Penulis: Tasya Rahma Putri – Universitas Indonesia
Dinamika kehidupan pada rentang usia remaja akhir hingga awal dewasa ditandai oleh transisi yang masif. Fase ini menuntut kita untuk menata tentang tujuan hidup, arah karier, hingga nilai-nilai pribadi. Di tengah transisi tersebut, proses pendewasaan ternyata tidak selalu berjalan dalam ritme maupun arah yang seragam pada setiap orang, tidak terkecuali bagi dua orang yang berada dalam suatu hubungan romantis. Ketidakseimbangan inilah yang sering kali memicu keregangan tak kasat mata hingga berujung pada keputusan untuk putus cinta.
Narasi putus cinta kerap digambarkan terdapat “sosok penjahat” sebagai pemicu utama. Ketika sebuah hubungan berakhir, asumsi terkadang tertuju pada perselingkuhan, kebohongan, atau perilaku toxic. Namun, ada juga jenis perpisahan lain yang kerap disebut silent breakup, yakni usainya sebuah komitmen yang tidak dipicu oleh pertengkaran hebat. Fenomena ini dapat dipicu oleh berbagai faktor. Dua hal yang sering terjadi adalah perbedaan kecepatan tumbuh (pace of growth) dan perbedaan arah tumbuh (divergent paths of growth) antara dua orang yang perlahan tidak lagi berada di jalur yang sama.
Bertumbuh menjadi dewasa sejatinya adalah proses yang dinamis dan personal. Cara seseorang memandang dunia, menghadapi konflik, hingga menata ekspektasi hidup akan terus berevolusi seiring bertambahnya pengalaman dan usia. Ketika dua orang berada dalam satu hubungan, perubahan dari faktor internal ini tidak selalu berjalan sejajar. Ada fase-fase di mana pendewasaan tersebut secara alami mewarnai ulang cara berinteraksi yang umumnya terlihat dari beberapa dinamika berikut:

Seiring bertambahnya usia, fokus hidup seseorang cenderung meluas ke area baru yang membutuhkan tanggung jawab penuh, seperti akademik, pengembangan karier, atau tuntutan peran di lingkungan baru. Ketika prioritas hidup mulai menuntut perhatian lebih, waktu dan kapasitas emosional yang dialokasikan untuk hubungan asmara pun sering kali mengalami penyesuaian, misalnya prioritas waktu, seberapa jauh pasangan dilibatkan dalam rencana masa depan, hingga toleransi terhadap jarak dan kesibukan menjadi hal krusial.
Apabila kedua pihak memiliki ritme atau toleransi yang berbeda, ketimpangan ekspektasi dan perubahan pola komunikasi dapat terbentuk dengan sendirinya meski tidak ada konflik besar yang terjadi.
Tanda kedua adalah penemuan jati diri. Pendewasaan membawa seseorang pada fase pengenalan diri yang lebih jujur. Prinsip dasar, seperti pandangan tentang gaya hidup, cara mengelola konflik, hingga visi jangka panjang bukan lagi sekadar wacana.
Dalam proses tersebut, kerap muncul kesadaran bahwa nilai-nilai yang makin mengristal di dalam diri ternyata bergerak ke arah yang berbeda dengan nilai dianut pasangan.

Terakhir, adanya pergeseran lingkaran sosial dan wawasan juga turut berpengaruh. Memasuki lingkungan baru, seperti lingkungan akademik, dunia kerja, atau pengalaman tinggal di tempat baru secara tidak langsung memapar seseorang pada sudut pandang dan pola pikir yang beragam.
Pengalaman-pengalaman baru ini membentuk cara pandang yang lebih luas tentang masa depan. Ketika kedua belah pihak dihadapkan pada lingkaran sosial dan tantangan hidup yang berbeda, topik pembicaraan dan respons terhadap suatu masalah bisa berubah, hingga perlahan terkadang menciptakan jarak kedua pihak dalam komunikasi sehari-hari.
Kondisi perubahan di atas biasanya membawa pasangan masuk ke dalam dua skenario fenomena growing apart berikut ini:
Dalam dinamika ini, salah satu pihak mulai fokus menata masa depan, mengelola ego, dan lapar akan pengalaman baru dan pengembangan diri (growth). Sementara itu, pasangannya masih merasa sangat nyaman berada di titik yang sama (stagnan) atau menikmati ritme santai tanpa merasa perlu untuk ikut berakselerasi. Ketidakseimbangan ritme ini lama-kelamaan memicu kelelahan emosional (burnout) bagi pihak yang terus berlari sendirian.
Situasi ini menampilkan kondisi yang berbeda, yakni kedua belah pihak sebenarnya sama-sama matang, bijaksana, dan stabil secara emosional. Namun, kematangan tersebut justru membuat mereka tersadar bahwa prinsip hidup mereka telah bergeser ke arah yang berlawanan. Misalnya saja ketika satu pihak memiliki ambisi besar untuk mengejar karier global di luar negeri, sedangkan yang lain memiliki prinsip kuat untuk tetap menetap dekat dengan keluarga di kampung halaman. Skenario ini tidak menghasilkan konflik fisik atau adu mulut, melainkan tujuannya sudah tidak lagi bertemu di satu titik temu.
Realita ini kemudian melahirkan konflik batin yang luar biasa akibat sulitnya mencari alasan untuk berpisah. Seseorang akan didera rasa bersalah yang besar ketika ingin menyudahi komitmen yang sebenarnya mungkin sudah mati rasa, murni karena tidak ada kesalahan konkret, seperti diselingkuhi atau disakiti. Sikap menyalahkan diri sendiri ini sering kali muncul karena merasa menjadi sosok yang egois.
Padahal, memaksakan hubungan yang sudah kehilangan keselarasan hanya demi menjaga kenangan masa lalu justru sangat berbahaya. Mempertahankan kepura-puraan lambat laun bisa saja mengubahnya menjadi rasa jenuh yang melelahkan hingga kejengkelan yang akan beracun di masa depan.
Putus cinta karena proses pendewasaan yang berbeda bukanlah sebuah kegagalan. Ketika ruang untuk berkembang sudah tidak lagi sejalan, menyudahi hubungan secara baik-baik adalah bentuk rasa hormat tertinggi pada perjalanan hidup masing-masing.
Ketika dua orang terpisah arah, keputusan untuk menyudahi hubungan adalah ipemahaman bahwa memaksakan dua visi yang bertolak belakang justru berisiko merugikan kedua pihak dalam jangka panjang.
Sunners, pada akhirnya, menjaga komitmen dan berjalan bersama hingga akhir tentu menjadi tujuan ideal dalam setiap hubungan. Namun, ketika proses pendewasaan membawa dua orang pada visi dan arah hidup yang tidak lagi sejalan, apabila akhirnya memilih merelakan hubungan secara dewasa, hal tersebut adalah langkah bijak untuk menghargai masa lalu yang telah dilalui dan memberi ruang bagi perkembangan masa depan masing-masing. Sebab, perjalanan pendewasaan bisa saja dipertemukan dengan sosok yang memberi banyak pelajaran berharga di satu fase kehidupan, meski pada akhirnya tidak berada di tujuan akhir yang sama.
Bagaimana denganmu, Sunners? Momen atau tanda seperti apa yang paling membuatmu sadar bahwa kamu dan pasangan mulai tumbuh ke arah yang berbeda? Lantas di titik itu, mana yang sebenarnya paling sulit. Bertahan di hubungan yang sudah tak sejalan demi rasa sungkan, terus berjuang saling menyesuaikan, atau memberanikan diri untuk melepaskan?
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.