Penulis: Disti Cahya Agustine – UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Hai, Sunners! Pernah lihat orang berdandan seperti kerbau terus berguling di sawah? Tenang, itu bukan challenge baru di media sosial, tapi bagian dari tradisi Kebo-keboan di Banyuwangi. Tradisi ini bukan cuma unik dan seru, tapi juga penuh cerita tentang syukur, harapan, dan kekuatan alam yang masih dijaga sampai sekarang, Penasaran sama tradisi ini? Yuk, kita pelajari tradisi Kebo-keboan asal Banyuwangi ini.
Tradisi kebo-keboan sudah diwariskan sejak ratusan tahun lalu, diperkirakan sejak abad ke-18 di Desa Alasmalang, tanah asal Suku Osing. Konon, tradisi ini muncul saat warga desa diserang wabah misterius yang dipercaya berasal dari kekuatan supranatural. Wabah itu membuat banyak orang jatuh sakit, dan tanaman pun ikut rusak karena hama. Para petani gagal panen sehingga beras menjadi langka dan banyak warga meninggal. Dalam keadaan genting itu, sesepuh desa bernama Mbah Karti melakukan semedi untuk mencari petunjuk.
Dari hasil semedinya, Mbah Karti meminta seluruh warga menggelar syukuran besar, dan para petani diminta berperan sebagai kerbau untuk memuliakan Dewi Sri, simbol kesuburan dan keselamatan. Setelah ritual itu dijalankan, sesuatu yang ajaib terjadi, yaitu wabah hilang, hama lenyap, dan tanaman kembali tumbuh subur. Kisah serupa juga terjadi di Desa Aliyan, ketika Mbah Wongso Kenongo dan anaknya, Joko Pekik, mendapat wangsit. Usai bermeditasi, Joko Pekik tiba-tiba berperilaku seperti kerbau dan berguling di sawah. Tidak lama kemudian, hama menghilang dan hasil panen menjadi melimpah.
Sejak kejadian itu, tradisi kebo-keboan dilaksanakan setiap tahun hari Minggu pertama bulan Muharam atau Suro menurut penanggalan Jawa, biasanya antara tanggal 1 sampai 10. Setiap desa punya cara dan alur tradisinya sendiri, tetapi maknanya tetap sama. Walaupun sempat meredup pada era 1960-an karena perubahan sosial dan kurangnya yang melestarikan, tradisi ini bangkit kembali setelah masa reformasi. Tokoh-tokoh seperti Sahuni di Alasmalang dan Mbah Muradji, keturunan Buyut Karti, ikut berperan besar dalam menghidupkan kembali ritual tersebut.

Proses pelaksanaan Kebo-keboan berbeda di tiap desa. Di Desa Alasmalang, prosesnya dimulai dari pemilihan pemeran kebo-keboan oleh ketua adat. Lalu diadakan selamatan dengan 12 tumpeng, yang melambangkan 12 bulan, 7 hari dalam seminggu, dan 5 hari pasaran Jawa. Setelah itu, para “manusia kerbau” diarak keliling empat penjuru desa, sebelum akhirnya benih padi diberikan kepada petani untuk ditanam.
Sementara itu, Desa Aliyan punya tahapan yang lebih unik. Pemerannya dipilih melalui “petunjuk” leluhur, sehingga sehari sebelumnya mereka biasanya kesurupan dan berperilaku seperti kerbau. Warga juga memasang umbul-umbul dan gapura dari hasil panen seperti padi, jagung, dan tebu. Kubangan lumpur pun disiapkan agar para kebo-keboan bisa berkubang saat arak-arakan. Selain itu, ada tumpukan hasil panen sebagai simbol syukur, dan puncaknya adalah proses mengarak manusia kerbau dan momen ngurit, yaitu pembagian benih padi kepada petani.
Menjelang hari pelaksanaan, warga melakukan bersih-bersih desa. Para wanita menyiapkan sesaji seperti tumpeng, ingkung ayam, kinang ayu, dan air kendi untuk diletakkan di perempatan desa. Para pemuda menyiapkan perlengkapan seperti pacul, bibit tanaman, dan hasil palawija, sedangkan petani memperbaiki bendungan yang akan mengairi sawah. Keesokan paginya, acara dibuka dengan doa bersama sebelum para keboan tampil dengan tubuh dilumuri oli, memakai tanduk, rambut palsu, dan membawa bajak. Mereka diarak keliling bersama pemeran Dewi Sri, namun karena banyak keboan kesurupan, mereka sering bergerak tak terkendali hingga menyeruduk warga.
Saat bertemu kubangan lumpur, para keboan langsung berguling-guling dan mencipratkan lumpur ke mana-mana tanpa terlihat lelah. Jika ada yang tumbang, keluarga akan menyadarkan mereka dengan menyiram air. Sementara itu, pemeran Dewi Sri membagikan bibit padi kepada para petani yang berebut mendapatkannya karena dipercaya membawa keberkahan dan hasil panen yang melimpah. Setelah rangkaian upacara selesai, warga pulang sambil membawa benih padi masing-masing. Pada malam harinya, acara ditutup dengan pertunjukan wayang kulit bertema Dewi Sri sebagai hiburan dan bentuk syukur atas keberhasilan tradisi kebo-keboan.
Tradisi Kebo-keboan dari masyarakat Suku Osing Banyuwangi bukan sekadar acara adat biasa. Ritual ini punya makna mendalam tentang kesuburan tanah, rasa syukur atas panen, dan permohonan perlindungan dari hama maupun wabah. Lewat tradisi ini, masyarakat seolah diajak untuk tetap dekat dengan alam sekaligus menghargai spiritual yang sudah diwariskan turun-temurun.
Dalam ritualnya, para peserta berdandan seperti kerbau, lengkap dengan lumpur di tubuh mereka. Hal ini melambangkan kerja keras petani, keteguhan menghadapi musim tanam, dan harapan agar panen mereka melimpah. Aksi berguling di lumpur dan menyipratkannya bukan sekadar seru-seruan, melainkan simbol kesuburan tanah. Sesajen seperti tumpeng dan jenang suro juga menjadi bentuk rasa syukur serta penghormatan kepada leluhur.
Ritual ini tidak hanya berfungsi sebagai acara sakral, tetapi juga sebagai cara untuk mempererat kebersamaan warga. Gotong royong, persiapan bersama, serta pesta rakyat membuat suasana semakin hidup. Generasi muda pun bisa belajar tentang pentingnya menjaga keseimbangan alam, menghargai hewan ternak, dan tetap bangga pada identitas budaya mereka di tengah gempuran modernisasi.
Kini, tradisi Kebo-Keboan berkembang menjadi festival budaya yang menarik perhatian banyak wisatawan. Pemerintah Banyuwangi mengemasnya lewat event seperti Boyolangu Culture Festival, dengan berbagai atraksi kreatif yang tetap menjaga nilai sakralnya. Partisipasi anak muda hingga orang tua menjadikan tradisi ini tetap bertahan dan semakin dikenal. Meski tantangan modernisasi terus ada, kolaborasi masyarakat dan pemerintah membuat Kebo-Keboan tetap hidup, sekaligus membantu ekonomi lokal UMKM dan pariwisata.

Di balik aksi unik berguling di lumpur, Kebo-Keboan punya makna besar tentang syukur dan hubungan manusia dengan alam. Kalau kamu penasaran, coba datang ke Banyuwangi saat tradisi ini digelar. Siapa tahu kamu pulang dengan pengalaman baru sekaligus makin bangga sama budaya Indonesia!
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.