Majalah Sunday

Sebuah Cerpen - Kenangan Ramadan Masa Kecilku

Penulis: Siti Nur Azizah

Hari-hari yang tak luput dari keluhan. 

Ketika perut mati rasa, ada aroma harum dari dapur yang membangkitkan selera. Aku segera menyibak selimutku dan berlari menghampiri Ibu di dapur. Penuh dengan harapan-harapan yang membuat lidahku memproduksi air liur lebih banyak.  Menetes tanpa kusadari.

Perut yang kembali hidup terus mendesak cacing untuk berbunyi sebagai tanda agar aku segera makan. Namun, Ibu bilang ini belum waktunya. Wanita itu menyuruhku untuk menunggu sedikit lagi sampai azan Magrib berkumandang. 

Aku mendengus, tapi tak boleh sampai menangis, sebab itu artinya aku tidak ikhlas. Puasa itu bukan hanya menahan nafsu, tetapi melatih mental agar tetap baja.

Sebuah Cerpen - Kenangan Ramadan Masa Kecilku

Entah mengapa suara azan kali ini terdengar begitu syahdu di telingaku. Lantunannya begitu fasih sampai aku terlarut dan menghiraukan rasa mualnya. 

Aku mulai meneguk segelas air adem, cairan itu langsung mengalir dalam tenggorokan dan menyapa perutku. Segar, nikmat, dan begitu puas.

Rasanya aku kembali pada kewarasan yang begitu polos. Aku memanggil Ibu dan menatapnya begitu tulus. “Ayo kita ke Surga sekarang, Bu. Nanti keburu penuh sama keluarga Pak Ustad. Pahala aku sama Ibu kan udah banyak.”

*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.

Ikutan berkarya di
Majalah Sunday

Post Views: 3