Penulis: Maharani Intan Phitaloka – Universitas Pendidikan Indonesia
“Kalau gue sapa ‘Halo’, dia mikir gue modus nggak ya?” batin Bagas selagi menatap sisa baterai HP-nya yang kritis.

Bagas duduk di ujung halte, punggungnya tegak kaku seperti manekin toko baju, tangannya mencengkeram pinggiran bangku halte yang dingin. Mata cemasnya terpaku pada aspal, menghitung semut seolah itu hal paling menyenangkan sedunia, sementara HP-nya sekarat di angka 1%.
Di ujung halte lain, seorang siswi dengan seragam batik sekolah sebelah yang kontras dengan miliknya kini sedang menatap langit dengan tenang.
Simulasi di kepala Bagas mulai berjalan:
“Skenario A: Kalau gue sapa ‘Halo’. Respon: Dia bakal ngerasa risih, terus mikir gue mau minta sumbangan. Gagal.”
“Skenario B: Kalau gue sapa ‘Sore’. Respon: Dia bakal mikir gue sok asik, kayak bapak-bapak komplek lagi ronda. Gagal.”
“Skenario C: Kalau gue diem aja. Respon: Gue udah mirip patung pancoran versi seragam batik, kaku dan nggak berguna. Gagal total.”
Menelan ludah susah payah, mungkin ini keputusan ternekat. Keringat dingin mulai muncul di pelipis, Bagas akhirnya buka mulut… namun, hanya mangap tapi tak mengeluarkan suara, ia kembali menutup mulutnya.
Tiba-tiba tenggorokannya kering setengah mampus, “Ekhem..” suaranya agak pecah karena gugup.
“Eh, jemputannya belum sampai juga ya?” tanyanya dengan suara agak bergetar.
Siswi itu menoleh. Ia diam tiga detik, kalau Bagas tidak salah hitung. Tiga detik terlama dalam hidup Bro yang membuatnya ingin tenggelam saja saking malunya.
Mata gadis itu sempat turun, melirik sekilas ke arah dada kanan seragam Bagas, membaca nama yang tertera di sana: Bagas.
Bagas yang sadar sedang diperhatikan, balas melirik name tag putih di seragam batik sekolah sebelah itu: Rara.
Rara justru menjawab datar tanpa semangat, “Lo nanya jemputan…”
“Em…?”
“…atau lagi mastiin aja, gue beneran ada atau cuma halusinasi gara-gara lo stres ujian?”
Bagas mengerjap. “M-maksudnya?”
Rara menghela napas, “Nggak.”
Dengan berat hati Bagas kembali menatap aspal dan kendaraan yang lalu lalang.
Namun tiba-tiba Rara kembali bersuara. “Nggak tau sih ini lagi nunggu jemputan atau nunggu stres di kepala gue menguap biar nggak meledak pas sampai rumah.”
Bagas menghembuskan napas lega yang luar biasa. “Gue kira lo bakal teriak ‘copet’ karena gue bikin risih. Ternyata pikiran lo lebih kacau ya daripada dugaan gue tadi…”
Gadis itu hanya menjawab singkat, “Mungkin.”

Bagas tersenyum tipis. Meski ia tidak tahu persis apa yang membebani Rara, namun ia paham rasanya jadi “asing” di tengah keramaian. “Gue juga sering kok ngerasa gitu,” gumam Bagas. “Berasa dunia jalannya cepet banget, tapi gue malah stuck karena takut salah langkah.”
Rara menoleh, sedikit terkejut karena ada orang yang bisa memahami bahasa absurd-nya.
Suasana yang tadinya kaku pun mencair. Mereka malah jadi lomba adu nasib soal momen paling memalukan gara-gara overthinking.
“Asal lo tahu, tadi di kelas gue rasanya pengen ngilang pas pulpen gue jatuh. Bunyinya nyaring banget. Gue ngerasa seisi ruangan langsung ngehakimi gue gara-gara berisik,” curhat Bagas.
Rara menahan tawa. “Ah, itu mending! Gue dong, pernah pura-pura pingsan pas upacara cuma gara-gara salah masuk barisan kelas. Daripada nanggung malu diliatin orang, mending gue diangkut ke UKS, lumayan dapet teh anget gratis.”

Tawa mereka perlahan mereda, digantikan oleh helaan napas panjang yang serempak. Keduanya mendadak kompak menatap ujung sepatu masing-masing.
Ada kesadaran pahit bahwa alasan mereka betah berlama-lama di halte yang panas ini bukan cuma karena macet, tapi karena mereka sama-sama sedang menunda waktu untuk masuk ke pintu rumah.
“Sebenernya,” suara Bagas merendah, “gue nggak terlalu buru-buru pulang. Gue lagi nyiapin mental buat dengerin ceramah kurikulum 2013 jilid dua. Bokap gue hobi banget bandingin gue sama anak tetangga depan rumah.”
Rara menaikkan alisnya. “Emang kenapa anak tetangganya?”
“Katanya sih, umur dua belas tahun udah pinter main saham dan mau jadi CEO. Padahal gue liat dia masih sering nangis gara-gara nggak bisa naik sepeda,” gerutu Bagas.
“Gue dapet nilai tujuh di matematika aja udah dianggap kayak lagi ngerencanain kehancuran ekonomi keluarga.”
Rara terkekeh getir, bahunya merosot. “Sama… di rumah gue, kalau gue nggak dapet peringkat paralel, nyokap bakal mulai sesi ‘Nostalgia Masa Muda’. Isinya cerita gimana dulu beliau sekolah sambil jualan gorengan, belajar pake lampu petromak, tapi tetep juara umum. Gue yang belajar pake AC dan Wi-Fi kenceng tapi masih bego di kimia ini rasanya kayak produk gagal produksi.”
Bagas mengangguk simpati. “Iya, kan? Kadang gue pengen bilang ke mereka kalau ekspektasi mereka itu setinggi Burj Khalifa, sedangkan kapasitas otak gue cuma selevel ruko dua lantai.”
Mereka berdua terkekeh, menyadari bahwa halte ini mereka tidak perlu menjadi sempurna. Di sini, mereka cuma dua remaja yang sedang kelelahan dan butuh jeda sebelum kembali ke “medan tempur”.
Bagas memegang HP-nya yang mati. “Awalnya gue cuma mencoba berani basa-basi buat nanya jam sih karena baterai HP gue sekarat, tapi malah jadi deep gini.”
“Oh, lo mau nanya jam?” tanya Rara sambil melirik pergelangan tangannya.
“Iya, soalnya janggal banget jemputan belum sampai juga.”
“Jam 16.12,” kata Rara singkat.

Tepat setelah angka itu terucap, sebuah mobil dan sebuah motor jemputan berhenti nyaris bersamaan di depan halte.
Suasana mendadak kembali canggung. Mereka berdiri, menepuk debu di seragam masing-masing.
Tanpa ada ajakan bertukar nomor yang romantis, Rara justru menunjukkan layar HP-nya pada Bagas. “Nih, playlist lagu gue. Dengerin ini kalau nanti malem lo ngerasa kayak ruko dua lantai lagi,” ujarnya sambil memperlihatkan playlist berjudul ‘Semut’.
Bagas tertawa. “Oke, nanti gue cek.”
“Jangan lupa follow akun gue!” Kata Rara sedikit lebih keras.
“Oke, follback!”
Mereka naik ke jemputan masing-masing tanpa menoleh lagi, tapi dengan senyum tipis yang sama.
Beban di bahu mereka tidak hilang, tapi setidaknya sore ini, mereka tahu bahwa mereka tidak sendirian di dunia ini.
Pertemuan di halte itu membuktikan bahwa pura-pura kuat hanya akan membuat baterai mental cepat habis. Bagas dan Rara menunjukkan kita tak perlu sempurna untuk diterima orang lain.
Saat berani jujur, segala skenario buruk perlahan luluh dan pikiran berisik jadi lebih tenang. Ternyata, obat rasa asing adalah menemukan seseorang yang mau mendengar tanpa menghakimi di tengah kondisi baterai jiwa yang sedang lemah.
Berhenti biarkan overthinking menguras habis baterai mentalmu dalam pikiran yang melelahkan.
Yuk, mulai berbagi kisah atau sekadar menyapa orang di sekitarmu agar energi jiwamu tidak lagi terjebak asumsi. Sapa sekarang sebelum baterai semangatmu benar-benar mati!
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.