Penulis: Indira Salsabila – SMAN 1 Gebog
Siapa yang tidak mengenal Monas, tugu ikonik dengan lidah api berlapis emas yang menjulang tinggi di jantung ibu kota?
Namun, di balik kemilauan emas seberat 50 kilogram tersebut, tersimpan lapisan sejarah yang jarang dibicarakan di buku sekolah.
Apa benar Monas murni simbol kejayaan ataukah ia merupakan monumen ambisi yang dipaksakan saat rakyat sedang bertaruh nyawa demi sepiring nasi?
Pembangunan Monumen Nasional atau Monas dimulai pada 17 Agustus 1961.
Saat itu, Presiden Soekarno memiliki visi besar untuk membangun “National Monument” yang setara dengan Eiffel Tower atau Washington Monument.
Beliau ingin menunjukkan pada dunia bahwa Indonesia adalah bangsa yang besar dan berdaulat.
Namun, realita tidak seindah bayangan.
Kondisi ekonomi Indonesia pada awal 1960-an sedang berada di titik nadir. Inflasi meroket tajam, dan harga kebutuhan pokok melambung tinggi.
Banyak pihak, baik dari dalam maupun luar negeri, mengkritik proyek ini sebagai proyek mercusuar yang tidak realistis.
Bayangkan saja, di saat antrean beras mengular dan kemiskinan merajalela, pemerintah justru mengucurkan dana jutaan dolar untuk mendatangkan marmer dari Italia dan membangun struktur beton yang masif.

Menariknya, rancangan Monas tidak lahir dari satu tangan saja. Soekarno mengadakan sayembara untuk mencari desain terbaik.
Namun, sejarah mencatat sebuah fakta unik, di mana tidak ada satu pun pemenang utama dalam sayembara tersebut yang desainnya langsung dipakai secara utuh.
Arsitek Frederich Silaban dan R.M. Soedarsono akhirnya harus berkolaborasi di bawah arahan ketat Bung Karno. Sang Proklamator dikenal sangat detail dan perfeksionis. Ia menolak desain yang dianggap “terlalu biasa”.
Kekejaman dalam hal ini mungkin bukan berupa fisik, melainkan tekanan mental dan standar yang nyaris mustahil dipenuhi di tengah keterbatasan alat konstruksi saat itu.
Pembangunan ini menjadi saksi bisu bagaimana obsesi seorang pemimpin bisa melampaui logika ekonomi negaranya.
Satu hal yang paling sering memicu perdebatan dalam sejarah gelap Monas adalah asal-usul emasnya.
Pada awal pembangunannya, emas yang digunakan adalah seberat 32 kilogram (sebelum akhirnya ditambah menjadi 50 kilogram).
Emas tersebut merupakan sumbangan dari para pengusaha dan rakyat Aceh, salah satunya adalah Teuku Markam.
Namun, di balik sumbangan tersebut, ada ironi yang menyakitkan.
Di berbagai pelosok negeri, rakyat sedang mengalami busung lapar. Proyek ini dianggap sebagai bentuk ketidakpedulian pemerintah terhadap penderitaan rakyat kecil.
Kritik pedas berdatangan, menyebut bahwa tugu tersebut dibangun di atas penderitaan perut yang kosong.
Dana yang seharusnya bisa digunakan untuk menstabilkan harga pangan justru terbakar demi membangun lidah api di puncak tugu.
Selain sejarah politik dan ekonominya, Monas juga menyimpan sisi misterius yang menyelimuti proses pembangunannya.
Konon, ada banyak cerita mengenai para pekerja yang harus bekerja lembur tanpa henti di bawah tekanan target politik.
Beberapa warga senior di Jakarta bahkan sering mengaitkan area lapangan Ikada (sekarang kawasan Monas) dengan energi yang “berat”.
Selain itu, bentuk lingga dan yoni pada desain Monas bukan sekadar simbol kesuburan, melainkan juga simbol kekuatan spiritual yang ingin ditanamkan Soekarno untuk memproteksi Jakarta dari pengaruh luar.

Jika kita melihat dari perspektif sejarah, pembangunan ini memang berhasil memberikan rasa bangga pada identitas nasional.
Indonesia memiliki ikon yang dikenal dunia. Namun, harga yang harus dibayar sangatlah mahal.
Pemerintah saat itu dianggap “kejam” bukan karena melakukan penyiksaan fisik, melainkan karena memprioritaskan estetika dan prestise di atas urusan perut rakyatnya.
Monas menjadi pengingat abadi bahwa kemegahan sebuah bangsa seringkali dibangun di atas fondasi pengorbanan rakyat yang paling bawah.
Monas bukan sekadar tugu di pusat Jakarta. Di balik kemegahannya, tersimpan sejarah panjang yang penuh ambisi, kontroversi, dan sisi gelap yang jarang dibahas secara terbuka.
Monas bukan hanya simbol nasional, tetapi juga cermin dari dinamika kekuasaan dan kondisi sosial pada masanya.
Memahami sejarah Monas secara lebih utuh membantu melihat bahwa simbol negara tidak selalu lahir dari situasi ideal. Ada keputusan besar, pengorbanan, dan realitas pahit yang ikut membentuknya.
Dari sini, Monas dapat dibaca bukan hanya sebagai monumen, tetapi juga sebagai pengingat akan pentingnya keadilan dan kesejahteraan dalam setiap pembangunan.
Setelah mengetahui sisi lain dari sejarah Monas ini, bagaimana pendapatmu?
Apakah Monas tetap dimaknai sebagai simbol kebanggaan, atau justru memunculkan sudut pandang baru? Tulis pandanganmu di kolom komentar, ya!
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.