Majalah Sunday

Senyum Getir 10 November

Aku tersenyum getir saat melihat foto-foto pahlawan yang terpajang tinggi-tinggi di dinding koridor sekolah anakku dengan gagahnya, berbingkaikan emas – walau hanya cat, dan sedikit berdebu. Hari ini tanggal 9 November, tidak ada yang spesial memang di tanggal ini, seperti biasa aku menjemput anakku setiap pulang sekolah karena kebetulan kantorku berdekatan dengan sekolahnya. Tapi hari ini tidak seperti biasanya, terlebih lagi besok. Hari ini, setelah menemui anakku dan menggandengnya, aku lantas melangkahkan kakiku menemui wali kelasnya. Seperti tahun-tahun yang lalu, aku meminta izin agar anakku diperbolehkan tidak mengikuti pembelajaran besok. Ya.. besok, tanggal 10 November, bertepatan dengan hari pahlawan.

“Izin untuk apa ya Pak?”, Baiklah, aku memaksakan senyumku yang getir, tentu guru ini harus tahu alasan kenapa anakku izin karena dia wali kelasnya, tidak karena penasaran karena tiap tahun di tanggal 10 November anakku izin bukan?.

“Kami sekeluarga besar akan mengadakan upacara sendiri setiap tanggal 10 November di pemakaman kakek buyutnya”, hanya itu yang bisa kulontarkan, dan seperti biasa, pasti responnya berupa kesalahpahaman.

“Wahh kakek buyut kamu pahlawan ya? Hebat, nanti kalau kamu sudah besar jadi pahlawan juga ya seperti kakek buyutmu.” Ujar guru itu kepada anakku yang sedari tadi kugandeng. Anakku hanya tersenyum cerah seperti biasanya, bahkan dia saja tidak tahu bagaimana caranya jadi pahlawan, yang benar saja.

Tentu tebakanku benar, guru ini pasti salah paham.

***

 

Nissinkai, organisasi politik yang dibentuk Jepang di Kalimantan Barat.

Pembentukan organisasi tersebut tentu saja hanya sebagai usaha untuk memungut simpati rakyat Kalimantan yang saat itu sudah mulai geram dengan Jepang. Namun, bagai senjata makan tuan, rupanya di balik organisasi yang sebagian besar berisi bangsawan dan cendekiawan tersebut, dibentuk gerakan bawah tanah yang disebut Gerakan 69.

Pemberontakan pertama gerakan tersebut meletus pada tahun 1943, namun bukan di Kalimantan Barat, melainkan di Kalimantan Selatan. Kaum cendekiawan dan bangsawan tersebut mengirim seorang diantaranya untuk singgah ke Kalimantan Selatan untuk mengumpulkan kekuatan. Nanjan Aryaradja, bukan keturunan bangsawan, namun sebelum menikah ia asli Kalimantan Selatan dan cukup berpengaruh di sana. Ia ditugaskan untuk mengumpulkan para cendekiawan di Kalimantan Selatan. Karena pergerakan di Kalimantan Selatan bukan gerakan bawah tanah seperti di Kalimantan Barat, setelah terkumpul kekuatan, terjadilah pemberontakan pada markas Jepang di Kalimantan Selatan.

Namun, Nanjan Aryaradja tiba-tiba menghilang 5 bulan setelah pemberontakan di Kalimantan Selatan, bahkan tidak ditemukan di pelosok manapun di Kalimantan Barat. Hal ini membuat gerakan bawah tanah 69 di Kalimantan Barat tidak bisa berkutik. Pemberontakan ditunda hingga waktu yang tidak ditentukan.

***

Peristiwa Mandor Berdarah pada tanggal 28 Juni 1944 di Pontianak, Kalimantan Barat.

Nanjan Aryaradja dibawa ke hutan yang entah di mana. Disekap di rumah tua penuh debu dan dikelilingi pasukan Jepang dengan senapan yang bisa bersarang di kepala kapanpun. Sudah hampir 3 bulan ia disekap di sana, diberi makan seadanya, bahkan terkadang tidak makan. Selama itu pula pasukan Jepang mencari tahu siapa saja dalang pemberontakan tersebut. Nanjan sudah berkali-kali menerima pukulan bertubi-tubi, namun ia tetap tidak mau membocorkan tentang gerakan 69. Hilang kesabaran, pukulan bertubi- tubi pada tubuh Nanjan tersebut akhirnya bertukar menjadi ancaman nyawa istri dan anaknya. Istri dan anaknya ikut diculik setelah ditemukan bersembunyi di perbatasan Kalimantan Timur.

Pistol telah diarahkan ke kening istri dan anaknya, tinggal satu gerakan telunjuk, Nanjan bisa kehilangan orang yang sangat ia cintai.

“Nissinkai!!!” teriak Nanjan, ia tak bisa jika harus kehilangan keluarganya, bahkan jika bisa ia akan menukarnya dengan nyawanya.

Sehari setelah itu pasukan Jepang yang sibuk merencanakan penangkapan lengah. Nanjan, putra beserta istrinya berhasil kabur. Ia bersyukur masih mengenali hutan tersebut, hutan belantara di Pontianak. Sesampainya di ujung hutan ia berhenti.

“Aku harus ke Mandor sebelum penangkapan terjadi, aku harus memperingati mereka.” Nanjan tidak bisa lagi dicegah, tangisan istri dan anaknya tidak bisa lagi menahan Nanjan untuk menyelamatkan teman-temannya. Baginya, keselamatan nyawa anak dan istrinya sudah cukup, ia tidak lagi memedulikan nyawanya. Setelah menunjukkan jalan kepada istrinya agar aman dari pasukan Jepang, ia bergegas pergi ke tempat berlangsungnya Konferensi Nissinkai ̶ yang ia ketahui dari obrolan pasukan Jepang ̶ berlangsung di tanggal 24 Mei, hari ini.

Sesampainya di gedung tempat berlangsungnya Konferensi Nissinkai ia bergegas masuk. Namun ia telat, teman temannya sudah dibekuk pasukan Jepang, mata mereka juga ditutupi karung goni. Pasukan Jepang lantas langsung membekuk Nanjan di tempat. Mereka beserta kerabat dan keluarganya yang dicurigai terlibat disekap di tempat yang tidak diketahui untuk disidang, puncaknya di tanggal 28 Juni, setelah sidang kilat tersebut mereka langsung dibawa ke pinggir laut dihabisi dengan hujaman peluru atau hunusan pedang.

Setelah pembantaian itu, sebuah koran diterbitkan Jepang berisi berita dengan judul “Komplotan Besar yang Mendurhaka untuk Melawan Dai Nippon Sudah Dibongkar sampai ke Akar-akarnya” juga berita berjudul “ Kepala-kepala Komplotan serta Lain-lainnya Ditembak Mati. Keamanan di Borneo Barat Tenang Kembali dengan Sempurna”, tidak lupa di berita tersebut disertakan kalimat “Nanjan Aryaradja membantu pengamanan Borneo dengan memberitahu pelaku pemberontakan”. Sejak saat itu bagi masyarakat Kalimantan, khususnya bagian Barat, Nanjan Aryadjana merupakan seorang “pembelot”.

***

 

10 November

Hari ini merupakan hari pahlawan. Satu hal yang selalu menjadi pertanyaanku setiap hari peringatan nasional, apakah Nanjan pantas disebut sebagai pahlawan? Lagi-lagi aku hanya tersenyum getir. Didepanku terbentang tiga gundukan tanah, dengan nisan bertuliskan “Nanjan Aryaradja”, “Sanja Maharati”, “Rasyd Aryaradja”. Hanya pusara milik Rasyd Aryadjana yang ‘berisi’, dua pusara lagi sudah dipastikan kosong. Sanja istri dari Nanjan diculik tanpa ada yang tahu, meninggalkan putranya Rasyd sendiri. Pusara tersebut dibuat untuk menghormati dan mengenang ‘pahlawan’ kami. Pahlawan yang tidak akan pernah dipajang fotonya di dinding-dinding sekolah. Pahlawan keluarga kami adalah seorang pembelot.

 

Cerita ini hanya fiktif belaka. Kejadian sejarah dalam cerita ini bukanlah yang sebenarnya terjadi.

 

Kinanti Rizkiarti

Universitas Negeri Jakarta

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chat Now
Selamat Datang di Majalah Sunday, ada yang bisa kami bantu?