Majalah Sunday

Sebuah Cerpen - Sendal Jepit

Penulis: Maharani Intan Phitaloka – Universitas Pendidikan Indonesia

“Apa sendal gue melakukan pembelahan diri karena kelamaan ditinggal Tarawih? Atau ini semacam glitch dalam simulasi kehidupan?” Kenzo mulai gagal damai dengan isi kepala tepat di batas suci Masjid Al-Ikhlas.

Suci Setelah Tarawih, Ternoda Karena Sendal

Kenzo melangkah keluar dari pintu Masjid Al-Ikhlas dengan perasaan yang sangat ringan. Malam itu, ia merasa level kesalehannya naik drastis setelah berhasil mengkhatamkan dua puluh rakaat Tarawih plus Witir tanpa mengantuk.

Aroma jajanan dari di seberang kosnya bercampur dengan sisa petasan juga wangi sarungnya yang baru dicuci, dan lantunan tadarus menciptakan atmosfer damai yang hakiki. 

Di kepalanya, sudah terbayang citra “anak muda teladan” yang melekat pada dirinya saat menyapa para tetangga di jalan nanti.

“Oke Ken, pelan-pelan. Tetap tenang, tetap berwibawa. Tunjukkan kalau lo adalah representasi pemuda masa depan yang lurus,” bisiknya dalam hati sambil merapikan peci hitamnya.

Langkah kaki si paling lurus terhenti tepat di batas suci. Matanya menyisir ubin teras yang dipenuhi berbagai jenis alas kaki.

Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang saat menatap titik di mana ia meletakkan sendal jepit hitam andalannya—satu-satunya sendal yang sudah ia beri tanda goresan kecil di bagian jempol agar tidak tertukar.

Kosong. Sendal itu lenyap.

Lho, kok nggak ada? Perasaan tadi gue taruh di sebelah tiang ini, deh, batin Kenzo mulai gelisah. Ia menelan ludah, matanya bergerak liar ke kiri dan kanan.

Aduh, jangan bilang dicuri? Masa di masjid ada yang setega itu? Atau jangan-jangan malaikat lagi ngetes kesabaran gue pasca-tarawih? Ken, lo nggak boleh panik. Kalau lo mondar-mandir kayak setrikaan, nanti disangka lagi nyari sendal orang lain buat diambil. Reputasi lo taruhannya, Ken!

Tetap berdiri tegak, meski jempol kakinya mulai meremas ubin masjid yang dingin. Ia berusaha menahan diri agar tidak terlihat seperti orang hilang arah, padahal di dalam kepalanya…

skenario “pulang nyeker dan ditertawakan anak kos” sudah terputar dengan resolusi 4K.

Teori Konspirasi Sendal Kenzo

“Di mana yak…” bergumam sambil mengitari teras masjid sesantai mungkin. Degup jantungnya seolah beradu balap dengan gema bedug masjid.

Sesekali menunduk, menyisir setiap inci ubin, hingga matanya menangkap sesuatu di dekat pot bunga besar.

Kakinya berjalan lambat. Di sana, tergeletak dua pasang sendal hitam yang identik. Asli kembar. Penasaran, ia mendekat dan berjongkok pelan.

Matanya membelalak saat melihat goresan kecil di bagian jempol pada kedua pasang sendal itu. Posisinya sama, kedalamannya sama, bahkan kemiringan goresannya pun sama persis.

Bentar, bentar. Ini nggak logis, batin Kenzo, dahinya mulai berkeringat dingin. Apa sendal gue melakukan pembelahan diri karena kelamaan ditinggal Tarawih? Atau ini semacam glitch dalam simulasi kehidupan?

Menelan ludah lalu menatap curiga ke arah jamaah yang masih berlalu-lalang. Pikiran liarnya mulai merangkai konspirasi tingkat tinggi.

Gue nggak mungkin salah lihat. Tapi kalau gue ambil salah satu dan ternyata itu punya orang lain, gue bakal dicap maling. Kalau gue ambil keduanya buat diamankan, gue malah kelihatan kayak kolektor sendal curian. Duh, kenapa hidup gue harus se-drama ini cuma gara-gara urusan alas kaki?

Kenzo merasa ribuan mata jamaah mulai memperhatikannya. Ia terjebak dalam dilema yang membuatnya mematung, sementara bisikan di kepalanya terus mengulang kalimat yang sama: Pilih salah satu atau lo pulang nyeker dan jadi bahan ghibah seumur hidup!

The Final Judge: Tatapan Pak RT

Akhirnya, Bro menyerah pada rasa penasarannya. Tanpa babibu langsung memungut keempat sendal itu sekaligus seperti seorang pedagang asongan yang sedang menawarkan barang dagangan.

Dibawanya sendal itu menuju bagian teras yang diterangi lampu LED putih terang benderang, berharap cahaya itu bisa mengungkap kebenaran di balik misteri goresan jempol tersebut.

“Oke, kalau yang ini goresannya agak miring ke kiri… tapi yang ini juga mirip banget. Apa mungkin ini sendal edisi terbatas yang cuma diproduksi buat bikin gue gila?” gumam Kenzo, matanya menyipit saking seriusnya membandingkan karet sendal itu hanya beberapa senti di depan hidungnya.

Saking fokusnya, Kenzo tidak menyadari bahwa suasana di sekitarnya mendadak sunyi. Hawa dingin yang lewat di tengkuknya bukan berasal dari kipas angin masjid, melainkan dari kehadiran seseorang yang berdiri sangat dekat.

Perlahan, Kenzo mendongak. Pandangannya naik dari sepasang pantofel hitam yang mengkilap, celana kain setrikaan licin, hingga berhenti tepat di wajah kaku Pak RT.

Dunia seolah berhenti berputar. Pak RT—sosok yang disegani seluruh kampung karena reputasinya sebagai mantan atlet bela diri yang tangannya bisa mematahkan papan—kini menatap Kenzo dengan alis bertaut rapat.

Tatapannya seolah sedang memindai seorang kriminal kelas kakap yang tertangkap basah sedang mengumpulkan barang bukti.

Mampus! jerit Kenzo dalam hati. Pak RT pasti mikir gue lagi milih-milih sendal mana yang paling mahal buat digadaikan. Kenapa gue harus megang empat-empatnya sekaligus?! Gue kelihatan kayak kolektor sendal!

Orasi Sendal Jepit

Kenzo terpaku. 

“Bukan saya, Pak! Sumpah!” Kenzo melepaskan keempat sendal itu seolah benda karet tersebut baru saja berubah menjadi bara api yang membakar telapak tangannya. 

Plak! Plak!

Sendal-sendal itu mendarat mengenaskan di lantai. Mangangkat tangan tinggi-tinggi di atas kepala. Wajah Kenzo yang semula “suci” sehabis Tarawih kini pucat pasi, persis orang yang baru saja melihat penampakan di tengah makam.

“Pak, asli, saya bukan kolektor sendal curian! Ini… ini sendal saya, Pak!” oceh Kenzo dengan kecepatan seribu kata per detik.

Air mukanya menunjukkan kepanikan yang tidak masuk akal. “Saya beli ini di pasar kaget pas masih kelas dua SMP, Pak. Nabungnya satu bulan dari uang jajan! Tanda goresan di jempol itu saya yang bikin pakai silet biar nggak ketukar sama punya sepupu saya. Saya pegang empat-empatnya cuma karena bingung, Pak! Saya nggak niat buka toko sendal bekas di sini!”

Pak RT tetap berdiri diam seribu bahasa. Wajahnya yang kaku dan alisnya yang bertaut rapat tidak bergeser sedikit pun, seolah sedang memproses pengakuan dosa yang luar biasa absurd dari remaja di depannya. 

Keheningan itu terasa mencekik bagi Kenzo. Di kepalanya, skenario hukuman penjara, sidang warga, hingga berita utama di grup WhatsApp kompleks dengan judul “Remaja Alim Tertangkap Basah Menimbun Sendal Jepit” sudah menari-nari dengan sangat nyata.

Kenzo memejamkan mata rapat-rapat, merasa vonis masa depannya akan segera dijatuhkan oleh mantan atlet bela diri itu.

Ternyata oh ternyata...

Keheningan yang mencekam itu tiba-tiba pecah oleh suara derap langkah kecil yang terburu-buru. Seorang anak laki-laki berusia sekitar 12 tahun berlari menghampiri mereka dengan wajah sumringah. Tanpa ragu, bocah itu memungut sepasang sendal yang tadi dilempar Kenzo.

“Makasih Bang, sudah dipisahin!” seru bocah itu polos. “Tadi sendalku ketumpuk di sana, aku bingung nyarinya karena mirip banget!”

Kenzo melongo. Tangannya masih setengah terangkat di udara, membeku seperti patung selamat datang yang gagal. Belum sempat otaknya memproses kejadian itu, suara tawa yang menggelegar meledak di hadapannya.

Pak RT tertawa terbahak-bahak sampai harus memegang perutnya, wajah kakunya kini berubah total menjadi ramah dan penuh geli.

“Aduh, Kenzo… Kenzo,” ujar Pak RT di sela tawanya sambil menepuk bahu Kenzo yang masih kaku. “Saya diam itu karena bingung lihat kamu asyik banget orasi sendal. Saya cuma mau tanya, kamu lihat kunci motor saya jatuh di sekitar sini nggak?”

Malu? Jangan tanya. Rasanya Kenzo ingin meminjam pintu kemana saja milik Doraemon detik itu juga.

“Bapak simpan kunci motornya di mana emang, Pak?” tanya Kenzo akhirnya, berusaha mengalihkan topik.

Pak RT menghela napas panjang, wajahnya kembali terlihat bingung. “Kalau saya tahu, saya nggak bakal nyari sampai ke kolong meja marbot, Kenzo.”

Kenzo terdiam sejenak, mencoba menggunakan sisa logikanya yang baru saja kembali dari “mode panik”. “Cek coba kantong koko, celana, atau tas Bapak. Siapa tahu nyelip.”

Pak RT mulai merogoh kantong kokonya yang dalam. Saat sedang asyik memeriksa, selembar uang jatuh dari saku celananya. Dengan sigap, Kenzo membungkuk untuk membantu mengambilkan uang tersebut. 

Namun, saat kepalanya menunduk ke arah selokan masjid yang sedikit basah, matanya menangkap pemandangan yang sangat familier.

Di sana, tergeletak pasrah dengan goresan jempol yang sangat ia kenal, sendal miliknya. Sepertinya sendal itu terdepak kaki jamaah lain saat berdesakan keluar tadi. Kenzo mendesah lega sekaligus merasa sangat konyol.

“Eh, ini dia!” seru Pak RT tiba-tiba. Kenzo mendongak dan melihat Pak RT menarik sebuah kunci dengan gantungan tali hitam dari dalam kantong celananya yang tersembunyi di balik gulungan sarung.

“Ternyata nyelip di kantong celana, ketutup sarung. Pantesan dicari di kantong koko nggak ada.”

Kenzo hanya bisa tersenyum getir. Ternyata bukan cuma dia yang “tersesat” di dalam pikirannya sendiri malam ini.

Pak RT sibuk dengan kuncinya, dan Kenzo sibuk dengan skenario buatan kepalanya. Ia pun mengambil sendalnya dari selokan, menyadari bahwa ketakutannya hanyalah imajinasi, meski rasa malunya akan ia ingat sampai lebaran tahun depan.

Nyatanya...

Dunia ini memang nggak sesantai itu. Kadang ada saja orang yang hobi menghakimi atau situasi yang benar-benar bikin kita terpojok.

Namun, ingat, sebagian besar “beban” yang kamu rasakan itu sebenarnya datang dari skenario buruk yang kamu susun sendiri di kepala.

Seperti Kenzo, dia sudah siap dianggap kriminal karena sendal, padahal realitanya Pak RT cuma lagi pusing sama urusannya sendiri. Masalah itu ada, tapi jangan ditambah-tambahin pakai imajinasi yang bikin kamu makin sesak.

Yuk, mulai belajar bedakan mana masalah nyata dan mana yang cuma karangan pikiranmu agar kamu bisa damai dengan isi kepala. Kalau cemas, tarik napas dan hadapi realita dengan kepala dingin. 

*****

Majalah Sunday, Teman Memahami Tips Belajar, Edukasi Seksual dan Kesehatan Mental

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.

Ikutan berkarya di
Majalah Sunday

Post Views: 1