Penulis: Rizma Ardhana Kamaria – UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Di banyak daerah di Indonesia, pertarungan tradisional menjadi cermin keberanian, kehormatan, dan cara komunitas menyelesaikan konflik tanpa melibatkan kekerasan berlebihan. Di Makassar, salah satu bentuk tradisi itu hadir dalam wujud tarung sarung, sebuah duel yang mengandalkan kelincahan, teknik, dan simbol maskulinitas. Meski sederhana dari segi pertarungan yang melibatkan dua petarung yang berseteru masuk ke dalam satu sarung yang sama dengan menggunakan badik untuk saling menikam.
Tradisi ini melambangkan penyelesaian konflik secara terhormat dan tidak bisa diganggu gugat oleh pihak luar. Memiliki dinamika yang tidak kalah dramatis dibandingkan adegan pertarungan klimaks dalam film aksi. Ia adalah seni bertarung yang memadukan nilai budaya, adrenalin, dan keindahan gerak dalam satu panggung.
Tarung sarung telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Makassar. Tradisi ini umumnya hadir dalam konteks hiburan rakyat, ritual tertentu, atau ajang unjuk diri antar pemuda kampung. Sarung, sebagai simbol identitas Bugis, tidak hanya berfungsi sebagai pakaian, tetapi juga sebagai alat yang sarat makna. Dalam pertarungan, sarung dililitkan erat di tangan baik sebagai pelindung maupun sebagai “senjata” untuk menangkis dan menyerang.
Nilai-nilai seperti keberanian (baran), kehormatan (siri), serta harga diri keluarga sangat melekat dalam tradisi ini. Karena itu, tarung sarung bukan hanya soal menang atau kalah, tetapi tentang mempertahankan martabat dan mengontrol diri di hadapan publik.

Jika melihat tarung sarung, banyak orang membandingkannya dengan adegan pertarungan akhir di film-film laga. Bukan karena efek visual atau koreografi rumit, tetapi karena intensitas emosional yang tercipta di antara dua petarung. Setiap gerakan melompat, menghindar, memukul, atau memutar sarung dibalut ketegangan yang membuat penonton menahan napas.
Suasana itu semakin terasa ketika pertarungan dilakukan di malam hari, diterangi lampu seadanya dan dikelilingi kerumunan penonton. Sorakan kecil, debu yang beterbangan, dan tatapan fokus para petarung menciptakan atmosfer yang mirip dengan momen klimaks film aksi, ketika karakter utama menghadapi lawan terakhirnya. Namun, berbeda dengan film, semua ini terjadi secara spontan tanpa naskah. Ketegangan dan dramanya muncul dari kemampuan para pemuda dalam membaca gerak lawan serta menjaga ritme dan kehormatan.

Walaupun tampak sederhana, tarung sarung membutuhkan teknik dan insting yang kuat. Para pemuda yang sudah terbiasa bertarung biasanya memahami bagaimana menggunakan senjata tajam berupa badik (senjata khas Bugis-Makassar) dan dilakukan dengan cara saling tikam di dalam satu sarung sebagai upaya terakhir penyelesaian konflik atau untuk mempertahankan harga diri. Tarung sarung tidak hanya menuntut kekuatan fisik, tetapi juga strategi.
Setiap petarung memiliki gaya yang berbeda. Ada yang agresif dan cepat, ada pula yang defensif dan tenang. Dalam hitungan detik, keduanya harus memutuskan kapan menyerang, kapan menghindar, dan kapan menahan diri. Gerakan itu ibarat tarian penuh ketegangan yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang tumbuh di dalam budaya tersebut. Pertarungan ini merupakan tradisi ekstrem yang melibatkan nyawa sebagai taruhannya dan biasanya dilakukan jika persoalan tidak dapat diselesaikan melalui musyawarah.
Dalam masyarakat Makassar, tarung sarung juga menjadi ajang sosial. Ia mempertemukan pemuda dari berbagai kampung, memperkuat solidaritas, sekaligus menjadi ruang untuk menunjukkan kedewasaan. Tradisi ini sering dilakukan dalam suasana festival, acara adat, atau perayaan tertentu, sehingga tidak terlepas dari dinamika keramaian dan kegembiraan.
Para orang tua biasanya memantau dari kejauhan untuk memastikan pertarungan berjalan sportif. Walaupun ada kontak fisik, nilai siri membuat petarung tidak boleh melampaui batas. Pertarungan harus berhenti jika salah satu peserta tidak mampu melanjutkan, atau ketika suasana mulai memanas.
Tarung sarung bukan hanya sekadar duel antara dua pemuda, ia adalah cerita tentang keberanian, identitas, dan seni bertarung yang bertahan di tengah zaman. Ketika disaksikan dalam momen penuh ketegangan, tradisi ini menghadirkan nuansa dramatis yang tak kalah dari adegan klimaks film aksi. Di Makassar, tarung sarung tetap menjadi salah satu cermin bagaimana masyarakat merayakan ketangkasan sekaligus merawat warisan budaya mereka.
Tradisi tarung sarung dalam bentuk ekstrem seperti ini sudah sangat jarang dilakukan, dilarang secara hukum, dan lebih sering dilestarikan sebagai pertunjukan budaya atau bagian dari seni bela diri dengan aturan yang lebih aman (seperti pertandingan tangan kosong atau dengan alat pelindung) tanpa menggunakan senjata tajam. Film populer “Tarung Sarung” menggambarkan versi yang lebih modern dan aman dari tradisi ini sebagai sebuah olahraga.
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.