Penulis: Helen Luo
“Ayah, ayah,, pensil adek udah pendek bangett.. ade ingin pensil baruu”
“Wah, iya nanti malam ayah belikan yaa..”
“Oh ya, buku tulisku juga udah abis yah.”
“Tidak ada lagi kah dek?”
“Abis yah, buat aku corat-coret kemarin, hehehee.”
Ayah, sosok laki-laki yang selalu mendukungku dan memenuhi keinginanku walau aku selalu menyusahkannya. Kehidupan dengan ekonomi yang buruk, tidak menghalangi ayah untuk selalu memberikan yang terbaik untukku.
“HOREEE, ayah pulang bawa soto.. ayok yah makan.”
“Ayah temani saja ya, ayah sudah makan diluar tadi, oh iya ini pensil dan buku pesanan adek.”
“WAAHHH, terimakasih ayahh.. adek sayang banget sama ayah.”
“Iya ayah juga.”
Aku sangat menikmati soto yang lezat ditemani oleh ayah yang basah kuyup karena kehujanan.
“Maaf ya dek, ayah hanya bisa berikan segitu.”

Tiba-tiba malam itu warga datang, mengitari rumah dengan bunyi sirine.
Nyiu..nyiu…nyiuu…..
“Yah, ada apa itu?”
“Tidak ada apa-apa nak, mulai hari ini kamu tinggal dengan bibi ya.”
“Ayah mau ke mana?”
“Ayah akan kembali.. ayah sayang adek”
Ternyata semua barang-barang milik warga, jam tangan, tas sekolah, buku, alat tulis, bahkan seragam hilang karena Pak Budi. Ia mencuri demi anaknya, namun keadilan memang berpihak separuh tangan, ayah dimasukkan ke penjara dan tidak diberikan waktu untuk pembelaan diri.

*****
Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.
