Penulis: Latisha Adenia Putri – Universitas Negeri Surabaya
Sunners, kalian pernah gak menjadi orang yang perfeksionis untuk segala aspek? Dimana kalian mau mencapai target yang diinginkan tapi nyatanya gak sesuai dengan hasilnya? Kemudian, pada saat kalian tahu hal itu terjadi, dalam diri kalian langsung muncul perasaan kesal dan marah. Bukan kepada orang lain tapi terhadap diri sendiri akibat nggak berhasil untuk meraih target tersebut. Jika hal itu pernah terjadi, maka kemungkinan kalian mengalami self-abandonment.
Istilah ini asing gak, Sunners? Kalau asing, disini kalian akan mengetahui istilah tersebut apa, bagaimana bisa muncul dalam diri kita, serta cara untuk kita bisa mengobatinya. Yuk simak baik-baik!

Self-Abandonment merupakan suatu kondisi dimana kita mulai meninggalkan diri sendiri akibat memori dan momen tertentu yang dapat terus diingat dalam benak kita. Perasaan yang apapun orang lain bilang ke kita merupakan fakta, yang bisa aja kita bisa lebih baik dari itu. Perasaan yang benar-benar dapat mengabaikan diri sendiri akibat rasa yang tertinggal sehingga bisa membuat kita stress, overthinking, dan lain-lain.
Lalu, gimana sebenarnya bisa muncul? Sekarang kita lihat bagaimananya setelah ini ya.
Self-Abandonment merupakan suatu kondisi dimana kita mulai meninggalkan diri sendiri akibat hal-hal yang menyakitkan, menakutkan, dan buruk terjadi pada diri kita sendiri. Perasaan yang mungkin kalian udah tahu sebelumnya yaitu dengan lebih memikirkan orang lain tanpa memikirkan diri sendiri, nggak menyuarakan pendapat dan lebih memilih diam, merasa gak berhak untuk bahagia, dan lain-lain. Perasaan yang benar-benar mengabaikan diri sendiri akibat rasa yang tertinggal akibat banyak hal yang terjadi.
Lalu, gimana sebenarnya bisa muncul? Sekarang kita lihat bagaimananya setelah ini ya.
Setelah kita tahu apa itu self-abandonment dan awal mula munculnya darimana, disini akan dikasih contoh-contohnya agar kalian dapat lebih paham mengenai perasaan ini:
Kalian pasti pernah hangout bareng teman kalian, bukan? Sebagai contoh terkadang jalan-jalan, shopping, bahkan nonton film di mall. Lalu, ternyata kalian dengan teman kalian mempunyai kesukaan genre film yang berbeda. Teman kalian sukanya nonton horror dan kalian lebih suka kalau nonton film romance. Nah, ketika kalian berada di bioskop, terdapat berbagai banyak genre film dan tentu teman kalian memilih film horror.
Lalu, apa tanggapan kalian? Kalau kita dalam keadaan yang baik, tentu kita akan menolak dan meminta nonton film yang lain. Sedangkan, kalau kita mempunyai perasaan ini, tentu kita akan mengikuti kemauan mereka aja karena lebih mementingkan orang lain dibandingkan diri sendiri.
Pada saat kalian pernah dong kerja kelompok untuk mata pelajaran tertentu? Sebagai contoh kalian harus kerja kelompok, kemudian mendebatkan harus dimana kalian kerja kelompok. Akan banyak sekali usulan yang muncul seperti di rumah, kafe, dan lain-lain. Lalu, gimana untuk menanggapinya? Biasanya kita akan ikut bersuara untuk setuju dengan siapa atau membuat pilihan lain. Lalu, untuk yang mengalami hal ini hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah katapun karena takut untuk mengeluarkan pendapat, takut kalau pendapatnya nggak akan didengar oleh teman-temannya meskipun mungkin dapat menyelesaikan perdebatan.
Kurang lebih, dua contoh tersebut dapat mewakili agar kita dapat lebih paham dengan self-abandonment. Terus, gimana agar kita bisa pulih?

Sebenarnya, untuk kita coba pulih dalam situasi seperti ini sangatlah susah. Namun, bukan berarti kita nggak bisa untuk sembuh. Proses yang akan dilakukan sangatlah panjang sehingga sangat dibutuhkan untuk orang lain mendukung kondisi tersebut. Lalu, bagaimana sih caranya agar kita bisa pulih dari self-abandonment ini? Kita bisa menerapkan hal ini, menurut Growth Thru Change:
Hal pertama yang dilakukan harus berasal dari kita untuk mengetahui dan validasi perasaan kita terkait pengalaman-pengalaman sebelumnya. Kita bisa mulai pelan-pelan menulis apa yang kita rasakan melalui jurnal seperti menulis tentang emosi apa aja yang masih sulit untuk dikendalikan dan kapan waktu aku ngerasa kalau aku ‘nggak cukup’ untuk semuanya.
Kita bisa pelan-pelan untuk meregulasikan perasaan kita dengan latihan tarik dan buang napas, meditasi agar nggak berpikir yang negatif, jalan-jalan atau stretching agar gak stress, dan lainnya.
Dalam self-abandonment, kita masih terbiasa dengan hal-hal negatif sehingga agar bisa membangun ulang kepercayaan yaitu dengan mulai mencintai diri sendiri dan coba untuk bagi perasaan kita kepada orang lain, pelan-pelan bisa mulai terbuka dan mulai sembuh.
Gak cuma nulis di jurnal, terbuka dengan orang lain, tapi jika dirasa masih kurang bisa banget untuk coba terbuka ke psikolog maupun psikiater. Dengan adanya bantuan dari mereka, pasti kita yang mengalami ini akan bisa jauh lebih baik dan mau untuk berhubungan dengan orang lain.
Meskipun masalah ini tergolong susah akibat kita masih terpaku dengan masalah-masalah tersebut, tetapi kita masih bisa kok untuk coba mengikhlaskan masalah tersebut dengan pelan-pelan bisa dilupakan, tinggalkan, dan lain-lain. Kita masih bisa kok untuk berdamai dengan ikut support group gitu, mengekspresikan perasaan kita melalui tulisan, dan membuat space untuk diri sendiri agar kita sembuh dan berkembang.

Self-Abandonment bukanlah hal yang mudah untuk kita jalani setiap harinya. Namun, dengan kita yang mulai pelan-pelan membangun rasa percaya pada diri sendiri dan mau mencoba untuk mengambil risiko atas pilihan yang kita pilih sendiri merupakan suatu progres dalam penyembuhan. Dengan adanya dukungan dan kemauan, kita pasti dapat melewatinya dengan baik meskipun tetap akan terjadinya hal baik ataupun buruk.
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.