Majalah Sunday

Sebuah Cerpen - Intrusive Thought

Penulis: Shafa Nuru;

Memilih hidup sendiri setelah perpisahan ayah dan ibu yang tidak mengharapkan Mindy menjadi pilihan yang sama sekali tidak membuatnya sedih. Setelah lulus dari manajemen perkantoran SMK, Mindy memilih untuk bekerja sebagai pegawai toko ritel. Satu masalah selesai, sekarang masalah lainnya ia perlu mencari tempat hidup, masalahnya saat ini ia hanya memiliki uang tabungan 2 juta hasil tabungan selama dia PKL. 

Pergi ke mana? 

Ia pun tak tahu. 

Mindy menyusuri jalan sekitar, dari perumahan warga sampai gang-gang kecil yang ia temui. Harga setiap bulannya membuat jantungnya seakan bekerja lebih cepat, dengan harga tersebut mungkin makan mie setiap hari jadi pilihan, tapi Mindy memilih untuk tidak memaksakan diri.

Setelah berjalan seharian ia menemukan jalan dengan tangga curam, ia melihat sepetak jalan, ia bertanya kepada seorang ibu yang baru saja naik menggunakan tangga. 

“iya dek, ini gang kupu-kupu namanya, adek nyari kos ya? Di sini banyak yang suka cari kos murah, tapi yah ada harga ada barang dek, emang di sini banyak yang kaya adek,” ujar ibu tersebut.

“Oh, baik bu, makasih ya. Iya nih kebetulan saya lagi cari kosan sekitar sini, saya habis keterima di Chenmart di jalan Teratai,” balas Mindy.

“Oh gitu dek, ya sudah, salam kenal ya dek, saya Tisna. Mungkin nanti kita tetanggaan kalau adek jadi tinggal di sini. Saya tinggal dulu ya, banyak kok yang terima kos, adek pilih aja yang sesuai sama adek, mari ya!” Bu Tisna berjalan pergi, Mindy menghela napas lega, semoga gang ini bisa memberikan dirinya tempat untuk istirahat.

Mindy menyusuri setapak jalan gang kupu-kupu, tempatnya becek, lembab bahkan ia berpikir apakah tempat ini layak. Ia melihat jarak setiap rumah hanya berjarak satu orang, bahkan ini lebih layak  dikatakan bilik. Mindy berjalan dan sampai pada satu tempat yang penerangannya terlihat lebih baik, ia mengetuk pintu dan disambut ramah oleh seorang nenek berusia 65 tahun, tubuhnya masih sangat sehat namun penampilannya tak perlu ditanya.

“Dek Mindy, kamarnya seperti ini. Kalau cocok, boleh langsung diisi saja, saya yang nanti bantu cuci sprei dan selimutnya juga,” jawab nenek yang dipanggil Mak Ica tersebut.

Mindy tersenyum lalu mengangguk paham. Meskipun kehidupan ini sebetulnya tidak ada dalam rencananya, tapi, bisa hidup sendiri dan cukup pantas ini lebih beruntung daripada tinggal dengan kedua orang tua yang tak menginginkannya. 

Hari pertama di kos, Mindy mencoba beradaptasi dengan kondisi di sekitar rumah. Bising suara bayi menangis, pertengkaran rumah tangga di malam hari, membuat dirinya sedikit stress. Tapi Mindy yakin ini hanya akan berjalan selama 3 minggu, selebihnya ia akan terbiasa.

***

Hari ini adalah hari pertama ia bekerja di toko ritel, ia bertemu dengan Andru laki-laki yang berusia 4 tahun lebih tua dari Mindy. Andru bercerita kalau ia putus sekolah sejak SMA, namun ia tak menceritakan mengapa ia bisa putus sekolah dan memilih bertahan untuk bekerja di Chenmart. Meskipun begitu, sebetulnya Mindy tidak terlalu peduli dengan latar belakang semua orang, ia hanya berpikir bagaimana ia bisa menghasilkan uang untuk kebutuhannya sendiri, makan dengan layak dan punya tempat tinggal yang lebih layak di kemudian hari.

“Min, nanti habis siang bakal ada kiriman barang kosmetik. Ini daftar yang harus lu cek ya! Cara kerjanya sama kaya tadi pas gua ajarin,” laki-laki berusia 24 bernama Wisnu menghampiri Mindy, Mindy mengangguk mengerti.

Sekitar 15 menit kemudian truk barang datang, dengan cepat para distributor mengangkut barang ke dalam market. Mindy sedikit gugup mengambil kertas yang diserahkan kepadanya. Andru yang peka mendekati Mindy dan melihat barang yang Mindy kerjakan, ia membaca dengan seksama  dan menyerahkan salinan kwitansinya. Andru menepuk pundak Mindy bangga, Mindy lalu hanya tersenyum.

***

Hari-hari selanjutnya berjalan dengan baik, Mindy masih ditempatkan di bagian stock opname. Minggu selanjutnya ia akan mencoba bagian kasir menggantikan Wisnu yang sedang sakit. Sekitar pukul 12 siang itu Mindy sedang berjaga di kasir, tiba-tiba seorang wanita menghampirinya dengan muka yang merah.

“EH MBAK, KO INI BISA JELEK SIH SOSISNYA!!!” Mindy terkejut, mencoba menarik napas dan mengambil sebungkus pack sosis instan yang dipegang.

“Ada yang bisa dibantu bu?” Mindy mencoba tenang dan memahami kemauan Ibu tersebut.

“Liat dong, masa kering gini sosisnya, jelek banget!”

“Baik bu, saya ganti dengan produk yang sama ya bu,” Mindy menyimpan produknya dan berjalan keluar kasir.

Entah apa yang terjadi, wanita itu justru menarik tangan Mindy saat akan berjalan mengambil sosis. Wanita itu mendorong Mindy lalu mendorong kepala Mindy sangat keras, mencaci maki seakan ini semua adalah ulah Mindy yang ingin menipunya. Mindy hanya bisa meminta maaf dan menangis. Andru datang bersama Kak Hendra. Andru dan Kak Hendra mencoba menjelaskan namun mereka juga ikut disalahkan karena membela Mindy. Sekitar satu setengah jam kemudian perdebatan itu selesai dengan hasil Mindy, Andru dan Kak Hendra memberikan uang kompensasi.

“Mindy, kamu gapapa?” Andru merangkul Mindy yang terlihat sangat ketakutan,  Mindy hanya mengangguk dan terdiam,

“Sabar ya Min, customer macem-macem, Mau kita yang bersuara kadang kita yang nanti kena masalah sama kepala cabang, sabar ya.” Ka Hendra ikut menghibur Mindy. 

Sepanjang pulang dari toko, Mindy hanya terdiam. Ia masih terkejut akan kejadian itu, bagaimana dirinya didorong, bahkan ibunya sendiri tidak pernah memakinya dengan mendorong kepalanya. Suara bising tangis, ledakan tawa sekumpulan pria bermain kartu sambil mabuk menjadi pemandangan Mindy yang sedang dalam kesedihan. Ia menghempaskan dirinya ke kasur tipis dan mencoba menangis di antara kebisingan.

Sebuah Cerpen - Intrusive Thought

Esok harinya, Mindy tidak berangkat pagi karena masuk siang, baru setengah nyawa terkumpul ia mendengar suara bising. Ia melihat keluar, beberapa orang sedang memenuhi pintu depan kos tepat di sebelahnya, ia mendengar banyak sumpah serapah yang dilontarkan. 

Mindy sedikit penasaran dan berjinjit melihat siapa yang sedang menjadi korbannya. Ia terkejut saat melihat seorang wanita yang masih dibalut dengan kain handuk sambil menangis, berdasarkan yang Mindy dengar, sepertinya wanita ini baru saja melakukan kejahatan. Mindy bergetar saat melihat satu pria membawa jasad seorang bayi yang sudah dibungkus handuk. Mindy cepat-cepat mundur dan masuk ke kamar, ia segera menutup dirinya dengan selimut, tubuhnya menahan takut sampai akhirnya air di matanya membasahi pipinya. 

Mindy keluar dari kamar dan bertemu Mak Ica. Mindy hanya terdiam, namun Mak Ica mampu melihat ekspresi ketakutan Mindy.

“Di sini sudah biasa ada kasus gitu Mindy.”

Mindy hanya terdiam dan bertanya-tanya dalam kepala, “Tempat macam apa ini? Bagaimana bisa kasus seperti ini bisa menjadi hal yang sudah biasa terjadi?”

***

Siangnya Mindy pergi berjalan ke bilik toilet umum karena kamar mandi kosnya tak bisa digunakan. Ia membawa handuk dan gayung, saat ia berjalan ia melewati beberapa pria yang sedang bermain kartu, mungkin mereka adalah salah satu sumber kebisingan di gang kupu-kupu. Mindy melewati mereka, namun tak lama ia terkejut saat salah seorang dari mereka mencoba merayu. Mindy tak menghiraukannya lalu pergi. 

Selesai mandi ia harus melewatinya lagi, ia hanya bisa bersabar meskipun tatapan mata itu seakan tak lepas dari dirinya yang sekarang sedang dibalut seragam.

Sebuah Cerpen - Intrusive Thought

Hari ini Mindy kebagian shift sore ke malam, ia berjaga bersama Andru. Mindy membereskan beberapa makanan untuk dimasukkan ke dalam rak. 

Ting! 

Suara pintu terbuka menandakan pelanggan masuk, beberapa pria yang berpakaian bolong dengan telinga ditindik memasuki toko. Mindy tetap fokus pada pekerjaannya, ia memasukkan beberapa kotak susu di bagian rak minuman, tak lama sebuah tangan mendarat di kepalanya, mengelusnya dengan lembut.

“Hai cantik, bagi nomer dong!” Mindy yang terkejut mendorong pria itu, responsnya hanya tertawa seakan ia hanya bercanda. 

Mindy segera mengambil box berisi kotak susu tersebut ke gudang. Andru yang melihatnya dari kejauhan mulai khawatir, namun yang tidak Mindy lihat, Andru pun sedang ketakutan saat rekan pria lainnya sedang ada di depan kasir sambil mengawasinya. Setelah selesai, mereka semua pergi dan Andru menghampiri Mindy yang ketakutan.

“Min, kamu gapapa?“

Sekali lagi, Mindy hanya terdiam. Lalu membayangkan kalau ia bisa sedikit membuat ban laki-laki tadi bocor, ia pasti sangat senang.

***

Esoknya saat Mindy berjalan pulang dari tempat kerja, ia kembali melihat kejadian yang tak menyenangkan. Sekarang ia melihat sepasang anak laki-laki dan seorang wanita usia 20 sedang dihampiri oleh beberapa warga, kembali ia mendengar sumpah serapah yang dilontarkan.

Mindy masuk ke dalam kamar, melihat sebentar ke arah ventilasi kecil, dan kembali ke kasur. Mukanya mengkerut, napasnya tidak tertahankan, ia menutup wajahnya dengan bantal, Mindy berteriak dalam keriuhan itu. Selesai menangis ia lalu memperhatikan jarum yang ada di meja riasnya, ia lalu mencoba memainkan jarum itu ke sela-sela kukunya tanpa sadar. Tak lama Mindy sadar bahwa ini berbahaya, lalu ia meletakkan kembali jarumnya. 

***

Mindy, lu bisa kok lewatin ini, tunggu sebentar lagi

Wajah yang terasa kosong diperhatikan oleh Andru sekitar 12 menit, Mindy yang pendiam sekarang seperti anti sosial, lebih pendiam. Andru mencoba mengajak Mindy mengobrol saat makan di tempat kasir, namun Mindy hanya tersenyum merespons cerita Andru. 

“Min, boleh pinjem powerbank ga ya? Butuh buat nanti malem gantiin kak Hendra,” 

Mindy mengangguk dan memberikan powerbanknya dari dalam tas. 

“Balikinnya sesempetnya aja, ga dipake kok.” Tatapan Mindy kosong saat memberikan powerbank. Andru menerimanya dengan senang, ia lalu melanjutkan cerita seolah terbiasa dengan respons Mindy yang sangat dingin.

Sebuah Cerpen - Intrusive Thought

Sore hari Mindy segera pulang, di jalan ia bertemu dengan pria yang beberapa hari lalu merayunya. Hari ini bahkan ia kembali merayu dan lebih beraninya ia menarik tangan Mindy untuk membelai wajahnya, Mindy melepaskan cengkramannya. 

Mindy mencoba mundur saat pria itu memuntahkan isi perutnya sambil tertawa, Mindy yang tak tahan lalu mendorong pria itu dan berlari. Alih-alih ketakutan lagi, Mindy mencoba menghampiri pria tadi, ia mengambil sandal pria itu dan menaruh tepat di atas matanya yang masih terpejam. Mindy mengikuti apa yang terbersit di pikirannya. Melihat suasana kos sepi, tetangga bilang kalau Mak Ica sedang pulang kampung mendadak,  Mindy tak punya pilihan untuk masuk ke kamar dan menangis, ia benar-benar butuh seseorang yang mau mendengarkan ceritanya. 

Sepanjang malam pikirannya begitu berisik mengingat semua kejadian yang terjadi, air matanya tidak berhenti keluar. 

Paginya, ia terbangun dengan mata yang bengkak, mengingat semua rasa sakit yang dirasakan. Penderitaan yang justru bertambah membuat langkah Mindy terdorong untuk berjalan ke warung. Sampai di kosan Mindy membuka belanjaannya, menyalakan korek api dan membakar obat nyamuk. Ia duduk tepat di depan asap obat nyamuk yang merayap ke udara. ia mendekatkan wajahnya ke arah asap itu, mencoba merasakan sensasi wangi tajam ke dalam hidungnya, hampir setengah dari obat yang terbakar membuat Mindy pusing, ia membaringkan tubuhnya ke lantai sambil tersenyum dan membiarkan air matanya keluar.

Sebuah Cerpen - Intrusive Thought

Tak berselang lama terdengar suara ketukan, namun Mindy tak kuat untuk bangun. Suara itu mulai nyaring, tetapi Mindy memilih untuk tetap memejamkan Mata. 

BRAK! 

Pintu berhasil dibuka, sayup-sayup Mindy mendengar suara Andru yang terkejut. Pandangannya seketika gelap. Mindy membuka mata, ia sudah berada di klinik dan melihat Andru dan Mak Ica di sisinya.

“Mindy, jangan lakuin itu lagi ya? Kamu layak kok, buat tetep hidup dengan tenang, disayang dan merasa aman. Kalo kamu merasa ga layak, mulai sekarang kamu pindah dari sana, aku bantu cari tempat yang bisa bikin kamu aman, tapi kamu janji kamu coba dulu ya?”

Begitulah ucap Andru yang sampai sekarang Mindy percaya, Andru pernah ada di posisi Mindy, dan Andru tak mau ada seseorang yang seperti dirinya.

*****

Majalah Sunday, Teman Memahami Tips Belajar, Edukasi Seksual dan Kesehatan Mental

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.

Ikutan berkarya di
Majalah Sunday

Post Views: 3