Penulis: Maria Jenflower
seorang gadis yang berlari kecil menikmati guyuran hujan yang membasahi tubuhnya. Namanya Azela Rain. Teman-temannya memanggilnya Ela. Gadis itu dikenal sebagai sosok yang ceria dan periang. Saat ini, dia duduk di bangku SMA kelas akhir. Rahasia terbesar Ela adalah dia sangat menyukai seorang pria populer di sekolahnya yang berperilaku bad boy.
Sejak kecil, Ela memang sangat menyukai hujan. Dia berpikir mungkin karena namanya memiliki kata “Rain” yang berarti hujan. Pagi ini, seperti biasa, Ela sengaja datang terlambat, berdiri di sudut sekolah demi menunggu pujaan hatinya. Sayangnya, pria itu tampaknya tak pernah memperhatikannya. Ela hanyalah gadis biasa dengan kacamata tebal dan rambut yang dikepang dua, seperti gadis kutu buku. Meski begitu, Ela selalu berharap akan terjadi keajaiban dalam hidupnya.
Tepat pukul 7:15, bel sekolah sudah berbunyi 15 menit yang lalu. Ela terlambat. Tak lama kemudian, pria yang ditunggunya, Nicholas Pradipta atau Nic, datang dengan motor sport hitamnya. Saat Nic hendak melaju, Ela merentang tangan, memaksa Nic untuk berhenti.
“Hei, punya otak gak sih? Kalau kamu terluka, yang repot juga aku,” ujar Nic sambil melepas helm hitamnya.
“Kenapa kamu datang terlambat lagi?” Ela bertanya, mengabaikan umpatan Nic, dan malah tersenyum padanya.
“Suka-suka aku. Kamu nungguin aku lagi, ya? Sejujurnya, aku gak suka ditunggu gadis kutu buku kayak kamu. Kalau kamu cantik dan seksi, mungkin aku tawarkan tumpangan,” balas Nic dengan nada rendah.
“Gadis cantik dan seksi itu banyak. Yang seperti aku? Jarang. Lagipula, aku manis,” ujar Ela dengan percaya diri.
Nic tertawa, “Kamu manis? Bahkan dari jauh pun, kamu tetap seperti gadis kutu buku.”
Tanpa memberi kesempatan bagi Ela untuk menjawab, Nic memakai helmnya dan pergi. Ela mengikuti Nic, mungkin berniat memberi sogokan pada satpam agar bisa masuk sekolah. Namun, berkat dana dari orang tua Nic, Ela selalu bisa masuk ke sekolah bergengsi ini.
Ketika jam istirahat tiba, Ela menghampiri Nic yang sedang duduk dengan teman-temannya di kantin. “Nicholas Pradipta,” panggil Ela. “Ini bekal yang kubuat khusus untukmu.” Dia meletakkan kotak bekal di hadapan Nic.
Namun, dengan nada sinis, Nic berkata, “Bekal seperti ini? Maaf, aku bukan tipe yang suka makanan seperti ini, apalagi yang memasak gadis nerd seperti kamu.”
“Maaf, aku tak punya uang untuk membuat makanan mahal,” kata Ela dengan mata berkaca-kaca.
“Makanya, ibu kamu hanya jadi pembantu. Kamu seharusnya bersyukur bisa makan sehari sekali,” cemooh Nic sambil tertawa.
Ela merasa sedih namun berusaha tetap kuat. Di loteng sekolah, dia duduk sendiri hingga muncullah Dave, sahabat Nic. Berbeda dengan Nic, Dave adalah tipe pria yang baik hati.
“Menurutku, masakanmu enak,” ujar Dave sambil mencicipi bekal Ela. “Daripada mubazir, mending aku yang makan. Nic itu bodoh karena hanya melihat penampilan luar saja.”
Ela tersenyum, “Terima kasih, Dave. Selalu ada untukku.”
“Itulah gunanya sahabat. Kamu harus melupakan Nic. Sudah bertahun-tahun kamu menyukainya, tapi cintamu bertepuk sebelah tangan. Masih banyak pria lain, La,” ujar Dave.
Namun, Ela hanya bisa menggumam, “Aku hanya mencintai Nic.”
Hari ini, Ela berniat pulang bersama Nic yang membawa mobil ke sekolah. Namun, harapannya sirna saat ia melihat Nic bergandengan dengan seorang perempuan populer di sekolah bernama Jesica. Meski Jesica dikenal cantik dan menarik, berbeda dengan Ela yang memiliki postur kurus dan tidak berlekuk, Ela tetap mendekati Nic. Mungkin saja Nic sedang dalam mood baik meski tampak mustahil. Ela selalu percaya pada keajaiban.
“Nic, boleh aku pulang bersamamu?” pinta Ela dengan senyuman.
“Serius, Nic? Kamu dekati gadis nerd seperti ini?” Jesica bertanya dengan nada sinis, menatap Ela dengan pandangan merendahkan.
“Apakah kau tak bisa berhenti menggangguku, nerd?” Nic berkata dengan nada kesal kepada Ela.
“Aku hanya ingin pulang bersamamu, Nic. Lagipula, kita searah,” bujuk Ela dengan senyum polos.
Dengan tiba-tiba, Jesica menampar Ela. “Hei, jangan ganggu Nic lagi. Dia muak melihatmu. Mengerti?”
Keadaan parkiran sekolah saat itu sepi, hanya ada mereka bertiga. “Kenapa kau menamparku?” Ela marah, berniat membalas.
Nic menghentikannya, “Apa yang kau lakukan?”
“Dia menamparku, Nic! Kenapa kamu menghentikanku?” Ela bertanya dengan rasa bingung.
Nic tertawa sinis. Ela kembali menerima tamparan yang membuat bibirnya sobek. “Kamu memang pantas mendapatkan ini,” ucap Nic dengan nada mengejek. “Kamu selalu mengganggu hidupku, sejak SMP kamu selalu mengejar-ngejar aku. Sangat menjijikkan melihatmu begitu terobsesi padaku. Kamu harus sadar diri. Kamu hanya layaknya pembantu di keluargaku. Aku bisa saja memecat ibumu dan membuat kalian menderita, tapi aku kasihan. Jadi, jika kamu tidak ingin ibumu terkena imbasnya, jauh-jauhlah dari aku.”
Ela terdiam, ketakutan dan terluka mendengar ucapan Nic. Saat Nic meninggalkan Ela, dia bahkan meludahi Ela. Mungkin saatnya Ela menyerah. Ketika Ela hendak berjalan, tiba-tiba dia pingsan.
Dave, yang melihat kejadian itu dari awal, segera berlari menghampiri Ela yang tergeletak tak sadarkan diri. Dengan cemas, Dave segera menelepon ambulans, meminta mereka datang dalam waktu lima menit. Dia sangat sedih melihat kondisi Ela, gadis yang ternyata selama ini dicintainya. Dave memang telah menyukai Ela sejak SMP, tetapi dia tidak ingin merusak hubungan persahabatan mereka.
Sudah tiga hari Ela absen dari sekolah. Entah mengapa, Nic merasa ada yang tak beres dengan perasaannya, seakan ada yang hilang. Ia menoleh ke bangku yang biasa ditempati Ela, gadis yang kerap kali mengusik ketenangannya, kini tampak kosong.
“Apakah dia baik-baik saja? Ke mana dia selama tiga hari ini? Benarkah dia menghilang? Kemarin aku melihatnya berkeringat, apakah dia sakit?” Berbagai pertanyaan muncul di pikirannya. Nic menggeleng, mencoba mengusir bayangan Ela. Seharusnya dia merasa lega tanpa kehadiran gadis nerd tersebut.
Namun, setelah seminggu berlalu dan Ela tak kunjung hadir, rasa gelisah mulai menyergap Nic. Ia merasa seakan-akan kehilangan seseorang, meskipun tak bisa menentukan siapa. Nic menyesal telah memperlakukan Ela dengan kasar dan berkeinginan mengetahui keadaannya. Meskipun begitu, gengsi mempertahankan dirinya dari meminta maaf.
Suatu hari, dalam perjalanan pulang, Nic berhenti di depan Indomaret yang tak jauh dari rumah Ela. Bukan tanpa alasan, melainkan dia melihat dua sosok yang dikenalnya: Ela dan Dave. Melihat Dave yang memeluk dan membelai rambut Ela, rasa marah dan cemburu muncul dalam diri Nic. Dia melajukan mobilnya, meninggalkan tempat tersebut.
Sementara itu, di dalam kamarnya, Ela melamun, menatap langit yang berubah mendung. Sudah dua jam berlalu sejak Dave pamit pulang. Dave, kini mengetahui rahasia terbesarnya, selalu ada untuk menghiburnya. Ela menderita penyakit dilated cardiomyopathy, penyakit gagal jantung yang diidapnya sejak SMP. Meskipun biaya operasi transplantasi jantung sangat besar dengan kesempatan selamat hanya 10%, Dave menawarkan bantuan, mengingat rumah sakit tempat Ela dirawat adalah miliknya. Namun, tak ada donor jantung yang cocok. Ela khawatir, apabila dia menjalani operasi, dia tak bisa lagi membuka matanya untuk melihat ibunya, Dave, dan meskipun tak mungkin, Nic. Mungkin Nic bahkan tak peduli mengetahui penyakit yang diidapnya.
***
Pada hari pertama Ela kembali sekolah setelah absen seminggu, suasana sekolah tampaknya tidak berubah. Ia terkejut melihat Nic datang tepat waktu, berbeda dari kebiasaannya yang sering terlambat. Pria tersebut tampak marah. “Mungkin dia ada masalah di rumah,” batin Ela.
Ketika bel istirahat berbunyi, semua murid berhamburan keluar kelas, kecuali Nic dan Ela. Dave telah dipanggil kepala sekolah sejak pelajaran kedua. Ela berspekulasi bahwa mungkin Dave memiliki urusan penting.
Selesai makan, Ela meminum obat yang selalu ia bawa untuk mencegah kondisi jantungnya kambuh. Tindakannya itu tidak luput dari pengamatan Nic. Dengan ekspresi bingung, Nic bertanya, “Obat apa itu?”
Ela agak terkejut mendengar Nic memulai pembicaraan, namun ia berusaha tetap tenang. “Hanya obat sakit kepala,” jawab Ela berbohong sambil tersenyum.
“Mengapa kamu tidak mati saja?” sahut Nic dengan nada dingin, membuat wajah Ela berubah terkejut.
“Kau akan bahagia jika suatu hari aku mati?” tanya Ela dengan senyum ironis.
“Tentu. Wanita sepertimu pantas mati,” sahut Nic, mendekati Ela yang tampak bingung.
“Aku bukan wanita murahan, Nic,” bantah Ela.
“Jangan panggil nama saya, jalang. Kau tak pantas memanggilnya,” ujar Nic dengan amarah.
“Aku mungkin bukan wanita berada, tapi aku bukan jalang, Tuan Nicholas Pradipta. Aku tidak tahu apa masalahmu, tapi aku harus pergi sekarang,” kata Ela, berusaha meninggalkan ruangan.
“Tapi kenapa kemarin kau begitu akrab dengan Dave di depan Indomaret?” kata Nic, menahan tangan Ela.
Ela melepaskan tangannya, “Itu bukan urusanmu.” Ia meninggalkan Nic tanpa menyadari meninggalkan obatnya di atas meja.
Nic mengambil obat tersebut, terkejut mengetahui obat apa yang dikonsumsi Ela. Meski berperilaku nakal, Nic adalah pria pintar. Pamannya pernah mengonsumsi obat serupa sebelum mendapatkan donor jantung. Nic bergegas mengejar Ela.
“Ela, tunggu!” seru Nic.
“Ada apa?” tanya Ela bingung.
“Kamu menderita dilated cardiomyopathy?” tanya Nic langsung.
Ela terdiam sejenak, “Aku baik-baik saja,” jawabnya berusaha tersenyum.
Nic menunjuk obat di tangannya, “Jangan berbohong padaku.”
“Kau kenapa peduli?” balas Ela dengan emosi.
“Bagaimana jika aku bilang aku telah mencintaimu? Aku sadar akan perasaan ini setelah melihatmu dengan Dave,” kata Nic dengan lembut.
Ela terkejut, “Jangan membohongiku.”
Nic memeluknya, “Maukah kau memberiku kesempatan? Aku ingin membahagiakanmu.”
Ela tersenyum, “Terima kasih, sayang.”
20 Tahun Kemudian
“Mommy, Daddy! Lihat Michael, dia selalu menggangguku!” keluh Michela.
“Mike, jangan ganggu kakakmu,” tegur Ela.
“Maaf, Mom,” kata Mike.
“Kalian sudah besar, sebentar lagi berumur 12 tahun,” kata Nick.
“Baik, Daddy,” jawab Mike dan Danny bersamaan.
*****
Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.