Majalah Sunday

Sebuah Cerpen - Dig One’s Grave 

Penulis: Shafa Nurul Azmi P – UPI

Meja rias Chika terlihat sangat penuh, semua makeup tools yang ia kumpulkan sejak tahun lalu berjajar sampai memenuhi setiap celahnya. Ia mulai mengusapkan brush bedaknya yang bisa menyapu setengah dari wajahnya. 

Tiiing… Suara notifikasi muncul di layar ponsel, ternyata salah seorang penonton siaran langsungnya memberikan koin dalam jumlah yang lumayan.

Chika memang salah satu beauty influencer  yang memiliki karakternya sendiri. Di usia yang masih muda dan masih sekolah, Chika bisa mudah memahami bagaimana mengelola target penonton konten yag ia buat. Muda dan banyak disukai orang, mungkin itu yang menjadi disukai, Chika memiliki kulit medium skin tone dan hal itu menjadi bagian dari brandingnya. Ia tak pernah merasa insecure, hal itu justru menjadi bagian dari kekuatannya saat membuat konten. Berkumpul bersama beauty influencer diacara bergengsi adalah buah hasil dari percaya dirinya.

userx003: Chika kayanya lo lebih  cantik kalo putihan deh

Sambil membaca komentar tersebut, ia hanya terkekeh.

“Jadi gini ya guys, aku udah sering bilang kalo kita tu punya cantik dari versi masing-masing kok!” Ujarnya sambil merapikan blush on-nya.

userx003: Jujur Chika, kalo lo putihan kayanya ga akan bosenin

dwarrs: iya si, jujur Chika kalo putihan lebih bagus sih

Andhitarn: Jujur iya sih Chik, lu tone down ya? Blush on lu jadi kusam

Berselang 5 menit, komentar soal tubuhnya mulai ramai, sebagian di antaranya setuju dan sebagian lagi menyangkal. Lama-lama ia tak tahan, dan memutuskan untuk mengakhir siaran langsungnya sebelum makeup-nya selesai.

Lewat cerita Dig One's Grave bukan menceritakan sebuah horor fiksi, melainkan kejadian yang lebih menyeramkan dari sebuah fiksi

Huftt.. SIALAN

Ia membanting brush nya, menatap ke cermin. Sejujurnya, sekitar seminggu ke belakang, komentar di postingannya dipenuhi soal komentar warna kulit, di awal ia tidak merasa terganggu, sampai satu saat ia merasa beberapa makeup kesukaannya justru tidak lagi ia senangi seperti awal.

Tatapan matanya seakan mencari segala kekurangan yang ada, ia menempelkan pergelangan tangan di dekat wajah dan bercermin. Wajahnya yang semula berseri justru padam seketika saat melihat cermin. Air mata mengalir di pipinya, Chika tetaplah remaja, ia masih butuh proses untuk bisa berdiri sendiri. Ia mencoba menenangkan diri. 

Ia mengingat sesuatu, tiga hari sebelumnya beberapa teman di sekolah sempat membicarakan salah satu klinik estetika yang menyediakan layanan infus whitening. 

Tanpa berpikir panjang, ia langsung mengambil ponselnya, dan melihat salah satu klinik yang dimaksud. Ia melihat hasil dan ulasan beberapa pelanggan klinik tersebut, dengan harga yang cukup terjangkau di brand ternama bagi Chika menjadi sesuatu yang menguntungkan dirinya.

“Gua ga setuju Chik, gimana soal nanti brandingan lo?” tanya Baila saat mendengar cerita Chika,

“Ah elah Ka Bai, bilang aja, gua beli vitamin apa gitu, jaga pola makan. Bilang aja, sebenernya orang Indo tuh semua kulitnya putih, tapi ada faktor lingkungan,” jawabannya membuat Baila menghela nafas kasar,

“Lu emang lumayan sering sih ngomong gini, awalnya insecure, tapi kenapa sih chik, gila-gila putih,” ujar Baila malas,

“Ka Bai, lu ga ngerasain punya kulit medium skin, lagian gue juga ga langsung putih kali, gue juga ngeri kalo kek gitu,” bela Chika.

 

Lewat cerita Dig One's Grave bukan menceritakan sebuah horor fiksi, melainkan kejadian yang lebih menyeramkan dari sebuah fiksi

"Kak Chika, prosedurnya kita mulai ya, cuma infus aja, kalo ada yang kerasa sakit bilang ya Kak"

Chika memejamkan matanya saat melihat jarum infus yang mulai masuk ke dalam permukaan lengannya. Chika menarik nafas sambil membayangkan apa yang akan terjadi setelahnya. Sekitar  tiga jam kemudian, prosedur injeksi selesai, Baila dengan siaga menemani proses tersebut meski ia merasa hal tersebut sangat berat baginya sebagai manajer. 

“Kak Chika, sebelumnya saya tetap menjelaskan ya ka, efek samping dari injeksi ini. Namun jika ada beberapa hal yang memberikan efek samping yang sangat terasa mohon segera berkonsultasi supaya mengurangi risiko ya,” dokter Arin menghampiri Chika sambil memberikan hasil lab.

“Iya dok, gapapa, Chika udah 100 % yakin, ” dokter mengangguk dan pergi. 

 

Lewat cerita Dig One's Grave bukan menceritakan sebuah horor fiksi, melainkan kejadian yang lebih menyeramkan dari sebuah fiksi

Minggu ke minggu dijalani oleh Chika dengan penuh percaya diri, sekarang ia benar-benar merasa percaya diri. Jumlah followers nya bertambah pesat, brand-brand  yang sebelumnya diinginkan Chika saat ini justru ramai meminta Chika menjadi KOL nya. Suatu hari di hari sabtu, saat Chika sedang bermain Tenis bersama teman-teman influencernya dan tiba-tiba  ia merasa tubuhnya lemas, panas, Chika menggaruk bagian wajahnya yang terasa gatal. Lama-kelamaan, rasa gatal itu menjalar, semakin panas dan..

BRUK

Chika.. Chika..

Suara itu membangunkan Chika, ia terkejut saat melihat dirinya sudah terbaring di kamar rumah sakit, ia melihat Baila yang begitu khawatir, namun ia lega saat melihat Baila tersenyum. “Chika, gue selalu di sini sama lo ya.” 

Chika menatap Baila heran, ia bingung apa yang Baila bicarakan. Ia mencoba menggaruk wajahnya kembali, ia merasa bagian wajahnya panas dan gatal, namun Baila dengan cepat mengambil lengannya dan menempelkan handuk basah untuk mengurangi gatal. 

“Chik, lu abis pingsan, pas lagi main tennis kita semua panik pas liat muka lu merah di dagu dan mulai meradang.” 

Ucapan itu membuat Chika seakan berhenti bernafas, ia tak mengerti ucapan Baila, namun perasaannya tidak enak, “m-maksudnya ka?”

“Chik, maafin gue ya, harusnya gue larang lu buat ngelakuin itu,” Baila tak bisa menahan air matanya,

Lewat cerita Dig One's Grave bukan menceritakan sebuah horor fiksi, melainkan kejadian yang lebih menyeramkan dari sebuah fiksi

Sejak saat itu, Chika memahami bahwa apa yang justru ia harapkan justru jauh dari kata sempurna. Seminggu setelah dirawat di rumah sakit, ia tak sanggup untuk bercermin, setelahnya, ia mencoba tetap membuat konten meski wajahnya mulai muncul efek samping, dan semakin bertambah. Lama-kelamaan, filter ponselnya sudah semakin membuatnya terlihat berpura-pura, ada yang berkomentar soal fisik Chika saat ini, ada yang memberi semangat dan ada yang hanya ingin mengetahui apa yang terjadi dengan Chika.

“So guys, iya.. bener gue, hari itu melakukan sebuah kebodohan, di mana gue yang gak bersyukur ini memilih untuk memenuhi tuntutan kalian dan nafsu gue sendiri. Dan sekarang.. yah.. gue kena auto imun dan peradangan yang cukup hebat. Dokter bilang peradangan itu bisa reda, tapi gue rasa ada hal yang lebih penting dari itu. Mental gue saat ini jauh lebih sakit dan mungkin penyembuhan mental gue sendirilah yang jauh lebih berharga dari apa yang gue lakuin. Semoga dari sini kalian juga bisa paham ya, kalo keinginan memuaskan hati orang lain itu ga selamanya akan menjadi keputusan yang baik buat diri lo, Thanks Guys..”

*****

Majalah Sunday, Teman Memahami Tips Belajar, Edukasi Seksual dan Kesehatan Mental

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.

Ikutan berkarya di
Majalah Sunday

Post Views: 4