Majalah Sunday

Sebuah Cerpen - Siapa Suruh Begadang?

Penulis: Lubna Apdria Kuwaysa – SMKN 48 Jakarta

Ali tidak pernah benar-benar mengakui bahwa kebiasaan Begadang adalah sumber dari hampir semua kekacauan kecil dalam hidupnya. Ia selalu punya alasan. 

Tugas belum selesai. Lagi seru. Tanggung. Atau kalimat klasik yang paling sering ia gunakan, “Cuma sebentar.” Padahal, kata “sebentar” dalam kamus versinya sering berarti berjam-jam.

Dia selalu merasa bahwa malam adalah satu-satunya waktu di mana hidup berjalan sesuai keinginannya. Di siang hari, semuanya terasa terlalu cepat, terlalu berisik, dan terlalu penuh tuntutan. 

Tapi di malam hari terutama setelah jarum melewati angka dua adalah wilayah kekuasaannya.

Menurutnya, Begadang itu bukan sekadar kebiasaan. Itu gaya hidup. Itu momen damai ketika dunia sudah tidur dan tidak ada yang menyuruhnya ini-itu. Tidak ada guru. Tidak ada tugas mendadak. Tidak ada suara ibunya yang menyuruh mandi. 
 
Yang ada cuma dia, kasur, dan layar ponsel yang menyala terang di wajahnya.
 
Malam itu pun sama.
 
Awalnya cuma mau cek notifikasi. Lalu kepikiran, “Ah, satu match aja.” Lalu kalah. Lalu gengsi. Lalu balas dendam. Lalu menang tipis dan merasa jago. Siklus klasik Begadang yang selalu terasa masuk akal di jam dua pagi.
 
Jam menunjukkan 01.12.
 
Masih aman, pikirnya.
 
Jam berubah jadi 01.58.
 
Masih bisa bangun.
 
Jam 02.26.
 
Baiklah, ini mulai bahaya.
 
Tapi di sinilah masalahnya. Begadang itu licik, dia tidak datang dengan tulisan “Awas besok kacau”. Dia datang dengan bisikan kecil ‘tanggung, dikit lagi naik rank.’
 
Ketika akhirnya Ali menang dan layar menampilkan tulisan kemenangan yang megah itu, ia tersenyum puas. Ia merasa produkti, dia merasa hebat.
 
Lalu ia melirik jam.
 
02.47.
 
“Ya ampun…”
 
Ia masih belum berhenti.
 
Karena tentu saja, setelah menang, rasanya sayang kalau tidak lanjut. Begitulah pola begadang bekerja, tidak pernah benar-benar selesai.
 
Dia benar-benar meletakkan ponsel pukul 03.12. Itu pun karena matanya sudah perih dan kepalanya mulai berat. Bahkan saat memejamkan mata, bayangan mini map masih terlintas samar di pikirannya.
 
Dia tertidur bukan karena disiplin, melainkan karena kalah dengan rasa kantuknya yang tidak tertahankan.

Begadang gagal, rasa kantuk menang.

“ALI, BANGUN! UDAH JAM ENAM!”

Suara ibunya terdengar seperti sirene bencana alam.

Ali menggeliat, menarik selimut sampai menutupi kepala. Tubuhnya terasa seperti habis lari maraton. Inilah efek nyata dari Begadang yang selalu ia anggap sepele.

Ia membuka satu mata.

Terang dan kepalanya terasa sakit.

Kepalanya berat seperti diisi batu bata. Tenggorokannya kering. Ia bahkan butuh waktu lima detik hanya untuk mengingat hari apa sekarang.

Senin. Presentasi.

Seketika jantungnya berdebar.

Ia bangkit dengan gerakan lambat. Efek Begadang membuat koordinasi tubuhnya terasa delay, seperti sinyal internet jelek.

Di kamar mandi, ia hampir menuangkan sabun wajah ke sikat gigi. Ia menatap cermin dengan mata sembab dan rambut berantakan.

“Ini gara-gara Begadang lagi,” gumamnya pada refleksi dirinya sendiri.

Air dingin memang menyadarkannya sedikit, tapi tidak cukup. Kantuk itu menempel lengket dan presisten, seperti notifikasi yang tidak bisa di-swipe.

Saat memakai seragam, ia salah mengancing dua kali. Kaus kaki yang ia ambil berbeda warna,  yang satu agak pudar, dan yang satu masih baru. Ia menatapnya sebentar.

“Bodo amat.”

Ia hampir lupa laptop.

Kalau bukan karena ibunya berteriak dari ruang tamu, mungkin ia akan datang ke sekolah tanpa bahan presentasi. Dan itu akan menjadi level lain dari dampak Begadang.

Ali tiba di sekolah saat bel sudah berbunyi. Ia berlari dari gerbang dengan napas tersengal. Tanpa berpikir panjang, ia membuka pintu kelas terdekat dan masuk.

Ia duduk di bangku kosong dan menarik napas lega.

Lima detik kemudian, ia sadar suasana kelas itu terasa… asing.

Poster di dinding beda, wajah-wajah orang di sana juga berbeda.

Aura kelasnya beda.

Seorang siswa menoleh. “Lu siapa?” 

Lah?’

Akibat Begadang. Ali sampai salah masuk kelas karena nya.
Ali salah masuk kelas karena terlalu mengantuk.

Otak Ali yang masih dipengaruhi Begadang butuh waktu beberapa detik untuk memproses situasi.

Ia melihat papan tulis dan melihat papan kelasnya berbeda.

Ali berdiri perlahan dan keluar tanpa suara.

Begitu di koridor, ia langsung jalan cepat sambil menunduk. Salah kelas. Sudah telat. Salah masuk pula.

Fix, ini efek Begadang’ batinnya.

Ketika akhirnya ia masuk ke kelas yang benar, suasana sudah tenang. Guru berdiri di depan.

Ali duduk dengan cepat.

Sebelum pelajaran dimulai, ia berbisik pada temannya, “Yang masuk siapa?”

“Bu Ratna,” jawab temannya santai

Ali mengangguk tanpa curiga. Dalam kondisi normal, mungkin ia akan melihat ke depan dan memastikan sendiri. Tapi efek Begadang membuatnya terlalu malas untuk verifikasi.

Saat namanya dipanggil, ia menjawab dengan penuh percaya diri.

“Hadir, Bu Ratna!”

Hening, dan Ali mendongak.

Di depan kelas berdiri Pak Jamal.

Tinggi, berkacamata, dan dengan tatapan serius.

Wajah Ali memanas dalam tiga detik, efek Begadang membuat otaknya telat menyaring realita.

“Eh maksudnya hadir, Pak!”

Beberapa teman langsung menunduk, bahu mereka bergetar menahan tawa. Pak Jamal hanya menatapnya sebentar sebelum melanjutkan absen.

Tapi Ali tahu jika momen itu tidak akan bisa dia dilupakan.

Efek Begadang membuat Ali tak fokus di kelas
Ali merasa dia ingin kabur dari kelas.

Masalah belum selesai karena hari itu kelompoknya presentasi.

Ali maju dengan laptop di tangan, jantungnya berdetak dengan kencang. Ia menyambungkan kabel proyektor dengan tangan sedikit gemetar.

Folder presentasi sudah terlihat, dan dia klik.

Dan dunia seakan berhenti.

Yang muncul bukan slide PowerPoint, melainkan foto temannya yang tertidur di kelas, dengan coretan spidol tipis di pipi dan mulut sedikit terbuka.

Foto itu terpampang besar, HD, dan tanpa sensor.

Hening satu detik sebelum tawa mereka meledak.

Ali panik, tangannya salah klik, salah lagi. Efek Begadang membuat refleksnya lambat, seperti otaknya masih mencoba memproses apa yang dia lakukan.

Dan pada akhirnya ia berhasil menutup foto itu dan membuka file yang benar. Presentasi tetap berjalan, Ali berbicara, menjelaskan sambil menunjuk layar.

Tapi separuh pikirannya masih berteriak dalam hati,

kenapa tadi nggak dicek dulu sih?’

Jawabannya sederhana. Begadang.

Dan Hal itu Berlanjut Sampai Istirahat...

Saat istirahat, Ali menuju kantin dengan langkah lemas. Ia membeli gorengan, roti, dan es teh. Ia makan cepat, seperti robot yang menjalankan perintah otomatis.

Setelah selesai, ia merogoh saku, “Lah, kok uang gue tinggal segini?”

Ia menghitung ulang dan perasaan panik muncul.

“Perasaan tadi belum beli apa-apa…”

Temannya menatapnya aneh. “Lu barusan beli tiga gorengan, roti, sama es.”

Ali melihat bungkus kosong di tangannya, otaknya mencoba mengingat proses membeli.

Kosong.

Efek Begadang benar-benar membuat memorinya bolong. Ia bahkan tidak sadar sudah makan. Ia hanya bisa menghela napas panjang.

“Ini sih udah parah.”

Efek begadang membuat Ali tidak ingat bahwa dia sudah memakan makanannya.
Teman Ali bahkan sampai heran melihat kelakuannya.

Di jam pelajaran berikutnya, Ali hampir tertidur sungguhan. Kepalanya sempat mengangguk turun sebelum ia tersentak bangun. Sekali waktu ia bahkan sempat bermimpi singkat tentang mini map dan suara announcer, lalu tersadar ketika namanya dipanggil.

Teman di sebelahnya menyenggol pelan. Ali mengusap wajahnya dengan gusar.

Ia mulai sadar bahwa Begadang bukan cuma soal kurang tidur. Ini soal satu hari penuh yang terasa tidak sinkron. Salah fokus. Salah dengar. Salah respon.

Dan dia merasa seperti hidup dalam mode delay.

Ketika bel pulang berbunyi, Ali berjalan keluar sekolah dengan langkah pelan. Matahari sore terasa lebih lembut daripada cahaya pagi tadi.

Sepanjang perjalanan pulang, semua kejadian hari itu terputar ulang di kepalanya.

Salah kelas, salah panggil guru, foto aib terpampang, lupa jajan yang sudah dimakan, dan hampir ketiduran saat presentasi.

Semuanya punya akar yang sama yakni begadang.

Ia tertawa kecil sendiri di jalan.

“Cuma satu match,” katanya pelan, menirukan dirinya sendiri semalam.

Sampai rumah, ia mandi dan makan lebih tenang. Tubuhnya masih lelah, tapi pikirannya sudah lebih jernih.

Malam datang lagi dan ponselnya berbunyi.

Notifikasi permainan muncul, godaan Begadang datang lagi.

Ali menatap layar itu lama, dia tahu pola ini, dia tahu ujungnya dan dia tahu besok bisa saja terulang. Dia menarik napas panjang dan untuk pertama kalinya, ia memilih mematikan notifikasi.

Ia meletakkan ponsel dengan layar menghadap ke bawah.

“Cukup,” gumamnya.

Karena hari ini sudah membuktikan satu hal penting, begadang memang terasa seru di malam hari.

Tapi efeknya datang diam-diam, merusak fokus, mempermalukan diri sendiri, dan membuat satu hari terasa seperti rangkaian blooper yang tidak ada habisnya.

Ali tidak tahu apakah ia akan benar-benar berhenti Begadang selamanya. Tapi setidaknya, malam itu ia tidur sebelum jam sepuluh.

Dan untuk sekarang, itu sudah jadi kemenangan yang jauh lebih penting daripada rank apa pun. Ali akhirnya memahami kalau tidur tepat waktu itu penting. Sangat penting.

*****

Majalah Sunday, Teman Memahami Tips Belajar, Edukasi Seksual dan Kesehatan Mental

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.

Ikutan berkarya di
Majalah Sunday

Post Views: 1