Majalah Sunday

Sebuah Cerpen - Copycat

Penulis: Shafa Nurul Azmi P- UPI

Sean adalah wanita berusia 24 tahun yang sedang mengikuti magang di salah satu Startup di Jakarta. Sean memang anak yang idealis dan mandiri, tak heran kalau dia menjadi orang yang paling diandalkan keluarganya terutama soal urusan keluarga, ya, Sean juga termasuk generasi sandwich dan hal ini yang sesekali membuat dirinya merasa kesepian. Seringkali ia melihat postingan teman-temannya yang sudah memiliki pasangan membuatnya seakan merasa gagal menjadi perempuan, sebenarnya, apa masalah Sean? ia merasa tubuhnya sudah ideal seperti standar di sosial media, soal cantik relatif tapi tidak ada yang mencoba merendahkannya soal kecantikan, bahkan ia selalu mendapat pujian sebagai anak magang yang menarik.

 

“Tiap scroll pasti kontennya yang punya ayang semua heran.”

Sean sedikit melamun lalu mengingat percakapan randomnya bersama Sita soal dating apps.

Setelah percakapan random bersama Sita tentang dating apps, Sean menyadari bahwa  dating apps mungkin tidak seburuk itu. Mungkin ia harus mencobanya juga dan kurang dari 15 menit, Sean sudah mencari foto untuk profil yang menarik dengan menuliskan bio di aplikasi tersebut, iya tersenyum tipis sambil berkata “pasang vpn deh, siapa tau bener dapet yang interlokal uhuy,” Sean tertawa geli melihat ulahnya sendiri. Tampilan dating apps itu sudah terbuka lebih dari setengah jam setelah Sean membuat profil nya, namun belum ada sama sekali yang membuat ia tertarik, ia terus menggeser beberapa profil. Tiba-tiba saja jarinya berhenti pada satu profil, wajahnya menarik dengan hobinya yang unik. tuk tuk, layar ponsel itu muncul dengan tanda like

Tak berlangsung lama, notifikasi chat muncul, Paxton complimented your profile, check out their message! mata Sean mengisyaratkan seakan tidak percaya. Hi, itulah pesan yang pertama Sean kirim. Namanya Paxton, seorang pria berumur 28 tahun yang memiliki branding seorang businessman, Paxton tidak memberitahu dengan jelas bisnis macam yang ia jalankan di awal mereka saling dekat, namun itu bukan masalah bagi Sean. Soal komunikasi, Sean tidak terlalu merasa kaku, ia terbiasa bercanda dengan teman-temannya yang di saat masih di Jerman, namun soal percintaan mungkin ada sedikit perasaan yang mengganjal. Ia terkejut saat Paxton mengajaknya untuk berpindah room chat, namun Sean merasa inilah saatnya dan segera mengiyakan tawaran Paxton setelah beberapa perbincangan yang membuatnya seperti kelebihan dopamine

Sean bisa berkaca pada dirinya sendiri, ia pikir ini hanya sebuah gaslighting, namun ternyata salah, ini lebih cocok untuk istilah copycat.

Awal Pertemuan

Sean sedikit melamun lalu mengingat percakapan randomnya bersama Sita soal dating apps.

Setelah percakapan random bersama Sita tentang dating apps, Sean menyadari bahwa  dating apps mungkin tidak seburuk itu. Mungkin ia harus mencobanya juga dan kurang dari 15 menit, Sean sudah mencari foto untuk profil yang menarik dengan menuliskan bio di aplikasi tersebut, iya tersenyum tipis sambil berkata “pasang vpn deh, siapa tau bener dapet yang interlokal uhuy,” Sean tertawa geli melihat ulahnya sendiri. Tampilan dating apps itu sudah terbuka lebih dari setengah jam setelah Sean membuat profil nya, namun belum ada sama sekali yang membuat ia tertarik, ia terus menggeser beberapa profil. Tiba-tiba saja jarinya berhenti pada satu profil, wajahnya menarik dengan hobinya yang unik. tuk tuk, layar ponsel itu muncul dengan tanda like

Tak berlangsung lama, notifikasi chat muncul, Paxton complimented your profile, check out their message! mata Sean mengisyaratkan seakan tidak percaya. Hi, itulah pesan yang pertama Sean kirim. Namanya Paxton, seorang pria berumur 28 tahun yang memiliki branding seorang businessman, Paxton tidak memberitahu dengan jelas bisnis macam yang ia jalankan di awal mereka saling dekat, namun itu bukan masalah bagi Sean. Soal komunikasi, Sean tidak terlalu merasa kaku, ia terbiasa bercanda dengan teman-temannya yang di saat masih di Jerman, namun soal percintaan mungkin ada sedikit perasaan yang mengganjal. Ia terkejut saat Paxton mengajaknya untuk berpindah room chat, namun Sean merasa inilah saatnya dan segera mengiyakan tawaran Paxton setelah beberapa perbincangan yang membuatnya seperti kelebihan dopamine

Sean bisa berkaca pada dirinya sendiri, ia pikir ini hanya sebuah gaslighting, namun ternyata salah, ini lebih cocok untuk istilah copycat.

“So gorgeous, hahaha,” tawa Paxton.

Setelah perkenalan singkat , mereka menjadi akrab. Paxton selalu memberikan waktu luang untuk  Sean saat pulang magang. Perbedaan 12 jam tidak menjadi beban bagi Paxton untuk selalu menemani Sean, bahkan saat Sean pulang sambil mengeluhkan soal tempat magangnya. Paxton seakan sempurna dimata Sean, bukan tipikal pria yang banyak berkomentar, ia lebih senang mendengarkan apa yang Sean katakan, sesekali ia selalu memuji bagaimana mata indah Sean dan ingin bertemu Sean secara langsung. Merasa semuanya semakin dekat, Sean sedikit ragu untuk bertanya pada Paxton, bagaimana tidak, pria itu menemaninya setiap ia membutuhkannya bahkan terkadang tanpa Sean minta.

Satu bulan berjalan begitu cepat, perasaan Sean semakin kacau. Ia menjadi sering diam dan mencoba menahan perasaannya sendiri, namun Paxton justru memberikan reaksi yang membuatnya luluh, Paxton justru tiga kali lebih peduli dibandingkan sebelumnya. Sean yang mulai tak tahan sejujurnya mencoba memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaanya, persetan soal siapa yang lebih dulu menyatakan, baginya kesempatan tudak datang dua kali.

Sean, it’s absolutely crazy, I.. do care about you girl

“yeah.. i feel the same,” jawab Sean lalu tertunduk malu. Sejujurnya ia terlalu takut untuk mengatakan bahwa ia ingin bersama Paxton, semuanya terasa luar biasa. Dan terasa sangat sempurna. Namun, percakapan itu justru menjadi awal yang baru. They said yes, dan setelahnya menjadi hari yang baru untuk Sean.

2 Bulan Kemudian

Sekarang semuanya menjadi tentang Paxton di mata Sean, tidak ada yang benar-benar menarik selain live call bersamanya saat pulang magang. “Sheaby, what’s the yellow one?” tanya Paxton, Sean baru saja selesai mandi dan mengenakan body butter kesukaannya.

“You mean this?” tanya Sean sambil memperlihatkan produknya ke kamera,

“What kind of smells is it?” tanya Paxton dengan wajah yang tertarik. Sean mencium aroma di tangannya,

“nothing, i used this because the next steps i wear my body mist,” Sean lalu memegang botol berwarna coklatnya,

“You know what, I bought the same product because when we have some live calls I always notice the body mist,” Paxton mengangkat botol body mist yang ia beli.

“wow, cool.. hahaha,” Sean tersanjung,

“ I just wondering if i can hug you right now and taste the scent of you babe,” Ujaran gombal itu membuat hati perempuan itu meleleh, Paxton memang benar-benar menjadi jawaban dari apa yang diinginkan Sean. Mungkin jika kegiatan magang ini selesai, ia bisa mulai mencari pekerjaan dengan gaji yang fantastis hanya untuk bertemu Paxton. Minggu selanjutnya mereka merayakan monthly anniversary, meskipun berlebihan, Paxton selalu membuat semua perasaan Sean menjadi sangat berharga.

Semua bendanya sama, seperti yang ia punya.

“Babe, did you just buy the stuff which is the same as mine?” tanya Sean sedikit bingung. Paxton sedikit tergugup, namun ia hanya menjawab bahwa ia sangat mencintai Sean sampai membayangkan bagaimana jika Sean bisa tinggal disini, Sean hanya tertawa tersipu malu sampai ia merasa sesuatu yang janggal. Tidak biasanya Paxton memegang telinganya ketika berbicara, kenapa perilakunya semakin sama dengan Sean.

Setelah obrolan kemarin, hubungan mereka berjalan dengan biasanya, saat ini mereka sedang live call, Sean meletakan ponselnya sambil merapikan baju dan bersiap untuk make up

“Shabey, what do you prefer for sleepwear? shirt or tanks?” Tanya Paxton random, Sean menatapnya bingung, ada apa dengan Paxton akhir akhir ini? ia sering bertanya sesuatu yang bersifat privat dan mulai bermunculan barang-barang yang mirip dengan miliknya,

“Huh?” Sean merasa aneh, Paxton menjawab bahwa ia tidak berbicara dengan wanita lain, hanya saja ia sedikit tergila-gila dengan Sean, seakan-akan dirinya adalah idolanya.

“Hmm, tanks maybe? cause  It’s muggy,” Jawabnya sedikit ragu, Paxton hanya mengangguk. Setelah selesai, Sean pamit pada kekasihnya lalu menutup telponnya dan segera berangkat.

Susana kantor terasa sangat sibuk, hari ini Sean tak banyak mengabari Paxton karena jadwal meeting yang padat. Rapat terakhir dimulai, saat santai Sean mencoba membuka ponselnya dan melihat notifikasi dari Paxton, ia mencoba membuka apa isi pesan tersebut,

Paxton 💖 15.00 babe, what do you think 

Sean 15.01 wdym?

Paxton 💖15.01 *mengirim gambar*

Sean 15.04 tf? babe what is wrong with u?

Sean terkejut saat melihat penampilan Paxton dengan wig yang menyerupai gaya rambutnya. Suasana hat Sean seketika memburuk, melihat perilaku Paxton yang semakin aneh. Sorenya setelah pulang, Paxton mencoba menelpon Sean kembali dengan voice call, Sean berharap Paxton meminta maaf terlebih dahulu sebelum ia mengangkat panggilan itu. Namun Paxton tidak sama sekali meminta maaf dan membujuk Sean lebih dulu untuk masuk kedalam voice call dan berdiskusi dengannya.

Babe, is just the expression to say that I am crazy about you.

Sean yang marah lalu tak tahan dan mengangkat panggilan tersebut, matanya berkaca-kaca, namun saat panggilan itu terhubung, ia justru terkejut dengan apa yang dia lihat di depan matanya. Paxton benar-benar menyerupai Sean, ia mengenakan riasan persis seperti yang Sean gunakan, warnanya, barang-barangnya sampai tanktop merek salah satu brand terkenal yang yang persis sama di gantung di belakang dan tersorot kamera. Sean tak percaya dengan apa yang dia lihat, ini bukan Paxton yang ia temui lewat dating apps itu.

“Paxton, what are you doing..” dengan nada gemetar, Sean mencoba tenang,

“Babe, is just the expression to say that I am crazy about you,”

“Paxton take it off..”

“No I won’t, because you didn’t stop me before,” reaksi itu persis bagaimana Sean selalu memberi alasan saat Paxton mencoba menegurnya, ia pikir ini hanyalah prank namun 15 menit kemudian reaksi Paxton justru membuat Sean yakin bahwa semua drama percintaannya ini berubah menjadi genre teror lewat kencan virtual, tak ada maaf dari Paxton, ia berperilaku seolah tidak apa-apa terjadi.

Sean bisa berkaca pada dirinya sendiri, ia pikir ini hanya sebuah gaslighting, namun ternyata salah, ini lebih cocok untuk istilah copycat.

Sean menarik nafas dan mencoba berbicara dari hati ke hati, Ia rasa ini bukan sesuatu yang akan menjadi baik kedepannya, ia tidak tahu mana yang benar dan mana yang betul-betul benar saat ini, yang jelas ia pikirkan adalah ia tidak mau terjebak dengan drama ini. “ Let’s break up Pax,” pintanya. Sean bisa menebak reaksi setelahnya, itu benar-benar reaksi bagaimana Sean marah kepada Paxton, air mata Paxton pun bukan sebuah kebohongan, melainkan caranya yang dibuat seakan Sean bisa berkaca pada dirinya sendiri, ia pikir ini hanya sebuah gaslighting, namun ternyata salah, ini lebih cocok untuk istilah copycat.

Sean mematikan voice call nya, dan memberikan perpisahan terakhir lalu menghapus semua kontak Paxton di akun media sosialnya, ia terdiam sebentar sampai ia merasakan air matanya kini benar-benar membasahi pipinya, kejadiannya begitu cepat dan tak bisa diterima secara akal sehat. Malamnya, Sean mencoba membuka beberapa akun sosial medianya, tidak ada yang mengerikan, mungkin Paxton tidak senekat itu.

1 tahun berlalu, Sean kembali bertemu dengan kekasih barunya yang merupakan seniornya di kantor baru. Hari itu Sean dan pacar barunya Dirga sedang menonton film bersama lewat virtual meet sampai larut malam, setelah selesai, ia mendapat panggilan, nomornya tidak dikenal. Sean mengangkat telepon itu,

“Hai Sheaby? how’s life? I watch your story on instagram, and I also have the pink one, what do you think? I’m sorry babe,” Jantungnya berdegup kencang, ia berusaha menahan ketakutannya yang tidak tertahankan, namun matanya semakin berkaca-kaca

 

AAAAAA

*****

Majalah Sunday, Teman Memahami Tips Belajar, Edukasi Seksual dan Kesehatan Mental

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.

Ikutan berkarya di
Majalah Sunday

Post Views: 20