Majalah Sunday

Sebuah Cerpen - Dia Temanku

Penulis: Lubna Apdria Kuwaysa – SMKN 48 Jakarta

Iyan mengetahui bahwa hubungan pertemanannya ternyata toxic.

Ini dimulai saat Iyan masih berada di tahun pertama SMK. Dirinya masih ingat betapa ramainya suasana di kelas, satu persatu siswa dan siswi memperkenalkan diri dan membuat hubungan pertemanan dengan satu sama lain. Awalnya Iyan canggung, namun dia memberanikan diri dan akhirnya mempunyai tiga orang teman yang sekelas dengannya.

Tidak hanya itu, Iyan juga membuat pertemanan dengan beberapa siswa yang berbeda kelas dengannya saat dia masuk Klub Komputer. Iyan merasa senang dan bangga karena bisa berteman dengan banyak orang dalam waktu yang singkat. Sifatnya yang friendly membuat orang-orang mau berteman dengannya. Menurut mereka, Iyan adalah teman yang suka merangkul dan teman yang suka mendukung teman lainnya. Tak ayal dia cukup terkenal di beberapa kelas.

Sampailah pada hari Kamis di jam 4 sore, waktu untuk Iyan mengikuti ekstrakurikuler Klub Komputer. Iyan terlihat bersemangat saat memasuki ruang klub, dirinya sudah menjinjing tas laptop di dan duduk di kursi paling depan. Beberapa siswa lain pun juga masuk dan duduk di kursi yang masih kosong. Salah satu murid duduk di samping Iyan, namanya adalah Raka.

“Wah, cepat sekali kamu datang. Pasti kamu sudah masuk sebelum disuruh,” Raka terkikik lalu melanjutkan, “Aku bingung kenapa kamu semangat banget, padahal sudah hampir satu tahun kita mengikuti Klub ini.” Raka tersenyum seraya mulai membuka laptopnya.

Iyan tersenyum simpul dan membalas, “Ah, kamu bisa saja. Lagipula, ini juga sudah menjadi kewajiban anggota klub komputer untuk datang lebih awal.” Iyan terkekeh, Raka hanya menghela nafas dan menggeleng, “Dasar anak rajin..”

Kegiatan Klub pun dimulai dan semua anggota klub terlihat sibuk dengan tugas masing-masing. Tugas mereka hari ini adalah untuk mendesain sebuah poster menggunakan perangkat Adobe Illustrator. Iyan merasa jika itu tidak sulit karena dia sudah mempelajari perangkat ini sebelumnya saat dia belajar di kelasnya. Sesekali dia melirik-lirik anggota lain yang masih diajari oleh mentor klub.

 

Suasana di ruang Klub itu benar-benar damai dan tenang.

Sampai, telinga Iyan sayup-sayup mendengar suara yang menurutnya di luar kegiatan, seperti seseorang yang sedang bermain Game. Iyan menengok dan melihat seorang siswa sedang sibuk dengan laptopnya, jari-jarinya pun tidak terlihat seperti sedang melakukan kegiatan Klub melainkan Iyan bisa melihat jari-jari itu menekan tombol yang sama beberapa kali, W A S D.

Mata Iyan menyipit, kenapa siswa itu berani bermain Game saat sedang ada aktivitas klub?

 

Raka yang menyadari Iyan hanya diam saja mulai mengikuti arah pandangnya, dia ber-oh Mei dan melihat ke arah Iyan, “Jadi kamu sedang melihat Brendon, ya?”

 

Iyan menengok ke arah Raka, alisnya naik

saat mendengar nama yang terdengar asing baginya, “Brendon, siapa?”

Raka menjawab, “Dia adalah salah satu anggota Klub yang bisa dibilang … agak bandel, dan itu sudah biasa melihat dia bermain Game ditengah-tengah aktivitas klub. Lagipula, itu bukan pertama kalinya dia bermain Game saat ada aktivitas klub,” Raka kali ini melirik ke arah siswa yang dia bicarakan dan nada bicaranya pun terlihat seperti dia sedang kesal, “Selain itu, dia juga suka menyendiri dan menjauh dari yang lain.” Raka menghela nafas kesal dan kembali fokus ke laptopnya.

“Kenapa kamu berpikir seperti itu?” Iyan bertanya dengan wajah bingung.

“Karena aku teman sekelasnya,” Raka menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari laptopnya, “Dia adalah tipe orang yang susah diajak kerja kelompok. Menurutku  dia tak ada bedanya dengan beban kelompok, hanya bisa mengeluh tapi dia tidak ikut berperan,” Raka melirik Iyan, “Aku harap kamu tak berteman dengannya dan tak masuk ke dalam daftar ‘orang menyebalkan’ baginya karena hampir semua siswa di kelasku masuk ke daftarnya.”

Iyan menelan ludah dan mengangguk, “Itu benar-benar buruk. Aku jadi prihatin padamu, Raka.” Orang yang disebut hanya tersenyum, “Ya, terima kasih.”

Kira-kira seperti itulah kejadian dimana Iyan tahu si ‘Brendon’ ini. Anak penyendiri yang tidak mau dirangkul oleh teman sebaya maupun yang tidak sebaya sekalipun. Namun entah mengapa Iyan jadi penasaran mengapa Brendon melakukan hal tersebut, menurut Iyan memang sudah seharusnya manusia bisa bersosialisasi dengan satu sama lain meski hanya satu orang. Namun Brendon memiliki kasus yang spesial.

Hal itu membuat Iyan mengumpulkan niat untuk melakukan sesuatu yang nekat dan juga melanggar apa yang Raka sarankan kepada nya, berteman dengan Brendon.

Iyan awalnya ragu dengan keputusannya namun rasa penasarannya terus mendorongnya untuk berteman dengan siswa ‘bermasalah’ itu. Iyan tahu setiap perbuatan pasti ada resiko nya dan Iyan siap menanggungnya. Berbekal dengan pengalamannya saat membuat pertemanan dengan yang lainnya, Iyan terkejut kalau Brendon langsung menerima nya tanpa basa-basi. Sepertinya justru Raka yang bermasalah, pikir Iyan.

Ternyata Brendon tidak seburuk yang Raka katakan dan justru sebaliknya. Dia ramah, tahu segala hal apalagi di bagian bahasa, dan hal yang membuat Iyan terkejut adalah bahwa Brendon sangat ahli dalam hal seperti IT. Menurut Iyan, justru orang seperti Brendon itu orang yang langka. Dan Iyan sangat menyayangkan teman sekelas Brendon yang memilih untuk menjauhinya.

‘Dia tak seburuk yang Raka bilang’, Iyan membatin. ‘Aku rasa, dia hanya perlu dirangkul’

‘Aku bisa mengubahnya jadi orang yang baik’

Iyan berteman dengan Brendon dan mereka suka berkumpul di kantin namun Iyan tidak tahu jika dia akan terjerat Toxic Relationship
Iyan dan Brendon duduk bersama di kantin.

Di bulan pertama sejak dia berteman dengan Brendon, semuanya begitu lancar. Brendon dengan semangat menceritakan apa yang dia lakukan hari ini sambil menunjukkannya kepada Iyan saat waktu istirahat dan mereka sedang duduk di Kantin. Iyan membalas ceritanya dengan wajah senang dan bercerita padanya balik.

Dalam satu bulan, Iyan mengetahui bahwa Brendon suka dengan puisi. Dia sering melihat temannya membuat kata-kata indah dengan empat baris itu. Tidak hanya itu, Iyan juga kagum saat Brendon membuat puisi itu dengan bahasa Inggris. Iyan mengaku kalau Brendon lebih jago darinya. Apalagi saat Iyan membaca puisi milik Brendon ; dia selalu bertanya apa makna dari kata-kata yang temannya tulis.

Tidak hanya menulis puisi, Brendon juga suka menunjukan ketertarikannya pada Game yang dimana hal itu Iyan maklumi karena dirinya pun juga suka bermain Game. Apalagi Game yang Brendon mainkan itu adalah Game yang Iyan sangat ingin memilikinya namun terlalu mahal untuknya membayar. Brendon terkadang menawarinya untuk bermain dengan akunnya namun Iyan menolak karena tidak mau merepotkan Brendon.

Anehnya Brendon memaksa dan Iyan tidak memiliki pilihan lain selain menganggukan kepalanya dan bermain game di laptop Brendon. Sepanjang permainan, Brendon selalu bercerita tentang betapa sukanya dia pada Game itu. Jujur Iyan sangat terganggu dengan ceritanya karena Brendon menjelaskan karakter favoritnya dengan bahasa yang menurutnya tidak nyaman didengar, namun Iyan tetap memaklumi hal tersebut karena menurutnya itu normal bagi seseorang untuk bercerita tentang karakter favoritnya.

Toh, terkadang aku juga begitu’ Iyan membatin sambil bermain.

—-

Di bulan kedua di tempat biasa mereka bertemu, Iyan menyadari bahwa Brendon itu banyak omong. Iyan pikir jika Brendon cocok menjadi Host acara. Dia pernah mengatakan hal itu pada Brendon tentang Brendon yang menurutnya jago dalam berbicara. Iyan berekspektasi jika Brendon akan menyukai atau mungkin menepis ringan namun yang dia dengar justru sesuatu yang membuatnya tidak nyaman.

“Buat apa aku jadi Host acara?” Tanya Brendon dengan ketus, “Lagipula mereka tidak mau mendengarkanku. Kerjaan mereka hanya mengoceh tentang seberapa menyebalkannya diriku,” Tiba-tiba nada bicaranya berubah jadi sendu, “Aku tak pantas jadi Host acara, meskipun aku mencoba, itu tidak akan menjamin kalau aku berhasil. Dan ayolah, kamu tahu kan gimana diriku? Jangan mengharapkan apa-apa dariku,deh.”

 

“Menurutku itu tidak benar,” Iyan menyanggah sebelum melanjutkan, “Kamu tahu kapan harus bicara dan kapan harus diam. Mungkin kamu belum pernah mencobanya, Brendon.” Iyan memberi nasihat dengan senyuman.

Brendon hanya diam, dia tak membalas ucapan Iyan dan kembali fokus pada laptopnya. Entah mengapa suasana nya jadi tidak bagus dan Iyan bersumpah jika Brendon meliriknya dengan tatapan tak suka namun Iyan hiraukan karena dia berpikir mungkin dia salah lihat.

Baiklah …. Mungkin aku seharusnya tidak perlu mengatakan itu’ Iyan membatin.

 

contoh Toxic Relationship antar teman : Mengabaikan teman
Brendon mengabaikan Iyan dan Iyan terlihat bersalah.

       Berbulan-bulan sudah berlalu sejak bulan kedua dan Iyan merasa jika Brendon mungkin kehilangan akal sehatnya.

Dia tak menyangka kalau Brendon bisa lebih parah dari apa yang Raka katakan kepadanya. Setiap hari, Iyan harus berkumpul di tempat biasa dan harus menunggu Brendon datang. Jika tidak, maka Brendon akan memberinya Silent Treatment dan bahkan menyampaikan kata-kata yang membuat Iyan sakit hati seperti “Kamu pasti melupakan aku” atau “Main saja sana dengan teman-teman mu yang lain sementara aku dilupakan.”

Namun anehnya Iyan terus saja berteman dengannya. Dia mengaku jika ada sesuatu yang membuatnya tidak bisa lepas dari Brendon. Dia bahkan mencoba untuk tak ke tempat biasa namun dirinya selalu saja ke sana tanpa dia sadari, seperti sebuah rutinitas wajib yang harus dia lakukan. Kalau Iyan tidak ke sana sekali saja, kemungkinan Brendon akan menyindir Iyan berhari-hari atau menyebarkan fitnah di media sosialnya tentang Iyan.

Apalagi sifat Brendon yang merasa kalau dunia harus terpaku pada dirinya. Iyan merasa jika semua aktivitas yang dia lakukan terganggu karena Brendon. Saat kerja kelompok; Iyan harus menghadapi beberapa panggilan telepon dari Brendon sehingga Iyan sering kena omel ketua kelompoknya karena berisik atau terlihat seperti tidak mau mengerjakan tugas kelompoknya.

Belum lagi dengan latar belakang Brendon sendiri yang dia bagikan pada Iyan tanpa menanyakan Consent pada Iyan. Dimulai dari Brendon yang tidak ditemani sejak SMP sampai dia harus melukai dirinya sendiri untuk melampiaskannya dan bagaimana dia ingin semua perhatian orang terdekatnya harus terpaku ke dirinya dan hanya dia. Bahkan, dia pernah mengancam bahwa dia akan menyakiti dirinya lagi jika Iyan tak mau berteman dengannya.

Iyan merasa ini berlebihan namun dia juga merasa kasihan dengan temannya. Dia juga pernah merasakan apa yang Brendon rasakan namun dia tidak sampai menyakiti dirinya sendiri; justru Iyan menghormati pilihan mereka yang tidak mau berteman dengannya, mungkin Iyan memang tidak satu frekuensi dengan mereka.

Iyan juga merasa jika lama kelamaan dirinya lelah, namun sebuah dorongan memaksanya untuk terus berinteraksi dengan Brendon. Seperti ada borgol yang membuatnya tak bisa lepas dari teman satu Klub nya itu. Iyan merasa jika niatnya untuk menemani Brendon bukan lagi untuk merangkulnya melainkan kasihan padanya.

 

 

 

 

Sudah hampir satu tahun Iyan berteman dengannya dan mereka akhirnya menginjak tahun terakhir SMK. 

Iyan semakin prihatin dengan nasib nya yang terus seperti ini, ditambah dengan adanya PKL. Iyan bisa membayangkan Brendon yang murka karena tidak satu kelompok dengannya, bagaimana temannya akan mengatakan bahwa dia egois dan tidak punya perasaan pada dirinya. Pikiran Iyan benar-benar kacau sekarang, dia tidak tahu lagi harus bagaimana. Dirinya hanya terduduk di kursi kelasnya dengan lemas. Baru kali ini Iyan merasa kalau dia tidak tertarik untuk mengikuti pelajaran karena lelah secara mental.

Hal itu membuat teman satu bangkunya, Mei menatapnya dengan tatapan bingung. Tak biasanya Iyan seperti itu. Pasti ada sesuatu yang mengganjal hati siswa itu. Mei menyenggol bahunya dengan pelan, ekspresi khawatir terlihat di wajahnya, “Iyan, kok kamu diam aja? Tak biasanya kamu seperti ini.”

Iyan menengok ke arah Mei dengan pelan, matanya yang lelah cukup menjelaskan kalau dia sedang ada masalah, “Ah, ya begitulah. Hanya urusan kecil …. Mungkin.”

Mata Mei menyipit, terlihat tidak suka dengan perkataan Iyan, “Kamu bohong. Kalau masalahnya kecil, kamu tak akan lelah seperti ini,” Mei menatapnya dengan tatapan memohon, “Ayolah Iyan, kamu tidak perlu menahannya sendiri Mei. Kamu ingat kan kalau aku ini Duta Generasi Remaja? Siapa tahu aku bisa membantu meringankan masalahmu.”

Iyan pada akhirnya pasrah dan menceritakan semuanya dari awal. Bagaimana dia bertemu Brendon, lalu saat bulan pertama dan kedua, diakhiri dengan saat dia mendapat ancaman dan kekhawatirannya jika dia melaksanakan PKL.

“Aku sudah tidak tahan,” Iyan sesenggukan, “Aku mau semua ini berhenti tapi aku tidak bisa. Rasanya ada saja yang menghalangi aku untuk menjauh darinya. Aku mau semua ini berhenti, Mei. Meski dia temanku tapi aku benar-benar tidak menganggapnya sebagai teman.” Mei yang melihat temannya sedih pun semakin prihatin apalagi Iyan sudah berteman dengan Brendon selama hampir satu tahun. Mei bisa merasakan betapa tersiksanya Iyan.

Iyan meneruskan, “Namun dia selalu mengancam akan menyakiti dirinya sendiri jika aku berhenti berteman dengannya. Aku tidak mau menjadi alasan dia menyakiti dirinya sendiri,” Iyan menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan kembali sesenggukan, “Aku adalah teman yang buruk.”

“Kamu bukan teman yang buruk,” Sanggah Mei dengan tegas, “Itu normal kalau kamu mau memutus hubungan tak sehat itu,” Mei menghela nafas panjang, “Toxic Relationship memang sangat merepotkan, ya?”

Iyan mengangguk, “Itu benar-benar merepotkan dan sangat menyiksa,” Iyan menjauhkan tangannya dari wajah dan menatap Mei dengan tatapan memohon dan putus asa, “Aku mau kamu menolongku, Mei. Aku benar-benar mau semua ini berhenti.” Iyan memohon dengan tatapan sedih.

Tatapan Mei melembut, dia menganggukan kepalanya dan menepuk punggung Iyan untuk menenangkannya, “Tentu aku akan membantumu, Iyan. Tapi berjanjilah kepadaku satu hal,” Mei menatap Iyan dengan serius, “Kamu harus tega dan kamu harus ingat bahwa apapun yang Brendon lakukan itu adalah pilihannya bukan salahmu, paham?”

 

Iyan mengangguk patuh, dia percaya bahwa Mei adalah orang yang tepat untuk memberikan solusi. Apalagi, Mei adalah Duta Generasi Remaja yang sudah mendapatkan beberapa penghargaan. Iyan yakin pasti rencana Mei akan berhasil.

Iyan menceritakan semuanya pada Mei tentang Toxic Relationship nya dengan Brendon
Iyan menceritakan semuanya tentang Brendon kepada Mei

     —  

      Berbulan-bulan sudah berlalu sejak bulan kedua dan Iyan merasa jika Brendon mungkin kehilangan akal sehatnya.

Dia tak menyangka kalau Brendon bisa lebih parah dari apa yang Raka katakan kepadanya. Setiap hari, Iyan harus berkumpul di tempat biasa dan harus menunggu Brendon datang. Jika tidak, maka Brendon akan memberinya Silent Treatment dan bahkan menyampaikan kata-kata yang membuat Iyan sakit hati seperti “Kamu pasti melupakan aku” atau “Main saja sana dengan teman-teman mu yang lain sementara aku dilupakan.”

Namun anehnya Iyan terus saja berteman dengannya. Dia mengaku jika ada sesuatu yang membuatnya tidak bisa lepas dari Brendon. Dia bahkan mencoba untuk tak ke tempat biasa namun dirinya selalu saja ke sana tanpa dia sadari, seperti sebuah rutinitas wajib yang harus dia lakukan. Kalau Iyan tidak ke sana sekali saja, kemungkinan Brendon akan menyindir Iyan berhari-hari atau menyebarkan fitnah di media sosialnya tentang Iyan.

Apalagi sifat Brendon yang merasa kalau dunia harus terpaku pada dirinya. Iyan merasa jika semua aktivitas yang dia lakukan terganggu karena Brendon. Saat kerja kelompok; Iyan harus menghadapi beberapa panggilan telepon dari Brendon sehingga Iyan sering kena omel ketua kelompoknya karena berisik atau terlihat seperti tidak mau mengerjakan tugas kelompoknya.

Belum lagi dengan latar belakang Brendon sendiri yang dia bagikan pada Iyan tanpa menanyakan Consent pada Iyan. Dimulai dari Brendon yang tidak ditemani sejak SMP sampai dia harus melukai dirinya sendiri untuk melampiaskannya dan bagaimana dia ingin semua perhatian orang terdekatnya harus terpaku ke dirinya dan hanya dia. Bahkan, dia pernah mengancam bahwa dia akan menyakiti dirinya lagi jika Iyan tak mau berteman dengannya.

Iyan merasa ini berlebihan namun dia juga merasa kasihan dengan temannya. Dia juga pernah merasakan apa yang Brendon rasakan namun dia tidak sampai menyakiti dirinya sendiri; justru Iyan menghormati pilihan mereka yang tidak mau berteman dengannya, mungkin Iyan memang tidak satu frekuensi dengan mereka.

Iyan juga merasa jika lama kelamaan dirinya lelah, namun sebuah dorongan memaksanya untuk terus berinteraksi dengan Brendon. Seperti ada borgol yang membuatnya tak bisa lepas dari teman satu Klub nya itu. Iyan merasa jika niatnya untuk menemani Brendon bukan lagi untuk merangkulnya melainkan kasihan padanya.

 

Sudah hampir satu tahun Iyan berteman dengannya dan mereka akhirnya menginjak tahun terakhir SMK. 

Iyan semakin prihatin dengan nasib nya yang terus seperti ini, ditambah dengan adanya PKL. Iyan bisa membayangkan Brendon yang murka karena tidak satu kelompok dengannya, bagaimana temannya akan mengatakan bahwa dia egois dan tidak punya perasaan pada dirinya. Pikiran Iyan benar-benar kacau sekarang, dia tidak tahu lagi harus bagaimana. Dirinya hanya terduduk di kursi kelasnya dengan lemas. Baru kali ini Iyan merasa kalau dia tidak tertarik untuk mengikuti pelajaran karena lelah secara mental.

Hal itu membuat teman satu bangkunya, Mei menatapnya dengan tatapan bingung. Tak biasanya Iyan seperti itu. Pasti ada sesuatu yang mengganjal hati siswa itu. Mei menyenggol bahunya dengan pelan, ekspresi khawatir terlihat di wajahnya, “Iyan, kok kamu diam aja? Tak biasanya kamu seperti ini.”

Iyan menengok ke arah Mei dengan pelan, matanya yang lelah cukup menjelaskan kalau dia sedang ada masalah, “Ah, ya begitulah. Hanya urusan kecil …. Mungkin.”

Mata Mei menyipit, terlihat tidak suka dengan perkataan Iyan, “Kamu bohong. Kalau masalahnya kecil, kamu tak akan lelah seperti ini,” Mei menatapnya dengan tatapan memohon, “Ayolah Iyan, kamu tidak perlu menahannya sendiri Mei. Kamu ingat kan kalau aku ini Duta Generasi Remaja? Siapa tahu aku bisa membantu meringankan masalahmu.”

Iyan pada akhirnya pasrah dan menceritakan semuanya dari awal. Bagaimana dia bertemu Brendon, lalu saat bulan pertama dan kedua, diakhiri dengan saat dia mendapat ancaman dan kekhawatirannya jika dia melaksanakan PKL.

“Aku sudah tidak tahan,” Iyan sesenggukan, “Aku mau semua ini berhenti tapi aku tidak bisa. Rasanya ada saja yang menghalangi aku untuk menjauh darinya. Aku mau semua ini berhenti, Mei. Meski dia temanku tapi aku benar-benar tidak menganggapnya sebagai teman.” Mei yang melihat temannya sedih pun semakin prihatin apalagi Iyan sudah berteman dengan Brendon selama hampir satu tahun. Mei bisa merasakan betapa tersiksanya Iyan.

Iyan meneruskan, “Namun dia selalu mengancam akan menyakiti dirinya sendiri jika aku berhenti berteman dengannya. Aku tidak mau menjadi alasan dia menyakiti dirinya sendiri,” Iyan menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan kembali sesenggukan, “Aku adalah teman yang buruk.”

“Kamu bukan teman yang buruk,” Sanggah Mei dengan tegas, “Itu normal kalau kamu mau memutus hubungan tak sehat itu,” Mei menghela nafas panjang, “Toxic Relationship memang sangat merepotkan, ya?”

Iyan mengangguk, “Itu benar-benar merepotkan dan sangat menyiksa,” Iyan menjauhkan tangannya dari wajah dan menatap Mei dengan tatapan memohon dan putus asa, “Aku mau kamu menolongku, Mei. Aku benar-benar mau semua ini berhenti.” Iyan memohon dengan tatapan sedih.

Tatapan Mei melembut, dia menganggukan kepalanya dan menepuk punggung Iyan untuk menenangkannya, “Tentu aku akan membantumu, Iyan. Tapi berjanjilah kepadaku satu hal,” Mei menatap Iyan dengan serius, “Kamu harus tega dan kamu harus ingat bahwa apapun yang Brendon lakukan itu adalah pilihannya bukan salahmu, paham?”

Iyan mengangguk patuh, dia percaya bahwa Mei adalah orang yang tepat untuk memberikan solusi. Apalagi, Mei adalah Duta Generasi Remaja yang sudah mendapatkan beberapa penghargaan. Iyan yakin pasti rencana Mei akan berhasil.

Hari pertama, Mei membuat Iyan tidak mengunjungi kantin tempat berkumpulnya Iyan dengan Brendon. Awalnya Iyan mengaku tidak nyaman namun Mei langsung menatapnya tajam yang membuat nyali Iyan langsung ciut begitu saja. Mei bilang jika Iyan bisa menitip padanya jika ingin membeli makanan, minuman, atau cemilan.

Hari kedua, Mei menyuruh Iyan memblokir kontak Brendon di ponselnya. Iyan menatap lamat ponselnya sebelum memutuskan untuk memblokir kontak sahabatnya. Iyan menghela nafas panjang sementara Mei memberinya jempol dan senyuman lebar di wajahnya.

Hari ketiga sampai hari ketujuh, Iyan mulai memberanikan diri untuk tidak melirik ke arah Brendon. Berkat dampingan dari Mei, Iyan tidak merasa tegang dan canggung melainkan tenang dan merasa aman. Sepertinya rencana Mei benar-benar berhasil, batinnya dengan senang. 

Dalam kurun waktu satu bulan, Iyan bisa memutus hubungan tak sehat itu. Dia mengaku merasa lebih lega dan rasa bersalah yang selalu menghantuinya kini telah menghilang. Mei pun senang dengan hal ini, karena rencana nya telah berhasil membuat Iyan menjadi lebih baik dari sebelumnya.

“Terima kasih, Mei,” Iyan tersenyum lebar, “Berkat kamu, akhirnya aku bisa bebas dari Brendon.”

Mei tersenyum kembali padanya, “Sama-sama, Iyan. Tapi satu pertanyaan,” Mei terdiam sebentar sebelum bertanya, “Meski kamu sudah tidak berhubungan lagi dengan Brendon, kamu masih mau menganggap dia teman?”

Pertanyaan itu membuat Iyan terdiam, dia terlihat termenung. Setelah semua hal yang terjadi, akankah dia tetap menganggap Brendon sebagai temannya? Iyan tak tahu pasti.Tapi Iyan tersenyum saat menemukan jawaban nya dan berkata dengan senyuman simpul.

“Ya, dia temanku.”

Iyan bersyukur jika masalahnya dengan Brendon karena Toxic Relationship telah selesai karena bantuan Mei
Iyan berterima kasih kepada Mei

Dan begitulah cerita saat Iyan akhirnya memutuskan hubungan pertemanan nya dengan Brendon. Iyan harap apa yang dia alami bisa menjadi pelajaran untuk kedepannya. Toxic Relationship memang seharusnya tidak dipertahankan.

 

*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.

Majalah Sunday, Teman Memahami Tips Belajar, Edukasi Seksual dan Kesehatan Mental

Ikutan berkarya di
Majalah Sunday

Post Views: 1