Penulis: Salsabila Azahra – Universitas Negeri Jakarta
Matahari tepat berada di atas kepala saat suara-suara dari pelantang meramaikan jalanan. Ratusan orang dengan jaket almamater mulai memenuhi jalan sekitar Polda Jawa Timur. Mereka membawa poster dan spanduk dengan tulisan tangan yang berisi tentang keamanan pers. Selama beberapa jam para demonstran menyampaikan tuntutan dan orasi. Sadewa memiliki kesempatan berorasi di atas mobil bak terbuka yang sudah dimodifikasi. Pemuda dengan jaket almamater berwarna biru dongker ini dengan lantang menyuarakan aspirasi.
“Kebebasan pers harus dilindungi! Setelah reformasi pun teman-teman pers masih mendapatkan perlakuan yang tidak mengenakan. Kalau begitu untuk apa ada reformasi? Tahun ini tercatat ada 8 kasus kekerasan terhadap pers di Jawa Timur! Kalian harus menjamin keselamatan rakyat, keselamatan pers!” Lengan yang dibalut almamater berlogo Lembaga Pers Mahasiswa terangkat ke udara menunjuk-nunjuk barisan polisi.
Nakula yang termasuk ke dalam barisan yang ditunjuk-tunjuk hanya meliriknya sekilas. Ia sedikit membenarkan posisi tameng di tangannya. Nakula tidak tahan dengan semua omong kosong yang keluar dari mulut saudaranya. Ia masih tahan adu debat dengan Sadewa saat di rumah demi menghormati ayah mereka. Namun, saat di jalanan seperti ini, apalagi sedang ada unjuk rasa, ia malas betul harus mendengarkan semua cerocosnya lagi.
Dari atas mobil bak, Sadewa tidak tahu di mana posisi kakak kandungnya. Polisi garda terdepan saat mengamankan unjuk rasa itu terlihat sama di matanya. Tameng baja, helm pelindung, dan pentungan. Baginya, mereka hanya tikus percobaan yang digunakan senior-seniornya untuk dijadikan benteng keamanan, sementara para perut buncit itu berlindung di belakang mereka yang lebih ceking. Sampai saat ini pun Sadewa tidak mengerti mengapa saudara kembarnya mau pasang badan untuk melindungi aparatur negara.
Saat matahari sudah mulai meredupkan sinarnya, satu per satu massa aksi mulai balik kanan meninggalkan tempat. Sadewa yang berhadapan langsung dengan para polisi masih menunggu teman-temannya membubarkan barisan. Selangkah kaki Sadewa meninggalkan tempat, terdengar suara ledakan dengan kobaran api yang cukup untuk membubarkan polisi. Entah bom molotov dari mana, tetapi air berkekuatan besar langsung disemprotkan ke arah massa aksi yang hendak membubarkan diri.
Kerumunan menjadi ricuh. Massa aksi yang tidak tahu-menahu tentang bom molotov mengobarkan amarahnya. Bentrokan antara petugas kepolisian dan peserta aksi tidak bisa dihindarkan. Sadewa tidak terima teman-temannya kena pentung polisi. Ia maju perlahan-lahan untuk membalas perbuatan polisi tersebut. Satu langkah, dua langkah. Gas air mata ditembakan. Penglihatan Sadewa memburam. Sesuai dengan nama senjatanya, kini mata Sadewa penuh air mata.
“Pulang!” Suara yang mirip dengannya dan sudah sangat akrab di telinga Sadewa bergema di kepalanya. Nakula menenteng lengan adik kembarnya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya sibuk menggenggam tameng dan pentungan. Matanya awas menatap teman-teman sekelompoknya yang mulai maju mengejar kelompok mahasiswa. Setelah dirasa perhatian semua orang tidak ada yang menatapnya, matanya kembali menatap tajam Sadewa.
“Pulang sekarang!” Ia sedikit melempar dan mendorong tangan adiknya. Tidak sabar ingin melihat anak itu segera meninggalkan tempat aksi. Sadewa yang matanya belum bisa terbuka dengan sempurna terpancing emosinya. Ia melangkah semakin dekat berhadapan dengan Nakula. Kini ia bisa membedakan saudara kembarnya dengan polisi yang lain. Tatapan mata Nakula keras, sekeras tatapannya. Namun, saat ini ada sedikit binar permohonan dari mata si tertua. Sadewa tidak tersentuh dengan sedikit binar yang dipancarkan Nakula. Ia malah semakin tertantang untuk membuat kakaknya emosi.
“Lo juga pulang! Mau sampai kapan lo pasang badang jadi tameng buat si buncit yang malah ngumpet di belakang?!” Tangan kanan Sadewa yang tidak berkesempatan mengucek mata ia gunakan untuk menunjuk-nunjuk Nakula. Perdebatan antarsaudara ini dibubarkan oleh semburan water cannon yang mengenai keduanya. Sadewa langsung berlari mengikuti teman-temannya yang sudah menyelamatkan diri terlebih dahulu. Kali ini Nakula disembur oleh temannya karena melepas salah satu demonstran yang sempat tertangkap tangannya.
Keadaan di sekitar Polda tidak lagi bisa dikondisikan. Jalan yang seharusnya tempat kendaraan berlalu-lalang menjadi tempat manusia berperang. Yang satu sibuk melindungi kepala dengan tangan kosong, yang banyak lain sibuk mengerubungi sambil melayangkan pentungan berkali-kali. Sadewa termasuk ke bagian yang melindungi kepala. Kabar baiknya, Nakula tidak menjadi bagian yang ikut mengerubunginya.
Para seragam coklat dengan atribut lengkap mengejar-ngejar para almamater dengan tangan kosong. Saat ini para demonstran tidak dalam kondisi yang aman. Mereka berada di sekitar benteng musuh. Pada akhirnya, banyak massa aksi yang mendapatkan salam tinju dari para aparat. Di tengah caruk-maruk jalanan bak medan laga, satu orang dengan anteng duduk di trotoar. Mengamati keadaan sekitar sambil sesekali menggerakan kedua tangannya ke kanan dan ke kiri, seperti sang dalang yang mengatur jalannya pertunjukan wayang.
Pandu memejamkan matanya dengan khusyuk. Mendengarkan semua suara kericuhan yang terjadi akibat lemparan bom molotovnya. Seakan merasakan kembali potret delapan belas tahun lalu saat reformasi digaungkan. Saat Madrinya dirampas dari tangannya bersama kedua bakal anak mereka. Ia tertawa-tawa sambil meliuk-liukan tangannya ke udara. Tawanya semakin kencang bersamaan dengan suara ledakan. Ia berdiri dan melompat-lompat. Menari-nari kegirangan, berputar-putar kesetanan. Dunia di sekelilingnya berjalan lambat.
Pertempuran antara dua kubu ini semakin memanas. Nakula membanting seragam dan atribut polisinya. Sadewa melemparkan almamater kampusnya. Mereka saling serang di atas kudanya masing-masing. Pukul, tendang, injak, tusuk, dan seret. Nakula dan Sadewa lupa mereka pernah berada di rahim yang sama. Nakula dan Sadewa lupa bahwa mereka tidak pernah ada.
Pandu tertawa, berputar, dan melompat kegirangan. Tidak ada yang merasa aneh melihatnya menari di tengah kericuhan unjuk rasa. Hanya dirinyalah yang bisa melihatnya.
“Madri! Ini dunia kita, Madri! Hahaha…”
*****
Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.