
Angin terasa netral saat menyentuh wajah. Aku melewati deretan toko-toko terkunci dan jendela rumah yang padam. Di antara orang-orang asing dan bangunan sunyi, tak ada yang menungguku. Anehnya, alih-alih takut, aku justru merasa ringan—seperti baru saja menanggalkan beban berat. Di atas cator tua ini, masa lalu dan masa depan menguap. Hanya ada detik ini, dan itu cukup.

Tanpa sadar, aku sampai di jembatan itu. Laju diperlambat, mesin kumatikan. Seketika, dunia menjadi sunyi. Aku turun dan berdiri di tempat yang sama—tempat Mulan pernah berdiri.
Namun malam ini, tidak ada siapa pun selain air dan langit yang tak peduli siapa datang atau pergi.
Pandanganku ke bawah sungai lalu beralih ke angkasa. Tidak ada tersenyum, tidak pula tawa. Meski begitu, untuk pertama kalinya dalam waktu lama, perasaan terjebak itu mengendur. Hanya merasa ada. Tidak lebih, tidak kurang. Namun, itu cukup.
Beberapa saat kemudian, aku kembali ke cator dan menyalakan mesin. Kali ini untuk pulang. Lampu rumah remang. Motor Ayah sudah terparkir di dalam. Saat pintu dibuka, ia menoleh dan bertanya kenapa baru sampai.
Sambil melepas sepatu, aku menjawab pelan, “Tadi lewat jalan lain.”
Ayah hanya mengangguk tanpa tanya. Aku masuk kamar dan merasakan sesuatu yang berbeda dalam diriku. Berbaring menatap langit-langit, menunggu.
Namun, tak ada lagi perang melawan pikiran atau kekosongan yang menghantui. Untuk pertama kalinya dalam dua tahun, kegelapan tidak terasa seperti musuh. Malam itu, aku tidur.

Tidak ada suara keras, tidak ada sisa mimpi buruk, tidak ada sesuatu yang memaksaku keluar dari tidur. Mata terbuka begitu saja, dan langit-langit kamar ada di sana, persis seperti biasanya.
Namun ada yang berubah. Kepala tak lagi berat, tubuh tak lagi asing. Duduk sejenak, kucerna fakta sederhana: aku tidur. Bukan pingsan karena lelah, bukan menyerah pada malam, tapi tidur sebagaimana mestinya manusia.
Saat kaki menyentuh lantai, dinginnya nyata. Di luar, dunia belum sepenuhnya dimulai, namun untuk pertama kalinya, tak ada rasa tertinggal oleh waktu.

Sekolah tetap sama: gerbang yang kaku, lorong bising, dan wajah-wajah yang tidak pernah menungguku. Beberapa menit setelah duduk, Rian muncul dan berhenti tepat di depanku.
“Muka lo beda,” katanya tiba-tiba.
“Beda gimana?”
Ia menyipitkan mata. “Kayak… nggak capek.”
Mungkin? Rasanya bukan berbeda, hanya tidak seberat biasanya. Rian terkekeh, menepuk bahuku. “Baguslah. Dunia nggak bakal kiamat cuma karena lo istirahat sehari. Kantin, yuk. Guru lagi rapat.”
“Ayo,” jawabku, tanpa berpikir dua kali.
Setelahnya, koridor menjadi tempat singgah sementara Rian dan yang lain turun ke lapangan. Dari sana, aku melihat Mulan menghadap lapangan. Entah dorongan apa, aku melangkah mendekat lalu berhenti beberapa meter di sampingnya. Cukup dekat untuk merasakan kehadirannya, cukup jauh untuk tidak mengganggu dunianya.
Ia tidak menoleh, tapi suaranya memecah keheningan di antara kami. “Kamu pernah berdiri di jembatan itu.”
Bukan pertanyaan, itu pernyataan. Aku tidak menjawab, dan ia menoleh ke arahku. “Aku pernah lihat.”
Aku tidak bertanya kapan, atau kenapa dia bisa ada di sana. Aku hanya menjawab singkat, “Iya.”
Ia mengangguk kecil, seolah itu cukup. Kami berdiri dalam diam, tidak canggung, tidak dekat. Hanya dua orang yang pernah berada di tempat yang sama, mungkin dengan alasan yang berbeda.
Sebelum pergi, ia bertanya pelan, “Bagaimana rasanya?”
Butuh beberapa detik untuk menemukan jawaban yang paling jujur. “Aku bisa tidur.”
Mulan menatapku lebih lama, lalu ia mengangguk dan melangkah pergi. Koridor kini terasa berbeda. Untuk pertama kalinya, aku menunggu malam datang.
Bukan karena takut, tapi karena ingin tahu: mampukah aku kembali ke jalan itu—atau kembali pada diriku yang kutemukan semalam?
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.