Majalah Sunday

Sebuah Cerpen - Uang Kembalian

Penulis: Lubna Apdria Kuwaysa – SMKN 48 Jakarta

Bel istirahat sudah berbunyi dan semua siswa mulai keluar dari kelas menuju kantin, surga bagi makanan dan minuman yang ada di sekolah.  Di saat inilah siswa-siswi berada di kondisi  yang sama seperti  perut bunyi, kepala panas, logika turun drastis. Di fase inilah keputusan-keputusan aneh lahir, termasuk tragedi kecil yang melibatkan uang kembalian, dua siswi, dan sebungkus mi instan rasa ayam bawang.

Mai duduk di bangkunya sambil menopang dagu. Matanya kosong, pikirannya juga. Sejak pelajaran matematika tadi, otaknya seperti ditinggal cuti. Di dalam tasnya ada uang Rp32.000,00. Tapi yang ada di sakunya sekarang cuma Rp22.000,00: selembar Rp20.000,00 dan selembar Rp2.000,00. 

Sisanya ketinggalan di kelas karena Mai berpikir, “Ngapain bawa banyak-banyak ke kantin?” Keputusan kecil yang kelihatannya masuk akal, sampai ternyata semesta punya rencana lain.

Wulan muncul di sebelahnya dengan wajah yang sama lelahnya. Rambutnya agak berantakan, matanya setengah tertutup, dan langkahnya berat seperti baru pulang dari perang.

“Aku laper,” katanya datar, lebih mirip pengakuan dosa daripada keluhan.

Mai mengangguk pelan. “Aku juga.”

Mereka saling pandang, lalu tanpa perlu banyak kata, berdiri dan melangkah ke arah kantin. Kantin sekolah itu selalu ramai, aroma mie instan bercampur gorengan dan saus sambal berhembus ke udara. Suara plastik kresek, sendok beradu, dan teriakan pesanan saling tumpang tindih.

Di depan etalase mie instan, Wulan berhenti. Tangannya masuk ke saku rok, lalu keluar membawa selembar uang lima puluh ribu. Ia menatap uang itu seperti menatap musuhnya.

Sampai kalimat keramat itu datang dari Wulan...

“Mai,” Wulan memanggil dengan pelan, “uang cash aku cuma ini.”

Mai menoleh. Ada Rp50.000,00 di tangan Wulan. Uang yang bernilai besar.

“Kayaknya ibu kantin nggak punya kembalian segitu,” kata Mai, setengah sadar setengah ngelantur.

Wulan menghela nafas pasrah,  “Aku pinjam uang kamu dulu, deh. Nanti aku ganti.”

Mai mengangguk tanpa mikir panjang. Otaknya sudah terlalu fokus ke mi instan di depannya. Satu bungkus enam ribu, jadi kalau  dua bungkus Rp12.000,00. Konsep sederhana, harusnya.

Mereka pesan dua mi instan, satu buat Mai, satu buat Wulan. Ibu kantin yang sudah hafal wajah-wajah murid lapar itu bergerak cepat, menuang air panas, menabur bumbu, semuanya dilakukan dengan cepat.

Mai mengeluarkan uang dari sakunya. Selembar Rp20.000,00-an ia letakkan di meja.

“Dua mi, ya,” katanya.

Peristiwa yang dialami setiap remaja sekolah
Mai memberi uangnya ke Ibu Kantin

Ibu kantin melirik uang itu. “Kurang Rp2.000,00, Dek. Tapi kalau nambah Rp2.000,00, nanti kembaliannya Rp10.000,00.”

Kalimat itu masuk ke telinga Mai  lalu mental. Berputar-putar di kepalanya tanpa arah.

“Nambah Rp2.000,00… balik Rp10.000,00…?” Gumam Mai.

Wulan ikut menoleh, otaknya juga sedang tidak di kondisi terbaik.

“Loh, bentar,” kata Wulan. “Kan dua mi Rp12.000,00. Kalau Mai bayar Rp20.000,00, harusnya kembali Rp8.000,00, kan?”

Ibu kantin tersenyum sabar. “Iya, tapi saya nggak punya kembalian Rp8.000,00. Kalau kamu nambah Rp2.000,00, jadi Rp22.000,00, saya kembalikan Rp10.000,00.”

Logika itu valid, sangat valid. Tapi tidak untuk dua orang yang belum makan sejak pagi dan baru saja diserang oleh pelajaran.

Mai menatap uang Rp2.000,00-an di tangannya. Lalu menatap uang Rp20.000,00-an di meja. Lalu menatap mi instan yang sedang mengepul.

“Oke,” katanya akhirnya, “jadi… aku bayar Rp22.000,00.”

Ia menyerahkan uang Rp2.000,00-an itu.

Detik berikutnya, kebingungan dimulai.

Mai tiba-tiba merasa ada yang salah. Bukan salah besar, tapi salah yang mengganjal. Seperti ada rumus yang terlewat. Seperti ada angka yang melompat sendiri.

“Bentar,” katanya lagi. “Kalau aku bayar Rp22.000,00, terus kembali Rp10.000,00… berarti aku keluar duit Rp12.000,00?”

Wulan mengangguk pelan. “Iya. Dua mi Rp12.000,00.”

“Berarti satu mi enam ribu,” lanjut Mai.

“Iya,” jawab Wulan, mulai kehilangan kesabaran tapi masih berusaha sopan.

Mai diam. Otaknya memutar ulang semua angka itu. 22 dikurang 10 sama dengan 12. 12  dibagi dua sama dengan enam. Semua benar. Tapi kenapa rasanya salah?

Kok jadi hitung uang lagi...

Peristiwa yang dialami setiap remaja sekolah
Mai masih kebingungan dengan hitungan uangnya sementara Wulan dan Ibu Kantin heran dengannya.

“Tapi… tapi…,” Mai menggaruk kepalanya. “Aku tadi cuma ngeluarin Rp20.000,00 dan Rp2.000,00. Terus balik Rp10.000,00. Jadi di tanganku nanti ada Rp10.000,00. Padahal aku awalnya punya Rp22.000,00. Kok rasanya kayak uangnya nambah?”

Wulan menutup mata sebentar. “Mai. Tolong. Aku laper.”

Ibu kantin mulai memperhatikan dengan senyum terhibur. Ia sudah sering melihat drama seperti ini. Drama murid lapar dan angka-angka sederhana yang tiba-tiba terasa seperti hitungan  integral.

“Dek,” kata ibu kantin lembut, “Uang kamu nggak nambah. Kamu keluar Rp12.000,00 buat beli dua mi. Sisanya balik ke kamu.”

Mai mengangguk paham sebelum menggeleng lagi.

“Enggak, Bu, aku ngerti itu. Tapi kenapa harus nambah Rp2.000,00 dulu buat dapet Rp10.000,00 balik?”

Wulan mulai menatap langit-langit kantin, seolah mencari kesabaran yang tercecer di sana.

“Karena ibu kantin  nggak punya kembalian Rp8.000,00,” katanya cepat. “Tolong berhenti mikir, Mai.”

Tapi Mai tidak bisa, otaknya sudah terlanjur masuk mode Overthinking.

Ia membayangkan uangnya di kelas,  selembar Rp10.000,00 dan satu Rp2.000,00an. Seandainya ia bawa semua, ini tidak akan terjadi. Semua ini salahnya sendiri.

“Kalau gitu,” katanya pelan, “Uang aku sekarang jadi berapa?”

Wulan menoleh tajam. “Serius nanya?”

Mai menganggukan kepalanya.

“Rp22.000,00 dikurang Rp12.000,00.Jadinya  Rp10.000,00,” jawab Wulan cepat.

Mai terdiam. Menatap uang kembalian Rp10.000,00 yang diletakkan ibu kantin di meja.

“Oh.”

Hening beberapa detik lalu Mai tertawa kecil. Tawa malu, tawa orang yang baru sadar betapa kosongnya kepalanya.

“Maaf,” katanya. “Aku kayaknya terlalu laper.”

Wulan mendesah panjang. “Iya. Aku juga. Otakku kayak mati barusan.”

Ibu kantin ikut tertawa kecil. “Makanya jangan mikir berat-berat kalau perut kosong.”
 
Mereka membawa mi instan ke meja. Uap panas naik, aroma gurih langsung menyerang indra. Begitu suapan pertama masuk mulut, dunia terasa lebih masuk akal.
 
Beberapa menit kemudian, Mai menyadari satu hal penting.
 
“Oh,” katanya sambil mengunyah, “tadi kita ribut cuma gara-gara kembalian Rp10.000,00.”
 
Wulan mengangguk. “Dan gara-gara perut kosong.”
 
Mereka tertawa bersama-sama.
Peristiwa yang dialami setiap remaja sekolah
Akhirnya, masalah tentang uang kembalian telah selesai.

Di kantin yang bising itu, tragedi kecil tentang uang kembalian resmi berakhir, meninggalkan satu pelajaran sederhana: jangan pernah percaya kemampuan berpikir sendiri saat lapar.

Karena orang lapar bisa jadi bego dan dan itu manusiawi.

*****

Majalah Sunday, Teman Memahami Tips Belajar, Edukasi Seksual dan Kesehatan Mental

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.

Ikutan berkarya di
Majalah Sunday

Post Views: 2