Penulis: Filza Ajmal
Perkenalkan, anak kecil ini bernama Filza Ajmal, atau lebih sering dipanggil Filza. Sekarang ia telah tumbuh dewasa dan duduk di jenjang SMA. Berkat dukungan orang tuanya, ia bisa bersekolah di sekolah kebanggaannya, yaitu SMKIT Smart Informatika. Di sana, ia mulai merintis jalan dan membulatkan tekad untuk berjuang demi masa depan serta kebanggaan orang tua tercinta.
Suatu hari, aku sedang duduk di masjid yang dikelilingi ibu-ibu yang sedang mendaras Al-Qur’an. Salah satu temanku mendekat dan ikut duduk di sampingku.
“Fil, kamu tidak mau beli jajan?” tanya temanku. Aku menjawab, “Aku tidak punya uang,” ujarku sambil merengut sedih. “Ya sudahlah, pakai uangku dulu saja. Aku sedang bawa uang lebih, kok,” katanya sambil mengajakku. “Ya sudah, ayo!” jawabku sambil berdiri dan menggenggam tangan temanku dengan senang.

Hanya dalam beberapa menit, kami sampai di toko yang letaknya memang sangat dekat dengan masjid. Di dalam toko, rak-rak dipenuhi dengan berbagai macam jajanan. Sambil berkeliling, temanku terlihat sangat bersemangat memilih jajanan hingga ia membeli lebih dari sepuluh bungkus.
Temanku itu bernama Atra. Ia memiliki kulit yang bersih dan paras yang cantik. Dia orang yang baik, seru, dan keren. Dari sudut pandang orang lain, aku dan dia memang terasa sangat “sefrekuensi”. Setelah selesai membayar, kami memilih untuk menyantap jajanan tersebut di aula TPA masjid. Sambil mengobrol santai, kami didatangi oleh teman-teman TPA lainnya.
“Halo! Kalian besok TPA tidak?” tanya salah satu teman kami. “Pasti seru ya TPA di sini. Tapi aku tidak tahu nanti bisa ikut TPA di sini lagi atau tidak. Sebenarnya aku tidak tinggal di sini, ini rumah nenekku. Jadi, aku tidak bebas main di sini. Besok pun aku sudah disuruh pulang oleh Abi,” ujarku yang tadinya tersenyum kini berubah muram.
“Yah… padahal TPA di sini seru, lho! Ada kakak-kakak pengajar yang super ramah. Terkadang mereka mengajak main gim tebak-tebakan, lalu yang menang diberi hadiah. Teman-temannya juga asyik. Takjilnya nasi kotak, ada camilannya, dan minumannya selalu es segar. Bapak-bapak penjual mainan juga sering datang ke sini karena banyak anak kecil,” kata temanku. “Oh, ya, tidak hanya mainan, ada juga penjual es cendol dawet, sempol, cilok, dan bakso kuah!”
Cerita temanku itu membuatku sangat ingin tinggal di sana saja. “Kelihatannya memang seru, ya, tapi aku tetap tidak bisa,” ujarku sedih. “Ya sudah kalau begitu. Habis ini kita tarawih dulu, setelah itu kita makan jajanan ini. Kita puaskan bermain di rumahku sambil menonton film sebelum Filza pulang, mau tidak?” tanya Atra yang seketika membuatku kembali tersenyum. “Mau!” jawab teman-temanku yang lain dengan semangat.
Saat aku dan teman-teman sedang asyik menonton film di rumah Atra, tiba-tiba terdengar suara, “Assalamualaikum, Mbak Filza disuruh pulang sama Uti.” Itu suara yang sangat kukenal, suara adik laki-lakiku. “Iya, Dek!” teriakku dari dalam rumah Atra sambil berpamitan kepada teman-temanku. Aku pun kembali ke rumah nenek.

Keesokan harinya, setelah tidur pulas semalaman, aku merasakan sentuhan tangan dingin nenek setelah beliau berwudu. “Nduk, hari ini puasa. Sahur, Nduk, bangun dulu…” ucapnya membangunkanku. Aku perlahan membuka mata, “Hoaaahhh… puasa? Aku takut nanti cuma kuat setengah hari. Rasanya malas sekali kalau tidak puasa sekalian,” ujarku dengan kantuk yang masih menggelayut.
“Ya jangan begitu, Nduk. Kamu sudah besar, sudah kelas 4 SD. Hari ini harus puasa penuh, ya,” kata nenekku. Tangan dingin nenek mencoba menarikku hingga aku bisa duduk. Mataku langsung membelalak melihat hidangan di samping tempat tidur: satu piring berisi lima tempe goreng, satu piring nasi goreng untukku, satu piring nasi pecel lele, ayam krispi, dan tiga gelas susu. Perutku langsung terasa lapar dan aku segera menyantapnya.
Selesai sahur, nenek menyarankanku untuk puasa penuh di hari pertama Ramadan ini. Meski ragu akan sakit perut karena lapar, aku sadar bahwa aku sudah kelas 4 SD dan belum pernah puasa sehari penuh. Berkat tekad dan dukungan nenek, aku memantapkan diri untuk puasa penuh hari itu.
Siang harinya, aku dan adikku pulang ke rumah diantarkan oleh Paman. “Assalamualaikum!” ucap kami saat sampai di rumah. “Waalaikumussalam,” jawab Umi menyambut kami. “Ini Mbak Za sama Dek Fareh puasa tidak?” tanyanya. “Puasa, Mi! Aku mau puasa penuh hari ini!” jawabku dengan penuh semangat. “Wah, Mbak Za hebat!” puji Umi yang membuatku sangat senang.

Karena rasa kantuk yang berat di siang hari, aku tertidur hingga sore. Saat terbangun, jam sudah menunjukkan pukul empat sore. “Ya Allah, lama sekali aku tidur! Seharusnya aku TPA!” Aku langsung bergegas mandi dan bersiap-siap. Setelah selesai, aku berpamitan, “Umi, aku sudah siap ke TPA!”. Umi pun dengan senang hati mengantarkanku ke masjid dekat rumah nenek, meskipun jaraknya cukup jauh.
Sesampainya di sana, aku menjumpai Atra yang sedang menulis. Ia langsung menoleh dan berteriak kegirangan, “Filzaaaa!” sambil menggenggam tanganku. Sore itu penuh dengan keseruan.
“Allahu Akbar, Allahu Akbar…” Akhirnya, aku berhasil puasa penuh hari itu. Rasanya tidak disangka, anak yang awalnya malas-malasan ternyata bisa melewatinya tanpa keluhan.
Dzahabazh zhoma’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah. “Glek, glek.” Manis sekali rasa teh itu. Berbuka bersama teman-teman sambil bercanda menjadi kenangan terindah Ramadan masa kecilku yang paling berkesan sepanjang hidup.
*****
Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.