Penulis: Keisya – SMK 1 Perguruan Cikini
Sunners, pernah nggak sih, lagi dengerin lagu yang sudah bertahun-tahun nggak diputar, lalu tiba-tiba terasa seperti kembali ke masa lalu?
Tiba-tiba kita ingat suasana sekolah, perjalanan pulang, rumah dulu, teman yang pernah dekat, atau seseorang yang sudah lama nggak kita temui. Bahkan perasaan yang sudah lama kita kira hilang bisa muncul lagi hanya karena sebuah lagu. Aneh, ya? Padahal lagu itu cuma berdurasi beberapa menit. Tapi rasanya seperti membawa kita kembali ke suatu masa yang sudah jauh berlalu.
Hal ini sebenarnya bukan kebetulan. Musik punya hubungan yang cukup kuat dengan memori dan emosi. Sebuah lagu bisa menjadi semacam “penanda waktu” yang menyimpan pengalaman, tempat, orang, bahkan perasaan tertentu dalam hidup kita.
Ketika mengalami sesuatu, otak tidak hanya menyimpan kejadian tersebut. Suara, tempat, orang, suasana, dan emosi yang menyertainya juga bisa ikut terhubung. Karena itu, ketika mendengar lagu tertentu bertahun-tahun kemudian, otak nggak cuma mengenali, “Oh, ini lagu lama.” Kita bisa langsung berpikir:
“Ini lagu waktu aku masih sekolah.”
“Dulu aku sering dengar lagu ini sama mereka.”
“Ini lagu yang sering aku putar waktu masa itu.”
Dalam psikologi, kenangan pribadi yang muncul karena rangsangan musik disebut Music-Evoked Autobiographical Memory (MEAM). Musik dapat menjadi semacam memory cue atau petunjuk yang membantu memunculkan kembali pengalaman pribadi.
Penelitian juga menunjukkan bahwa musik dapat mengaktifkan bagian otak yang berkaitan dengan memori, emosi, dan pemrosesan diri.
Jadi, mungkin sebenarnya kita bukan hanya sedang mendengarkan sebuah lagu. Kita sedang membuka kembali bagian dari hidup kita yang tersimpan bersamanya.

Tidak semua lagu memiliki kekuatan nostalgia yang sama. Lagu yang sering kita dengarkan ketika mengalami suatu periode penting dalam hidup biasanya lebih mudah melekat. Terutama lagu yang hadir ketika kita sedang mengalami banyak hal untuk pertama kalinya, seperti memiliki persahabatan yang dekat, mengalami perpisahan, jatuh cinta, menghadapi perubahan, atau mulai mencari tahu siapa diri kita.
Ada fenomena yang disebut reminiscence bump, yaitu kecenderungan seseorang mengingat lebih banyak pengalaman dari masa remaja hingga awal dewasa. Periode ini sering dipenuhi pengalaman baru dan perubahan besar, sehingga kenangan yang terbentuk bisa terasa lebih kuat.
Itulah mengapa seseorang yang sudah dewasa mungkin mendengar lagu dari masa sekolahnya dan langsung teringat pada dirinya ketika berusia belasan tahun. Bukan cuma lagunya yang kembali.
Versi dirinya pada masa itu juga terasa ikut muncul.
Musik tidak hanya berkaitan dengan memori, tetapi juga emosi.
Hippocampus berperan dalam pembentukan dan pengambilan memori, termasuk menghubungkan pengalaman dengan konteks seperti waktu dan tempat. Sementara itu, amygdala berkaitan dengan pemrosesan emosi.
Karena itu, kalau sebuah lagu pernah menemani kita ketika sedang bahagia, sedih, kehilangan, atau mengalami perubahan besar, mendengarnya kembali bisa membuat perasaan yang berkaitan dengan pengalaman tersebut ikut muncul.
Kadang kita bahkan nggak benar-benar tahu kenapa tiba-tiba merasa sedih setelah mendengar sebuah lagu. Mungkin bukan lagunya yang membuat kita sedih.
Mungkin kita hanya sedang mengingat sesuatu yang pernah terasa begitu berarti.
Lirik juga punya peran besar. Ketika isi sebuah lagu terasa sesuai dengan pengalaman yang pernah kita alami, lagu tersebut bisa menjadi bagian dari cerita pribadi kita.
Misalnya, sebuah lagu tentang perpisahan mungkin terdengar biasa bagi orang lain. Tapi bagi seseorang yang pernah kehilangan orang yang penting dalam hidupnya, lagu itu bisa memiliki arti yang sangat berbeda. Makna sebuah lagu tidak selalu berasal dari musiknya sendiri. Kadang maknanya datang dari siapa kita ketika mendengarnya.
Itulah mengapa satu lagu bisa terasa sangat personal bagi seseorang, tetapi biasa saja bagi orang lain.
Perasaan seperti kembali ke masa lalu ini berkaitan dengan nostalgia.
Nostalgia adalah emosi yang muncul ketika kita mengingat pengalaman pribadi yang memiliki makna. Ketika mendengar lagu lama, kita mungkin bukan hanya mengingat apa yang pernah terjadi, tetapi juga mengingat siapa diri kita pada saat itu.
Kita bisa tiba-tiba berpikir:
“Aku dulu ternyata seperti itu, ya.”
“Banyak banget yang berubah sejak saat itu.”
“Aku kangen masa itu.”
Nostalgia dapat membantu kita melihat hubungan antara diri kita di masa lalu dengan diri kita sekarang. Kita memang berubah, tetapi kenangan tersebut menjadi bagian dari perjalanan yang membentuk diri kita.
Bahkan lagu sedih pun bisa terasa nyaman ketika didengarkan kembali. Kesedihan yang muncul tidak selalu berarti sesuatu yang buruk. Kadang, ada rasa nyaman dalam mengingat sesuatu yang pernah berarti, meskipun masa tersebut sudah berlalu.
Menariknya, nostalgia nggak selalu menggambarkan masa lalu secara utuh. Otak kita tidak menyimpan masa lalu seperti rekaman video yang bisa diputar kembali persis sama. Kita lebih mudah mengingat momen tertentu yang memiliki emosi atau makna kuat.
Karena itu, ketika mengingat masa lalu, kita mungkin lebih fokus pada bagian yang dirindukan dan melupakan masalah yang pernah ada.
Akhirnya muncul perasaan:
“Dulu semuanya lebih baik.”
Padahal, masa lalu juga mungkin tidak sesempurna itu. Nostalgia yang sehat bukan berarti kita harus terus ingin kembali ke masa lalu. Kita bisa merindukan suatu masa tanpa harus tinggal di dalamnya.
Kita bisa mengingatnya, tersenyum, mungkin sedikit sedih, lalu kembali melanjutkan hidup.
Karena sebuah lagu bisa terhubung dengan banyak hal sekaligus: suara, tempat, orang, pengalaman, dan emosi. Ketika lagu tersebut kembali terdengar, hubungan-hubungan itu bisa ikut aktif. Itulah mengapa satu lagu yang hanya berdurasi beberapa menit terkadang mampu membawa kita jauh ke belakang.
Mungkin itu juga alasan kenapa kita punya lagu yang terasa “punya kita sendiri”. Bukan karena lagu tersebut memang dibuat khusus untuk kita, tetapi karena kita pernah menjalani sesuatu bersamanya. Jadi, saat lagu lama tiba-tiba membuat kita terdiam dan mengingat masa lalu, nggak apa-apa untuk menikmatinya sebentar.
Mungkin kita memang sedang merindukan seseorang.
Mungkin kita sedang merindukan suatu masa.
Atau mungkin, tanpa sadar, kita sedang merindukan versi diri kita yang dulu.
Dan setelah lagu itu selesai, kita tetap bisa kembali menjadi diri kita yang sekarang—dengan semua perubahan dan cerita yang sudah kita lewati.
Pada akhirnya, lagu lama bukan cuma tentang suara atau melodi yang pernah kita dengarkan. Di dalamnya bisa tersimpan tempat, orang, suasana, dan perasaan yang pernah menjadi bagian dari hidup kita. Mungkin itu sebabnya satu lagu bisa membuat kita merasa dekat lagi dengan masa yang sudah berlalu. Kita memang nggak bisa kembali ke waktu itu, tetapi kita masih bisa menghargai kenangan yang pernah membentuk diri kita. Karena terkadang, saat mendengarkan lagu lama, yang kita dengar bukan hanya musiknya, tetapi juga sedikit dari versi diri kita yang pernah hidup bersamanya.
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.