Skip to main content

Majalah Sunday

Seni ‘Closure’ Tanpa Harus Bertemu Mantan

Penulis: Tasya Rahma Putri – Universitas Indonesia

Berakhirnya sebuah hubungan romantis kerap menyisakan dorongan kuat untuk mencari closure dengan mengajak mantan pasangan bertemu. Banyak pertanyaan menggantung di kepala, penyesalan atas hal yang tidak sempat disampaikan, atau keterkejutan karena perpisahan terjadi begitu saja secara sepihak yang menghambat adaptasi menuju lembar hidup yang baru.

Upaya meminta klarifikasi melalui tatap muka pasca-perpisahan sering kali tidak memberikan hasil yang diharapkan. Berhadapan langsung dengan mantan pasangan berisiko memicu perdebatan baru, memperdalam rasa kecewa, atau melahirkan spekulasi-spekulasi baru yang semakin membingungkan. Alhasil, pertemuan yang digadang-gadang memberikan ketenangan justru berujung pada kebingungan yang berkepanjangan.

Untuk itu, alih-alih menunggu penjelasan dari pihak luar yang belum tentu jujur, berbagai langkah-langkah di bawah ini bisa kamu coba untuk meraih ketenangan yang utuh tanpa membuka kembali pintu komunikasi dengan mantan pasangan.

Apa Itu Closure setelah Putus Cinta?

Closure secara harfiah berarti penutupan. Dalam percintaan, closure adalah proses atau keadaan untuk menerima, merelakan, dan mendapatkan rasa damai serta kejelasan setelah suatu hubungan atau situasi yang menyakitkan berakhir.

Proses pemulihan pasca-putus memiliki ritme yang berbeda pada setiap orang. Tidak berarti semua ingatan tentang mantan langsung terhapus bersih, closure adalah perubahan sudut pandang melihat masa lalu tanpa terus-menerus tersiksa oleh perpisahan sehingga tidak lagi memicu reaksi negatif yang mengganggu hidup sehari-hari.

ilustrasi closure setelah putus cinta

Mengapa Kita Masih Merasa Butuh Closure?

Perpisahan yang terjadi tanpa penjelasan memadai terkadang memaksa seseorang terus berkutat dengan situasi tersebut sebagai sebuah teka-teki yang belum tuntas. Ketiadaan fakta yang jelas mendorong timbulnya dorongan internal untuk mengisi ruang kosong tersebut dengan spekulasi berulang.

Kondisi diperparah oleh kebiasaan memutar ulang memori dan merangkai berbagai skenario pengandaian di dalam pikiran. Berbagai pertanyaan mengenai apa yang seharusnya bisa diubah atau bagaimana jika sebuah kejadian tidak terjadi terus memicu proses berpikir yang berputar-putar tanpa solusi.

Perpisahan juga membawa dampak pada runtuhnya proyeksi masa depan yang telah dirancang bersama. Kebutuhan closure sebenarnya merupakan manifestasi dari tantangan dalam menyesuaikan diri dengan perubahan struktur kehidupan yang mendadak.

ilustrasi closure melalui expressive writing dan unsent letter
Menulis menjadi cara yang sangat efektif untuk mengenali dan mengurai benang kusut perasaan. (Gambar: Pexels)

Enam Langkah Membangun Closure
Tanpa Harus Bertemu Mantan

Proses closure secara mandiri dapat kamu bangun melalui beberapa langkah ini:

1. Melepaskan The Need for Answers

Merelakan the need of answers ( kebutuhan akan jawaban) adalah langkah awal yang melibatkan penerimaan terhadap ketidakpastian meskipun masih banyak pertanyaan yang belum terjawab. Hal yang sering kali membuat seseorang semakin tersiksa adalah asumsi dan spekulasi yang diciptakan sendiri di dalam kepala. Oleh sebab itu, kuncinya adalah pisahkan secara tegas mana yang merupakan fakta tentang alasan berakhirnya hubungan  dan mana yang masih berupa dugaan, tebakan, atau spekulasi pribadi.

Melepaskan the need for answers adalah berhenti merawat spekulasi-spekulasi tersebut, lalu memilih untuk berdamai dengan kenyataan bahwa hubungan memang telah selesai tanpa mengejar penjelasan tambahan dari pihak mantan.

2. Mengurai Emosi lewat Unsent Letter

Metode expressive writing dapat diterapkan dengan membuat unsent letter (surat yang ditulis khusus untuk diri sendiri dan tidak pernah ditujukan untuk dikirim). Menulis menjadi cara yang sangat efektif untuk mengenali dan mengurai benang kusut perasaan. Semua hal yang belum sempat terucap dapat dituliskan secara bebas tanpa membuka kembali jalur komunikasi dengan mantan pasangan. 

Kamu dapat memulainya dengan: (1) menuliskan hal-hal yang masih mengganjal, baik berupa kemarahan, kekecewaan, kerinduan, maupun pertanyaan yang tak tersampaikan; (2) menceritakan apa yang dahulu diharapkan dari hubungan tersebut dan pelajaran apa yang diambil setelah semuanya berakhir; (3) mengakhiri tulisan dengan menyebutkan hal-hal yang ingin dilepaskan dan keputusan yang ingin diambil untuk kebaikan diri sendiri ke depan.

3. Tentukan Batasan Kontak

Proses pemulihan membutuhkan perlindungan dari pemicu memori yang tidak perlu. Memantau media sosial mantan pasangan, memeriksa pembaruan aktivitasnya, atau membaca ulang arsip percakapan lama secara konstan menarik fokus perhatian kembali pada hubungan yang telah runtuh dan memicu spekulasi-spekulasi baru.  

Cobalah lakukan:

  • menerapkan fitur unfollow, block, atau mute pada seluruh platform media sosial;
  • mengarsip atau menghapus riwayat pesan;
  • menolak dorongan untuk mencari informasi tentang mantan pasangan melalui teman sebaya atau jejaring sosial sekitar.

4. Mengelola Grief Work & Ritual of Separation

Berdasarkan konsep Task of Mourning dari William Worden, perpisahan merupakan bentuk proses berduka atas hilangnya sosok penting beserta rutinitas yang menyertainya. Grief work adalah proses aktif untuk mengakui keberadaan rasa duka tersebut dan mengolah rasa sakit yang muncul alih-alih menekan atau berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Agar proses berduka ini dapat berjalan tuntas, pikiran membutuhkan penanda fisik yang jelas untuk menegaskan bahwa sebuah fase kehidupan telah resmi berakhir. 

Tindakan fisik tersebut memberikan sinyal yang tegas kepada pikiran bahwa ruang personal telah dibersihkan dari keterikatan masa lalu. Ini dinamakan ritual of separation yang dapat kamu lakukan dengan: (1) mengumpulkan seluruh barang peninggalan, foto cetak, hadiah, atau benda yang memiliki nilai kenangan dalam satu wadah khusus; (2) mengembalikannya secara rapi tanpa perjumpaan, membuangnya, atau menyegel kotak tersebut rapat-rapat; (3) simpan atau buang wadah tersegel itu di area yang benar-benar tersembunyi dan tidak pernah terlihat dalam aktivitas harian

ilustrasi closure melalui grief work dan ritual separation
Closure dengan mengakhiri keterikatan pada masa lalu melalui pelepasan barang kenangan. (Gambar: Pexels)

5. Menerapkan De-centering & Memutus Idealization Bias

Pasca-perpisahan, memori manusia cenderung memutar kembali kenangan-kenangan manis dan melupakan konflik yang pernah terjadi. Ini memicu idealization bias, yaitu kondisi ketika sosok mantan pasangan atau kenangan hubungan sebelumnya digambarkan seolah tanpa cela sehingga perpisahan terasa sangat berat dan tidak adil. Untuk memutus bias tersebut, diperlukan teknik de-centering, yaitu kemampuan melepaskan diri dari pusaran emosi pribadi agar melihat hubungan masa lalu secara objektif dari sudut pandang  yang netral.

Untuk memutus bias tersebut, kamu dapat membuat sebuah catatan faktual yang berisi daftar ketidakcocokan prinsip, komunikasi yang buruk, rincian konflik yang terus berulang tanpa solusi, dan bentuk perlakuan buruk atau ketidakpedulian yang pernah terjadi selama hubungan berlangsung. Baca catatan ini saat pikiran mulai meromantisasi masa lalu.

6. Membangun Kembali Kehidupan

Tahap akhir dari pemulihan mandiri adalah mengalihkan seluruh fokus, waktu, dan energi yang sebelumnya tercurah pada hubungan menuju pembangunan kembali kehidupan pribadi. Kembalikan fokus, waktu, dan energi pada pengembangan potensi pribadi (mempelajari keterampilan baru atau menekuni hobi yang sempat tertunda, perluasan jejaring sosial, mengejar target akademis atau karier, dan aktivitas lainnya yang memberi nilai tambah di luar urusan asmara. 

Tidak Semua Akhir Membutuhkan Pertemuan Terakhir

Menyimpan rasa duka atas sebuah perpisahan merupakan reaksi yang wajar dan tidak menandakan kegagalan menerima kenyataan. Closure yang utuh dapat dibangun secara mandiri melalui penerimaan terhadap perpisahan dan pengolahan emosi yang sehat. 

Produk Rekomendasi Sunday

Bertemu dengan mantan pasangan bukan satu-satunya cara dan sering kali bukan pilihan terbaik untuk menyelesaikan masa lalu. Kepastian dan ketenangan yang dicari pada dasarnya berada penuh di bawah kendali pribadi. Apabila proses duka terasa sangat berat hingga mengganggu  produktivitas harian secara signifikan, berkonsultasi dengan pihak tepercaya atau tenaga profesional merupakan langkah yang sangat disarankan.

Jadi, Sunners, cobalah meluangkan waktu sejenak untuk menerapkan metode expressive writing. Ambil selembar kertas atau buka lembar catatan pribadi, lalu tuliskan satu pesan atau unek-unek yang paling mengganjal di dalam dada saat ini sebagai tanda dimulainya proses pelepasan secara mandiri.

*****

Majalah Sunday, Teman Memahami Tips Belajar, Edukasi Seksual dan Kesehatan Mental

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.

Ikutan berkarya di
Majalah Sunday

Views: 1