Skip to main content

Majalah Sunday

Sulit Berkata Tidak karena Takut Mengecewakan Orang Lain

Penulis: Fadil Tri Putra Wardhana – Universitas Bina Sarana Informatika

Sulit berkata tidak karena takut mengecewakan orang lain? Rasa nggak enak dan khawatir dianggap egois sering membuat kita mengiyakan permintaan teman, meski sedang lelah atau punya banyak tugas. Tanpa sadar, kita justru mengesampingkan keinginan dan kebutuhan diri sendiri demi menjaga perasaan orang lain.

Kenapa Kita Sulit Berkata Tidak?

Ada banyak alasan yang membuat kita sulit menolak permintaan orang lain. Salah satunya adalah perasaan nggak enak. Kita mungkin khawatir dianggap egois, takut merusak hubungan pertemanan, atau merasa bersalah karena nggak bisa membantu saat seseorang membutuhkan kita. Akhirnya, mengatakan “iya” terasa lebih mudah daripada harus menghadapi berbagai kemungkinan yang muncul setelah kita menolak.

Perasaan ini juga bisa muncul karena kita terlalu memikirkan bagaimana orang lain akan menilai diri kita. Dalam penelitian yang dipublikasikan oleh American Psychological Association (APA) pada 2023, para peneliti menemukan bahwa orang cenderung melebih-lebihkan dampak negatif yang mungkin terjadi ketika mereka menolak sebuah ajakan. Kita bisa saja membayangkan teman akan marah, kecewa, atau bahkan enggan mengajak kita lagi, padahal belum tentu mereka akan bereaksi seperti yang kita takutkan.

Sulit Berkata Tidak karena Takut Mengecewakan Orang Lain

Ketika Keinginan Orang Lain Terasa Lebih Penting

Bayangkan saja ketika temanmu meminta bantuan untuk menyelesaikan tugasnya, padahal kita masih memiliki banyak pekerjaan yang belum selesai. Sebenarnya, kita ingin beristirahat atau selesaiin tugas sendiri. Namun, karena takut membuat teman merasa kecewa, akhirnya kita tetap bantu meskipun sedang merasa kewalahan.

Situasi seperti ini mungkin terlihat biasa saja, tetapi jika terus terjadi, kita bisa mulai terbiasa mengutamakan kebutuhan orang lain daripada memperhatikan kemampuan diri sendiri. Kita jadi terlalu sibuk memastikan orang lain senang, sampai lupa memperhatikan apakah kita sendiri mampu melakukan hal itu.

 

Kajian literatur tentang people-pleasing yang terdapat dalam prosiding International Seminar of Islamic Counseling and Education Series membahas juga kesulitan dalam menolak orang lain, ketakutan terhadap penolakan, serta keinginan untuk diterima oleh orang lain sebagai bagian dari pola perilaku tersebut. Kajian tersebut juga membahas kemungkinan pengaruhnya terhadap kondisi mental seseorang.

Namun, tidak berarti semua orang yang kesulitan menolak orang lain pasti sedang melakukan people-pleasing. Kita juga tidak perlu terburu-buru memberi label pada diri sendiri. Yang penting, kita mulai sadar mengapa kita membuat keputusan itu, apakah kita benar-benar ingin membantu, atau mungkin hanya takut membuat orang lain kecewa?

Mengiyakan Orang Lain, Mengabaikan Diri Sendiri

Membantu teman tentu bukan hal yang salah. Perhatian terhadap orang lain memang menjadi bagian yang penting dalam sebuah hubungan. Namun, mengutamakan perasaan orang lain terus-menerus bisa membuat kita merasa kelelahan karena sering kali kita mengabaikan kebutuhan diri sendiri.

Kalau sering kali bilang “iya” padahal sebenarnya ingin menolak, bisa jadi kita mulai terasa lelah, bingung, atau bahkan marah karena harus melakukan hal yang sebenarnya tidak kita inginkan. Di satu sisi, kita ingin menjadi teman yang bisa dipercaya. Di sisi lain, kita juga harus memperhatikan batasan kemampuan, waktu, dan energi yang kita miliki.

Akhirnya, berkata tidak bukan berarti kita tidak peduli kepada orang lain. Kita bisa tetap mencintai teman, menghargai perasaan mereka, dan mempertahankan hubungan yang baik meskipun tidak memenuhi semua permintaan mereka. Oleh karena itu, perasaan orang lain memang penting, tetapi perasaan dan kebutuhan diri sendiri juga patut dipikirkan.

Belajar Memahami Keinginan Diri Sendirii

Akhirnya, merasa tidak nyaman saat menolak permintaan orang lain adalah sesuatu yang bisa terjadi pada kita. Kita mungkin ingin mempertahankan hubungan yang baik, membuat teman merasa lebih nyaman, atau menghindari kemungkinan membuat seseorang kecewa. Namun, kadang kita lupa bahwa diri sendiri juga memiliki keinginan dan kebutuhan yang perlu diperhatikan karena terlalu ingin menyenangkan orang lain.

Menjadi teman yang baik tidak berarti kita harus setuju dengan semua apa yang diminta oleh orang lain. Perasaan orang lain memang penting, tapi tidak berarti perasaan kita sendiri tidak penting.

Jadi, Sobat Sunners, coba ingat lagi keputusan-keputusan yang pernah kamu ambil. Ketika kamu bilang “iya” ke orang lain, apakah kamu benar-benar mau melakukannya, atau cuma karena merasa tidak nyaman kalau harus menolak? Tidak apa-apa kalau mulai memahami perasaan itu, karena ingin menjaga perasaan orang lain tidak boleh sampai membuat kita lupa akan perasaan diri sendiri.

*****

Majalah Sunday, Teman Memahami Tips Belajar, Edukasi Seksual dan Kesehatan Mental, Mengapa Menunda Belajar Sering Terjadi, Padahal Kita Sudah Paham Materinya

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.

Ikutan berkarya di
Majalah Sunday

Views: 2