Majalah Sunday

Sebuah Puisi - Perahu Kertas

Penulis: Helen Luo

Cintaku bak sebuah perahu kertas, terombang ambing di perairan tanpa tahu di manakah akan berlabuh dan penuh kegelisahan.

Sebuah Puisi - Perahu Kertas

Hari ini, ku ambil sebuah kertas lusuh.
Ia tampak kotor, buruk, layak dibuang.
Namun, dalam kertas tersebut masih nampak guratan jari yang menyisakan kenangan.

Tulisan itu,
membuatku merasa kertas itu tak layak untuk dibuang.
Beribu kenangan tersimpan dalam selembar kertas itu.

Air mata perlahan menetes,
mengingat hal indah yang pernah hadir.
Rasanya langit pun ikut bersedih,
menjatuhkan hujan yang teramat deras.

Kertas tersebut kulipat menjadi sebuah perahu kecil,
kuletakkan di atas sebuah genangan air hujan.
Berharap perahu itu sampai kepada seseorang yang pernah menulisnya.
Sebuah Cerpen - Perahu Kertas

SEBUAH SEPEDA ONTEL

Kalian pasti bertanya-tanya mengapa ayah dan bunda memberikan itu kepadaku. Aku pun tidak memahaminya. 
Kata bunda “Kamu sudah cukup umur untuk punya hubungan yang lebih dari sekedar sahabat dengan lawan jenis. Cari dia yang mau mengayuh ontel tua ini.”
“Iya, sama seperti dulu ayah pacaran dengan bunda. Naik ontel di tepi danau”
Yahh.. mereka malah flashback hahaha. Cukup aneh sih, masa mau punya  pacar saja harus mau naik sepeda kuno itu. Ya sudah deh, pemberian orang tua harus dihargai. Tetapi ada baiknya sih. Semenjak hari itu, aku jadi tidak ragu untuk berteman dengan banyak laki-laki. Hari demi hari, aku semakin dekat dengan Angga dan Raden. Mereka adalah 2 teman yang hubungannya sudah seperti lebih dari sahabat. Gosip memang berjalan sangat cepat. Aku mendengar banyak yang membicarakan diriku terlibat cinta segitiga. Memang, aku pun mendengar dari teman-teman Angga dan Raden perihal perasaan mereka padaku. Tapi, mengapa harus kupikirkan? Jodoh pasti ‘kan bertemu. 
Kukayuh Cintaku di Ontel Tua
14 Februari
Kubuka tirai jendelaku “Loh Angga?!” Seruku terkejut sambil berlari menuju Angga yang sedang berdiri di depan rumah dengan mobil mewahnya, setangkai bunga dan cokelat. 
“Ada apa pagi-pagi kemari, itu buat aku yaa?” Ledekku.
“Will you be my valentine?” Ucapnya tanpa basa-basi.
“Hmm..” Aku terdiam, bingung, tak bisa menjawab.
Tiba-tiba, sebuah motor mendarat di depan rumah. “Wah Raden, ayuk Angga, Raden kita masuk. Ehehe”
‘Untung ada Raden’ pikirku, sehingga aku tak perlu menjawab pertanyaan Angga terlebih dahulu.
“Happy valentine Mawar, maaf hari ini aku cuma bawa lolipop,” Raden mengeluarkan setangkai lolipop dari sakunya. “Tapi, aku mau bicara sesuatu, serius, biar Angga di sini aja.. dia jadi saksi. Kamu mau gak? Jadi.. pacar aku?”
“Maksud lo apa ya Den?!”
“Loh kenapa Ngga?”
“Udah! Udah!”
Dua orang ini benar-benar membuatku gila! Aku harus bagaimana?
“Ada apa ribut pagi-pagi ini?”
“Bunda??”
Sepertinya bunda sudah mendengar semua dari dalam rumah.
“Kalian ingin jadi pacar anak saya?”
“Eh..h.. iya tante”
“Kayuh sepeda ontel tua ini di jalan sekitar mall yang ada di sana, biar bunda yang menilai dan memilih untuk Mawar”
Ternyata mama serius tentang apa yang dia bicarakan saat ku berulang tahun. Tapi mengapa itu tantangannya? Bukankah terlalu mudah?
“Maaf tante, Angga tidak bisa. Banyak teman-teman Angga yang hangout di sana. Angga malu, apakah tidak ada tantangan lain?”
“Baik, Raden apakah kamu sanggup?”
“Saya bisa melakukan hal sesederhana itu. Bukankah itu tantangan yang terlalu mudah? Tidak ada rintangan.”
Kemudian kami melihat Raden melakukannya, selagi mengamatinya, Angga masih mencoba membujuk bunda karena tahu bahwa Raden akan memenangkannya.
“Tante, saya bisa buat Mawar hidup bahagia, tanpa suatu kekurangan apapun.” Namun tidak direspon.
Akhirnya setibanya Raden di rumah Mawar, bunda lalu memegang tangan Raden dan menyatukannya dengan Mawar. “Ini dia yang cocok denganmu. Orang yang siap hidup susah, dan tak akan meninggalkanmu dalam kesulitannya.”

*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.

Ikutan berkarya di
Majalah Sunday

Post Views: 1