Penulis: Ayu Anjani – Universitas Pendidikan Indonesia
Relasi keluarga remaja itu sering terlihat baik-baik saja,
Padahal di dalamnya ada lelah yang tak terucap,
Tentang langkah yang terus dipaksa untuk kuat,
Meski hati diam-diam mulai retak.
Tekanan ekspektasi orang tua hadir tanpa suara,
Menyusup lewat pertanyaan sederhana,
Nilaimu atau IPK mu berapa?
Tanpa pernah bertanya, Nak, kamu kenapa?
Aku belajar tersenyum di waktu yang salah,
Menyembunyikan gelisah di balik kata aman,
Padahal di dada, ada riuh yang tak mau kehilangan arah,
Menghantui diri dari rasa gagal dan takut akan proses perjuangan.
Komunikasi keluarga terasa seperti lorong yang sangat panjang,
Aku ingin berbicara, tapi takut disalahpahami,
Aku ingin didengar, tapi khawatir dianggap bawang,
Hingga akhirnya aku memilih untuk diam sebagai ruang mimpi.
Aku lelah mengejar arti cukup yang tak pasti,
Standar itu terus berubah tanpa henti,
Setiap usaha terasa kurang berarti,
Meski sudah jatuh bangun sendiri.

Namun aku masih ingin percaya pada rumah,
Meski kadang terasa asing dan rapuh,
Tempat yang seharusnya jadi arah pulang yang utuh,
Justru menjadi ruang yang membuatku seolah jatuh.
Aku tidak ingin sempurna di mata siapapun,
Aku hanya ingin diterima apa adanya,
Tanpa harus menjadi bayangan harapan yang turun-temurun,
Tanpa kehilangan diriku yang sebenarnya.
Di luar sana banyak yang sama sepertiku,
Berjuang dalam diam tanpa ragu,
Menyimpan lelah yang tak pernah tahu waktu,
Dan berharap rumah jadi tempat pulang yang baru.
Perlahan aku belajar untuk jujur pada rasa,
Meski suara ini masih terbata-bata,
Menyusun keberanian dari luka yang ada,
Agar suatu hari bisa benar-benar bicara.
Jika nanti aku berani membuka suara,
Tolong dengarkan aku tanpa prasangka,
Aku tidak sedang melawan arah keluarga,
Aku hanya ingin dimengerti seutuhnya.
Puisi ini mengajak kita untuk tidak terus berpura-pura kuat sendirian. Merasa lelah, takut, atau belum cukup itu wajar dan sepenuhnya valid. Namun, perasaan tersebut sebaiknya tidak dipendam terus-menerus. Cobalah Sunners secara perlahan untuk berani jujur dan membangun komunikasi, karena setiap orang berhak untuk didengar, bukan hanya dituntut. Ingat, kamu tidak sendiri, dan menjadi diri sendiri bukanlah kesalahan, melainkan bagian dari proses untuk bertumbuh menjadi versi terbaik dirimu.
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.