Penulis: Dollar Rahadian
Tersentak aku terbangun ketika terdengar suara jam weker di kamarku. Selintas, aku melihat jam weker yang menunjukkan jam 3 pagi.
“Sudah waktunya sahur,” gumamku dalam hati.
Aku pun melirik jam dinding di kamarku. Jam 3 pagi. Sayup-sayup terdengar suara beduk anak-anak kecil yang berjalan sambil memukul beduk dan berteriak, “Sahur! Sahur!”
Secepatnya, aku masuk ke kamar mandi, mencuci muka, dan menggosok gigi. Terdengar suara Mama memanggilku untuk sahur.

“Sayang, bangun! Sudah waktunya sahur,” ujar Mama, sayup-sayup terdengar olehku. Aku segera keluar dari kamar mandi dan menjawab, “Iya, Mama. Sebentar lagi aku ke tukang makan untuk sahur,” ujarku kepada Mama.
Mamaku adalah ibu yang paling cantik, lembut, dan bijaksana.
“Mama dan Bapakmu tunggu ya di meja makan, sayang,” ujar Mama kepadaku.
Secepatnya, aku keluar kamar dan menuju meja makan.
“Halo sayang, makanan sahur sudah siap,” ujar Mama kepadaku.
Aku segera mengambil kursi dan duduk di samping Bapakku. “Halo, Pa. Aku kesiangan sahur. Jam 3 baru bangun,” ujarku kepada Bapak.
Bapak hanya menjawab, “Kamu keadilan. Begadang ya, jadi telat bangun sahur,” ujarnya.
Aku hanya terdiam dan menjawab, “Biasa, Pa. Keenakan nonton TV di kamar,” ujarku sambil mengambil nasi serta opor ayam buatan Mama.
Bapak hanya berkata, “Sahur yang banyak, biar kuat puasanya,” ujarnya kepadaku.
“Tuh, denger Bapak bilang, makan yang banyak biar kuat puasanya sampai magrib,” ujar Ibu dengan lembut.
Akhirnya, kami makan sahur bertiga dengan sedikit obrolan ringan mengenai masakan yang Mama buat untuk sahur.
“Bagaimana, enak kan opor ayam buatan Mama?” tanya Mama kepada kami.
Bapak hanya menjawab, “Masakan paling enak yang pernah Bapak makan, Ma,” ujarnya baik kepada Mama.
Aku hanya terdiam dan berkata, “Paling enak di seluruh dunia,” ujarku sambil mengambil opor ayam lagi.
Mama bertanya kepada Bapak, “Kamu mau nambah, nak? Kamu makannya banyak sampai nambah opor ayamnya,” ujar Mama.
Bapak hanya berkata, “Nanti, Ma. Kalau aku merasa mau nambah nasi dan opornya,” jawab Bapak kepada Mama.
Sambil makan sahur, kami mengobrol mengenai masakan yang Mama buat.
Hampir 30 menit berlalu, aku baru selesai sahur.

“Aku pamit, Pa dan Mama. Aku mau ikut teman-teman muter pakai beduk sambil berkata ‘sahur, sahur’. Mumpung masih jam 3, masih sempat muter sebelum imsak. Nanti sampai rumah jam 6 setelah salat subuh di masjid, ya,” ujarku kepada kedua orang tuaku.
Mama dan Bapak hanya berkata, “Sana, sayang. Cepat, nanti keburu imsak,” ujar Mama. Sedangkan Bapak hanya berkata, “Jangan lupa salat subuh,” pesannya kepadaku.
Secepat kilat, aku pamit kepada kedua orang tuaku dan berlari menuju depan rumah. Ternyata, berlari dari ruang makan ke depan rumah hanya memerlukan waktu 5 menit, gumamku dalam hati. Terlihat Andi dan anak-anak lainnya sedang memukul beduk sambil berkata, “Sahur! Sahur!”
Kebiasaan aku dan teman-temanku di bulan puasa adalah selalu memukul beduk sambil berkata sahur keliling daerah perumahan.
Setelah itu, aku dan teman-temanku langsung ke masjid untuk salat subuh dan tadarus Al-Qur’an sampai jam 6 pagi sebelum kembali ke rumah.
Saat menunggu magrib, kami berjalan-jalan beramai-ramai sambil melihat tukang jualan kolak, gorengan, dan makanan untuk berbuka puasa. Hingga waktu adzan magrib tiba, aku berlari menuju Andi dan teman-teman lainnya.
“Kita muter lagi sampai imsak sambil pukul beduk dan berkata sahur! Mumpung masih ada waktu sekitar 30 menit sebelum imsak,” ujarku kepada Andi dan teman-teman yang lain.
Kami memukul beduk dan berkata, “Sahur! Sahur!” berjalan keliling komplek perumahan sampai waktu imsak dan salat bersama-sama di masjid.
Ramadan selalu membawa damai di hatiku dan seluruh umat Islam di seluruh dunia. Selalu ada cerita unik dalam menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan.
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.