Penulis: Silmy Firdausy Khafiyya
Bulan purnama menghiasi langit malam, ditemani bintang-bintang yang berkelip. Teriakan jangkrik terdengar riuh, seolah mereka sedang bercengkerama sambil menikmati angin malam. Seekor hewan malam terbangun dari tidurnya, seakan tahu kapan waktunya untuk bertugas. Ia bersiap, lalu suara khasnya menggema ke seluruh kampung, membangunkan orang-orang dari alam mimpi.
“Kak, ayo bangun! Kita sahur dulu,” ucap Ummi sambil menepuk-nepuk wajahku.
“Iya, Mi, nanti Kakak bangun,” jawabku, tubuhku menggeliat sebelum kembali memeluk boneka kesayanganku.
“Udah jam empat, Kak. Nanti telat sahurnya. Sebentar lagi imsak,” kata Ummi sambil beranjak meninggalkanku.
“He-em,” jawabku setengah sadar.
Aku menoleh ke arah jam dinding yang tergantung di kamarku, memastikan ucapan Ummi. Terkadang, Ummi melebih-lebihkan waktu agar aku bangun lebih awal. Namun, kali ini tidak. Aku pun segera beranjak dari kasur dan menyusul Ummi ke ruang makan.
“Kakak susah banget dibangunin. Jahid udah mau beres makan, nih,” celetuk Mujahid, adik pertamaku.
“Hehehe, soalnya mimpi Kakak seru banget,” ucapku menimpali celoteh adikku. Ummi menatapku dengan tajam, membuatku sedikit kikuk.
“Besok-besok nggak lagi deh, Mi,” ucapku dengan cengiran andalan.
Setelah berdoa, aku langsung menikmati makanan yang sudah dimasak oleh Ummi. Dua puluh menit berlalu, azan Subuh pun berkumandang.
“Ayo, persiapan salat di masjid!” seru Abi sambil berlalu dari hadapanku.
Aku bergegas berwudhu, diikuti oleh kedua adikku. Lalu, kami sekeluarga pergi bersama ke Masjid Ibadurrahman untuk shalat Subuh berjamaah. Iqamah berkumandang sesaat setelah langkah terakhirku menyentuh keramik masjid.

“Huft, untung nggak telat,” batinku.
Salat Subuh kali ini diimami oleh Ustaz Anas, seorang ustaz muda di daerah rumahku. Suaranya yang merdu membawa kedamaian dalam hati. Kali ini, beliau membacakan surat Al-Baqarah ayat 183-185, yang berisi perintah kepada orang-orang beriman untuk melaksanakan puasa di bulan Ramadan.
Setelah salat Subuh, aku langsung bergabung dengan teman-temanku dan membentuk lingkaran untuk tadarus. Tak hanya kami, seluruh jamaah pun membentuk lingkaran sesuai kelompok masing-masing, seakan sudah dikomando. Namun, kebiasaan ini terbentuk bukan karena paksaan dari orang lain, melainkan dorongan dalam diri untuk memperbaiki ibadah. Tadarus seperti ini hanya dilakukan saat bulan Ramadan, sehingga banyak orang berantusias mengikuti forum ini.
Di kelompokku, konsep tadarusnya sederhana: masing-masing anak membaca satu halaman, sementara yang lain menyimak, hingga kami semua menyelesaikan satu juz bersama-sama.
Setelah menyelesaikan bacaan satu juz, kami membaca hamdalah dan istighfar bersama. Setelah itu, kami diperbolehkan pulang ke rumah masing-masing.
***
Sesampainya di rumah, aku langsung melihat jam dinding di kamarku. Jam menunjukkan pukul enam pagi. Ummi pernah bilang, “Tidak baik tidur setelah Subuh, nanti rezekinya diambil ayam.” Oleh karena itu, aku memutuskan untuk bermain bulu tangkis bersama adikku di halaman depan rumah. Tiga puluh menit berlalu, dengan napas masih tersengal, aku berkata kepada adikku,
“Bosan tahu mainnya cuma berdua.”
“Iya, Kak. Jahid juga bosan,” jawab adikku.
“Kakak mau ngajak A Adit, ah,” ujarku.
“Oh iya, boleh tuh. Nanti kita main bertiga. Tapi kalau ada A Zaidan, sekalian diajak juga,” saran adikku.
“Iya, yuk kita samperin ke rumahnya,” seruku sambil berlari menuju rumah A Adit, kakak kelasku yang beda sekolah.
“Assalamu’alaikum, A Adit! Ayo main!” teriakku di depan rumahnya.
“Wa’alaikumussalam, sebentar,” sahutnya dari dalam. Tak lama, ia membukakan pintu dan tersenyum menyambut kami.
“Mau main apa?” tanyanya.
“Bulu tangkis, yuk! A Adit bisa main bulu tangkis nggak?” tanyaku menantang.
“Bisa dong! Tunggu sebentar, ya. Aku ambil raket dulu,” jawabnya.
“Oke, aku tunggu di pos dekat gang, ya,” lanjutku. A Adit tersenyum dan mengangguk. Kami pun berjalan menuju pos.
A Adit berjalan santai, diikuti seseorang. Dari siluetnya, aku mengenali orang itu.
“Itu A Zaidan, Kak,” bisik adikku. Aku hanya mengangguk.
“Zaidan ikut boleh nggak?” tanya A Adit.
“Boleh. Jadi nanti tim lawan tim,” jawabku.
“Oke, terima kasih,” jawab A Zaidan.
“Langsung mulai aja, yuk,” ajak A Adit.
Kami pun segera memposisikan diri. Tim satu terdiri dari aku dan A Adit, sedangkan tim dua ada Jahid dan A Zaidan. Kami bermain hingga tak terasa jam menunjukkan pukul sebelas siang. Lalu, kami berhenti untuk bersiap salat Zuhur.

Ini paragraf kesimpulan atau penutup
(Tidak h
Setelah berpamitan, kami pulang dan bersiap untuk salat Zuhur. Setelah salat berjamaah, aku dan adikku tidur siang agar memiliki energi untuk mengikuti pesantren kilat (sanlat).
Setelah Asar, kami semua mengikuti sanlat yang dipandu oleh Pemuda Masjid Ibadurrahman. Kegiatan hari ini dipandu oleh Teh Alifah dan A Ilham. Teh Salsa, selaku koordinator lapangan, menjelaskan kegiatan.
“Kegiatan kali ini adalah jelajah medan. Masing-masing ketua kelompok akan diberikan secarik kertas berisi rute perjalanan,” jelasnya.
“Konsepnya, kalian akan berjalan mengikuti petunjuk dalam peta yang dipandu oleh Penanggung Jawab kelompok. Di pos, kalian akan bertemu panitia dan diberikan tugas,” lanjutnya.
Teh Alifah menambahkan, “Saat tiba di pos, kalian wajib memperkenalkan kelompok dan menampilkan yel-yel. Sebelum pergi, kalian akan diberikan bintang sesuai penampilan kalian. Paham?”
“Paham, Teh!” jawab kami serempak.
Kami mengikuti sanlat dengan penuh semangat. Tak terasa, waktu Magrib tiba. Untungnya, kami sudah kembali ke masjid sehingga bisa melanjutkan buka bersama.
arus ada keyphrase di dalamnya!)
*****
Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.