Majalah Sunday

Sebuah Cerpen - Pukulan Ramadan

Penulis: Bukhari Farasdi Harahap

Rasa lapar yang memberikan sinyal ke otak membuatku tidak berpikir dua kali untuk mencari cokelat koin yang kusimpan semalaman di kulkas. Dengan perlahan, kumakan cokelat berbungkus emas itu dan menikmatinya sembari menonton acara kesukaanku di televisi.

“Faras, makannya kok gak pake piring?” Tiba-tiba saja ibuku muncul dari samping. 

“Iya ma, ini mau diambil,” mulutku tak bisa membantah.

Sejak kecil, apapun yang aku dan kakakku makan di rumah pasti tidak akan pernah terlepas dari omelan ibu untuk selalu menggunakan alas. Ibu memang tidak suka rumahnya kotor, terlebih lagi jika ada remahan camilan yang tertinggal di lantai saat semuanya sudah disapu dan dipel. 

“Kenapa masih makan cokelat ras? Nanti gigimu rusak loh,” pertanyaan ini seketika membuatku mematung.

“Hah, eee… namanya lapar ma,” aku berusaha memberikan pembelaan

Memang di usia lima tahun, tidak seharusnya aku ngemil cokelat. Namun apa boleh buat, cokelat koin yang dijual wak Lubis ini terlalu menggiurkan untuk anak seumuranku. 

“Kok banyak kali cokelatnya, beli di mana?” ibu bertanya.

Sebuah Cerpen - Pukulan Ramadan

“Kedai Wak Lubis ma” aku menjawab dengan mulut penuh cokelat. 

“Lain kali jangan beli itu lagi ras, nanti sakit gigimu,” ibu memberi peringatan. 

“Woke ma,” sahutku sibuk memakan cokelat. 

Siang itu ibu menemaniku di ruang televisi sambil melipat pakaian dan sesekali melihat layar ikut menonton. 

“Fokus kali ya makannya,” ibu memecah keheningan

“Iya ma, besok kan udah puasa. Gak boleh makan lagi,” aku menjawab sesuai dengan berita di televisi.

“Oh iya, berarti nanti malam udah mulai tarawih itu.”

Aku langsung memperhatikan ibu, dan kegirangan. Sudah pasti nanti malam aku dan temanku salat Tarawih di masjid dan melihat anak-anak tetangga bermain petasan.  

Malam harinya, bulan tampak menyinari masjid lingkungan tempat tinggalku. Sinarnya membuat anak-anak setempat menjadi lebih ramai di malam pertama Ramadan itu. Tanpa membuat janji dan rencana, aku dan sahabatku Regar sudah datang ke masjid untuk melaksanakan solat tarawih. Kami hanya bisa menonton aktivitas anak-anak di luar masjid. 

Selepas solat tarawih, aku dan Regar menyaksikan anak-anak SD dan SMP berbondong-bondong mengerumuni imam seperti segerombolan semut yang mendatangi gula. 

Di malam kedua Ramadan, seperti sebelumnya aku dan Regar datang tepat sebelum salat Isya dilaksanakan. Rumahku bersebelahan dengan masjid sehingga membuatku tidak tergesa-gesa berlarian seperti anak-anak yang lain. Dengan hikmat dan khusyuk kami melaksanakan salat Isya hingga salat Tarawih. Namun sesuatu hal mengejutkan kami.

Sebuah Cerpen - Pukulan Ramadan

“Duarrrrr!!!”

Suara petasan berukuran jumbo memecah suasana salat Tarawih. 

Berpuluh pasang mata seketika tertuju pada satu tempat, lapangan di luar masjid. Kakek-kakek yang berada di bagian depan menggelengkan kepala ke kanan dan ke kiri, aku rasa mereka takut jantungnya copot mendengar suara ledakan itu. Begitu selesai salat Tarawih, tiba-tiba saja pukulan tangan dari seorang pria berumur 40-an mengagetkan jantungku. Pria itu Kepala Lingkungan tempat tinggal aku dan Regar. Dia memukulku, sontak saja aku pun bingung bukan main. Dia langsung kembali ke tempatnya dan melanjutkan doa. 

“Mungkin bapak itu pikir kau yang main petasan Ras,” Regar berusaha berpikir positif.

Sungguh aneh, aku sempat berpikir apa wajahku mirip dengan anak-anak di luar masjid yang mengagetkan kami saat salat itu. 

Bulan kembali menyinari gelapnya malam, aku dan Regar bersama-sama memasuki pagar masjid yang berwarna perak. Disambut dengan tikar yang terbentang luas di teras untuk anak-anak salat. Aku dan Regar memutuskan untuk melaksanakan salat di depan barisan kami kemarin. Kaki kami maju empat langkah, dan menetap di atas sajadahnya.

“Ngapain kau maju Ras?” tanya Regar heran.

“Aku gak mau dituduh main petasan lagi,” jawabku kesal.

Regar pun tertawa sebentar dan kami mengikuti imam mengangkat tangannya memulai solat. Malam ini aku melaksanakan salat tanpa hambatan. Tidak ada petasan meledak, bahkan selepas solat tarawih tidak ada lagi pukulan tangan yang mengagetkanku. 

Pulang ke rumah, aku bertemu dengan ibu di teras. Tidak biasanya ibu di teras malam-malam begini. Ekspresi wajahnya pun tampak khawatir dan sedih. 

“Kenapa ma?” aku langsung bertanya

“Malam ini kita berangkat ke Rantau Prapat.” 

Tanpa persiapan apa-apa dan lebaran juga masih lama, aku heran dan bingung. 

“Kakek meninggal,” ibu melanjutkan kata-katanya jawabnya lemas.

Sebuah Cerpen - Pukulan Ramadan

Aku dan keluarga langsung mempersiapkan pakaian dan mobil hitam di garasi juga sudah dinyalakan. Malam itu juga kami bergerak dari Medan menuju Rantau Prapat. Perjalanan panjang di jalan tol yang masih sunyi kami lewati. 

Jarang sekali mobil melintas. Aku kembali berpikir dan merasa kalau malam ini aku masih dipukul. Malam ini bukan bagian tanganku yang dipukul, tapi hati yang ada di dalam badanku ini yang terpukul. Kepergian kakek bukan berita yang kuharapkan dari kampung.

*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.

Ikutan berkarya di
Majalah Sunday

Post Views: 3