Penulis: Aqilla Barki Firdaus – Universitas Syarif Hidayatullah Jakarta
Tahukah kamu bahwa tidak hanya orang luar negeri saja yang memiliki ciri fisik unik, tetapi di Indonesia sendiri ada satu suku yang dikenal dengan fisik khas mereka. Suku Buton, yang berada di wilayah Sulawesi Tenggara, tepatnya di Pulau Buton dan sekitarnya, memiliki sejarah panjang sebagai pelaut dan penjaga tradisi Nusantara. Di balik kehidupan mereka, tersimpan berbagai bentuk kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun. Namun, bukan hanya kemampuan berlayar mereka yang menarik perhatian banyak peneliti, tetapi juga fenomena mata eksotis sebagian anggota suku Buton yang terlihat seperti berwarna biru atau kehijauan. Keunikan inilah yang membuat nama Suku Buton sering muncul dalam perbincangan global. Dalam berbagai dokumentasi, banyak orang kehabisan kata melihat perpaduan wajah khas Nusantara dengan mata yang tampak berbeda dari kebanyakan. Fenomena ini bukan hasil tren modern, melainkan bagian dari perjalanan panjang suku ini sejak zaman Kesultanan Buton.
Secara historis, leluhur Suku Buton diyakini berasal dari para pendatang yang datang dari kawasan Johor pada abad ke-15. Kelompok inilah yang kemudian membentuk Kesultanan Buton di wilayah Baubau, Sulawesi Tenggara, yang bertahan sejak abad ke-16 hingga abad ke-20. Namun, kekuasaan kesultanan tersebut perlahan meredup akibat perselisihan internal dan semakin melemah setelah wafatnya sultan terakhir pada tahun 1960.

Sebagian anggota Suku Buton memiliki mata biru yang sebenarnya berkaitan dengan kondisi genetik langka. Kondisi tersebut dikenal sebagai Sindrom Waardenburg, yaitu kelainan akibat perubahan gen tertentu yang memengaruhi pigmentasi tubuh, termasuk warna mata. Karena itulah, tidak mengherankan jika ada anak-anak Buton yang mempunyai dua warna mata berbeda. Misalnya, satu mata tampak biru cerah, sementara mata lainnya berwarna coklat seperti warna mata masyarakat Indonesia pada umumnya. Meski begitu, ada juga individu yang memiliki mata biru murni karena faktor keturunan dan bukan karena kelainan genetik. Fenomena ini semakin menarik karena terjadi pada kelompok suku yang secara umum memiliki ciri-ciri fisik khas Indonesia Timur. Banyak ahli menyebut bahwa perubahan pigmen seperti ini tidak berbahaya dan tidak berkaitan dengan masalah kesehatan. Justru, hal tersebut menjadi bukti bahwa keragaman biologis manusia itu sangat luas. Fakta-fakta tersebut membuat mata eksotis Suku Buton menjadi salah satu topik yang sering dibicarakan.

Memahami kisah Suku Buton, mulai dari sejarah, budaya, hingga fenomena mata eksotis mereka adalah langkah penting bagi kita untuk semakin mengenal kekayaan bangsa sendiri. Di era ketika informasi mudah tersebar, para remaja Indonesia perlu lebih bangga pada keragaman suku di Nusantara, termasuk Suku Buton yang telah memberi warna unik dalam mosaik budaya Indonesia. Keistimewaan mereka bukan hanya membuat Indonesia dikenal luas, tetapi juga menjadi pengingat bahwa keberagaman adalah kekuatan kita. Dengan mengenali dan menghargai keunikan setiap suku, termasuk suku yang menyimpan kearifan lokal seperti Buton, kita bisa menumbuhkan rasa bangga dan semangat untuk menjaga warisan budaya agar tetap hidup di masa depan.
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.