Penulis: Meutia Amalia Putri – UIN Jakarta
Di kalangan remaja, ungkapan seperti “kalau sayang, kasih dong” sering dianggap hal wajar dalam hubungan. Padahal, kalimat seperti itu bisa menjadi bentuk sexual coercion di mana itu adalah tekanan atau pemaksaan untuk melakukan hal yang tidak diinginkan. Banyak remaja tidak sadar bahwa mereka sedang dimanipulasi, karena pelaku sering memakai rayuan, ancaman halus, atau rasa bersalah sebagai senjata. Itulah kenapa penting banget untuk memahami apa itu sexual coercion dan bagaimana mengenalinya sejak awal.
Sexual coercion adalah tindakan memaksa atau menekan seseorang untuk melakukan aktivitas seksual tanpa persetujuan yang tulus, bukan dengan kekerasan fisik, tetapi lewat tekanan emosional, bujukan, ancaman halus, atau manipulasi perasaan.
Biasanya muncul dalam bentuk kalimat “Kalau kamu sayang, harusnya mau.” atau “Masa pacaran tapi nggak gitu?”
Meskipun terdengar seperti rayuan atau permintaan biasa, ini tetap pemaksaan karena membuat seseorang merasa bersalah, takut kehilangan, atau terpaksa mengatakan “iya”.

Remaja rentan mengalami sexual coercion karena masih berada dalam fase mencari jati diri dan belajar tentang hubungan. Banyak remaja belum sepenuhnya memahami batasan diri dan makna persetujuan (consent), sehingga mudah mengira tekanan sebagai bentuk cinta.
Selain itu, rasa takut kehilangan pasangan, keinginan untuk diterima, dan pengaruh budaya “bucin” membuat mereka lebih mudah mengalah meski sebenarnya tidak nyaman. Minimnya edukasi seks yang sehat juga membuat remaja sulit mengenali bahwa bujukan, ancaman halus, atau rasa bersalah yang ditanamkan pasangan adalah bentuk pemaksaan.
Kadang sexual coercion tidak terasa seperti paksaan yang terang-terangan. Kamu mungkin merasa tidak nyaman, tapi tetap menuruti keinginan pasangan karena takut ditinggalkan atau dimarahi. Meski sudah bilang belum siap, pasangan terus membujuk, menekan, bahkan membuatmu merasa bersalah dengan kalimat seperti “kalau sayang harusnya mau.” Ada pula ancaman halus seperti takut diputusin atau rahasiamu disebarkan. Permintaan seksual pun sering dibungkus seolah wajar dan romantis, padahal setelahnya kamu justru merasa terpaksa, menyesal, dan tidak dihargai.
Sexual coercion dapat meninggalkan dampak yang cukup berat bagi remaja, meski sering tidak terlihat secara langsung. Tekanan dan pemaksaan yang dialami membuat remaja merasa cemas, takut, dan terus menyalahkan diri sendiri. Perlahan, rasa percaya diri mereka bisa menurun karena merasa tidak dihargai atau tidak punya kuasa atas tubuhnya sendiri.
Pengalaman ini juga bisa menimbulkan luka emosional yang membuat remaja sulit percaya pada orang lain dan takut menjalin hubungan baru. Jika tidak disadari dan ditangani, sexual coercion berisiko membentuk pola hubungan yang tidak sehat di kemudian hari, serta memengaruhi kehidupan sosial dan kesehatan mental remaja dalam jangka panjang.

Melindungi diri dari sexual coercion dimulai dengan mengenali batasan diri sendiri. Remaja perlu memahami bahwa mereka berhak berkata “tidak” tanpa harus merasa bersalah atau takut kehilangan pasangan. Persetujuan dalam hubungan harus datang dari keinginan sendiri, bukan karena tekanan atau bujukan.
Penting juga untuk peka pada tanda-tanda hubungan yang tidak sehat, seperti pasangan yang terus memaksa, memanipulasi perasaan, atau mengancam. Jika mulai merasa tidak nyaman, segera ceritakan pada orang dewasa atau teman tepercaya. Ingat, hubungan yang sehat akan menghargai keputusanmu dan tidak pernah menjadikan cinta sebagai alat pemaksaan.
Pada akhirnya, hubungan sehat tidak pernah meminta “bukti cinta” yang membuat salah satu pihak tidak nyaman. Kenali batasanmu, percaya pada intuisi, dan jangan takut berkata tidak. Kalau kamu atau temanmu pernah mengalami tekanan seperti ini, cari bantuan dari orang dewasa yang kamu percayai. Yuk, jaga diri, jaga hati, dan bangun hubungan yang saling menghargai, bukan yang memaksa. Kamu berhak merasa aman.
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.