Skip to main content

Majalah Sunday

Toxic Relationship: Meninggalkan Luka yang Nggak Kelihatan

Penulis: Paulus Pramudya F.A – Universitas Kristen Indonesia

Ada yang bilang kalo putus dari toxic relationship itu lega. Akhirnya bisa bebas. Nggak ada lagi drama, berantem-beranteman, nggak ada lagi yang bikin nangis di kamar mandi sambil nahan suara biar nggak kedengeran.

Tapi anehnya itu, kenapa kita masih ngerasa ketika hubungan kita udah selesai tapi ternyata terasa belum bener-bener selesai?

Orangnya udah nggak ada. Chatnya juga udah berhenti. Tapi yang anehnya, kepala masih aja kerasa penuh dan berisik karena masih mempertanyakan kurangnya diri sendiri.

Toxic relationship emang nggak selalu ninggalin luka yang bisa dilihat. Kadang yang tertinggal justru bagaimana kita melihat diri kita sendiri, mempercayai orang lain, dan mejalani hubungan selanjutnya.

Awalnya dari Siklus Kecil yang Nggak Disadari

Kita nggak pernah tahu dan kepikiran untuk masuk ke sebuah toxic relationship. Ketika kita baru memulai suatu hubungan, pastinya kita ingin ada seseorang yang bisa diajak untuk berkeluh kesah, diperhatikan, ditemani, atau mungkin teman untuk bercerita.

Semakin lama, tanpa disadari, hubungan yang awalnya diharapkan manis berubah menjadi suatu hubungan yang tidak pernah kita duga.

Dari yang awalnya mungkin cuma cemburu kecil. Lama-lama pasangan yang menjadi terlalu posesif, terus selalu mengatur sehingga memercikan pertengkaran.

Abis itu minta maaf, perhatian lagi, terus baikan seperti nggak terjadi apapun.

Sampe masalah yang sama terulang lagi.

Tanpa disadari siklus kecil ini yang merubah arah dari suatu hubungan yang sehat menjadi hubungan yang tidak sehat.

hubungan yang toxic diaawali dari siklus yang nggak terlihat | Toxic Relationship: Meninggalkan Luka yang Nggak Kelihatan
Perkelahian kecil yang terus menerus membuat hubungan menjadi tidak sehat. sumber (Pinterest).

"Apa Aku yang Salah Ya?"

Nah dalam toxic relationship, sering banget ada perilaku manipulatif yang buat kita mulai meragukan diri kita sendiri. Salah satunya adalah gaslighting, yaitu tindakan yang membuat kita mempertanyakan perasaan, ingatan, atau meragukan diri kita sendiri.

Pelaku toxic relationship juga cenderung menggunakan kekerasan verbal dan bahkan kasus yang paling ekstrim sampai fisik untuk mengontrol pasangannya.

Memiliki hubungan dalam situasi ini dapat menyebabkan kecemasan, ketidak nyamanan mendalam, mengurangi rasa percaya diri, stress kronis, dan bahkan memicu trauma berkepanjangan.

Ketika kita mencoba untuk menyampaikan sesuatu, kita justru malah dianggap sebagai penyebab masalahnya.

Ketika kita marah, kita dibilang berlebihan.

Ketika berkali-kali kita mengeluhkan hal yang sama, kita dibilang terlalu sensitif.

Hal ini yang membuat kita semakin lama mempertanyakan perasaan dan diri kita sendiri.

Padahal, dalam suatu hubungan, permasalahan nggak selalu sepenuhnya salah di salah satu pihak aja. Dua orang bisa sama-sama salah dan punya kekurangan, tapi itu beda sama terus-terusan menyalahkan satu belah pihak atas sesuatu yang sebenernya bukan tanggung jawab kita.

Yang lebih bahayanya lagi adalah selalu memakai kata “maaf” cuma untuk menghindar dari pertengkaran, bukan karena bener-bener merasa melakukan kesalahan.

Masalahnya, kalau kita terus berada di situasi seperti ini, maka kita akan jadi lebih percaya sama penilaian orang lain daripada perasaan kita sendiri dan semakin lama suara yang ada di dalam kepala kita juga akan semakin mengecil.

Situasi yang seperti inilah yang membuat kita terus bertanya-tanya tentang kesalahan apa yang ada dalam diri kita.

hubungan yang toxic membuat kita menjadi ragu terhadap perasaan kita sendiri.
Berada dalam hubungan yang toxic membuat keraguan terhadap diri sendiri. sumber (Pinterest).

Rasa Takut yang Terus Menghantui

Ketika hubungannya udah selesai, beberapa orang selalu nanya.

“Kan udah putus, kenapa masih kepikiran sih?”

Pertanyaan itu memang kedengerannya sederhana. Tapi, untuk orang yang baru aja keluar dari toxic relationship, jawabannya nggak sesederhana itu.

Situasi seperti ini yang sering nggak dipahami oleh orang lain.

Setelah mengalami hubungan yang tidak baik, kita menjadi sulit untuk memberikan rasa percaya kita kepada orang lain sehingga kita jadi terlalu waspada dan lebih memilih untuk menjaga jarak agar tidak terlalu dekat dengan siapa pun.

Situasi ini tidak muncul dengan begitu saja, tapi berkembang dari pola interaksi yang merusak dalam suatu hubungan.

Dari pengalaman buruk yang berkali-berkali berakhir dengan rasa takut dan sakit hati itulah yang membuat kita tanpa sadar membangun pertahanan diri untuk mengisolasi diri kita dari orang lain. Karena selesainya suatu hubungan yang tidak baik pengalaman emosional pun juga tidak selalu hilang bersamaan.

Dengan adanya pengalaman dari suatu hubungan yang tidak baik, wajar saja jika kita menjadi lebih berhati-hati kepada orang lain.

Tapi dengan berjalannya waktu kita pelan-pelan belajar bahwa tidak semua orang akan memperlakukan kita seperti pasangan kita yang dulu.

karena trauma dari pengalaman hubungan yang lalu, jadi merasa takut.
Menjadi berhati-hati terhadap orang lain. sumber (Pinterest).

Luka Batin Juga Butuh Waktu

Satu hal yang sering kita tuntut dari diri kita sendiri ketika selesai dalam berhubungan adalah harus cepat sembuh. Padahal sejatinya kita sebagai manusia tidak bekerja seperti tombol reset.

Ada pengalaman yang memang membutuhkan waktu untuk dipahami.

Proses untuk move on salah satunya. dan proses ini memang naik turun. Hari ini kita merasa baik-baik aja, terus besoknya tiba-tiba sedih lagi karena masuk fase relapse akan hubungan yang lalu.

Tapi tenang aja ini bukan berarti kita lemah dan ini adalah hal yang wajar. Yang penting dari perjalanan untuk move on adalah kita perlahan belajar untuk mengenali apa yang sedang kita rasakan, membangun kepercayaan kita kepada diri sendiri lagi, dan menemukan kembali bagian-bagian dari diri kita yang mungkin sempat hilang selama kita berhubungan dari yang lalu.

Kita bisa mulai dengan cara yang sederhana, seperti kembali melakukan hobi kita, nongkrong dengan teman-teman, berani menyampaikan pendapat, dan belajar untuk berkata tidak. Dan satu hal lagi bahwa kita harus mulai perlahan untuk percaya bahwa perasaan kita layak untuk didengar.

melakukan hal-hal yang disukai lagi. sumber (Pinterest).

Kembali ke Diri Sendiri

Setelah terlalu lama kita menyesuaikan diri dengan pasangan apalagi dalam hubungan yang toxic, tanpa sadar mungkin ada sebagian dari diri kita yang ikut menghilang secara perlahan.

Kita mulai jarang buat main sama temen-temen cuma karena takut pasangan kita merasa dicuekin, menahan pendapat kita cuma karena nggak mau berantem, dan yang paling parahnya sampai kita mulai ngubah cara kita bicara dan bersikap karena ingin menjadi sesuai yang diingkan sama pasangan kita.

Dan ketika hubungan itu selesai, kita baru sadar dan mulai ada pertanyaan di kepala kita.

“Kalau kesukaan kita itu apa sih?”

Satu pertanyaan kecil, tapi terasa asing bagi kita yang selalu menuruti apa kata orang lain.

Karena hal itu, kita bisa kembali lagi untuk menata dan mengenal diri kita dari awal lagi. Kita temukan lagi bagian dari diri kita yang sempat hilang.

Kita bisa mulai dari hal yang kecil.

Seperti melakukan lagi hal-hal yang dulu kita suka, reach out lagi temen-temen yang sempet kita jauhin, berani untuk memiliki pendapat sendiri, dan menghabiskan waktu sendirian.

Dengan begitu, kita akan sedikit demi sedikit mulai mengenal lagi siapa diri kita sebenarnya.

Dalam perjalanan itu, kita mungkin akan nemu kalo ternyata ada banyak bagian dari diri kita yang selama ini kita kira hilang, ternyata nggak. Mereka cuma sempet kita tinggalin jauh di dalam diri kita karena terlalu sibuk untuk mempertahankan hubungan itu.

Pengalaman yang buruk emang bisa niggalin luka yang membekas. Tapi dari luka itu bukan berarti jadi alasan yang harus menentukan siapa diri kita selamanya.

Kembali perlahan untuk mengenal diri sendiri. sumber (Pinterest).

Produk Rekomendasi Sunday

Pengalaman yang buruk emang bisa niggalin luka yang membekas. Tapi luka itu bukan jadi alasan yang harus menentukan siapa kita selamanya.

Kalo setelah abis putus tapi kita masih merasa takut, nggak aman, tertekan, atau kita agak susah untuk ngejalanin hari kayak biasanya, coba deh cerita sama orang yang kita percaya, kayak semisal sahabat kita, orang tua, atau sama ahli professional.

Karena nggak semua luka harus kita pikul dan sembuhin sendirian tau.

Sembuh yang sebenarnya itu bukan soal gimana kita lupain semua yang udah pernah terjadi atau maksa diri kita untuk cepet-cepet baik-baik aja.

Tapi, bagaimana kita bisa pelan-pelan untuk denger suara diri kita sendiri lagi setelah kita terlalu lama mengabaikannya dan berdamai sama diri kita sendiri.

*****

Majalah Sunday, Teman Memahami Tips Belajar, Edukasi Seksual dan Kesehatan Mental

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.

Ikutan berkarya di
Majalah Sunday

Post Views: 2