Majalah Sunday

Passiliran, Saat Alam Menjadi Rumah Terakhir Bayi dalam Budaya Toraja

Penulis:Aqilla Barki Firdaus – UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Masyarakat Toraja memiliki beragam Tradisi adat yang mencerminkan cara pandang unik terhadap kehidupan dan kematian, salah satunya adalah passiliran. Passiliran merupakan ritual pemakaman khusus bagi bayi yang meninggal sebelum tumbuh gigi, yang dilakukan dengan cara meletakkan jasad bayi di dalam batang pohon hidup. Tradisi ini masih dijalankan oleh sebagian masyarakat Toraja, khususnya di wilayah Toraja Utara, sebagai bentuk penghormatan terakhir bagi bayi yang dianggap masih suci. Keunikan ritual ini terlihat dari keyakinan bahwa kematian bayi bukanlah akhir yang menyedihkan, melainkan proses pengembalian jiwa kepada alam. Dalam Budaya Toraja, kematian dipahami sebagai bagian dari siklus kehidupan yang harus dijalani dengan tata cara adat agar keseimbangan antara manusia, alam, dan leluhur tetap terjaga.

Getah Putih Pohon Tarra dan Kesucian Bayi dalam Keyakinan Leluhur Toraja

Alasan bayi dimakamkan di dalam pohon tarra tidak lepas dari nilai simbolis yang kuat dalam Budaya Toraja dan Tradisi leluhur mereka. Pohon tarra dipilih karena memiliki getah berwarna putih yang dipercaya menyimbolkan air susu ibu (ASI), sehingga pohon tersebut dimaknai sebagai “ibu alam” yang kembali menyusui dan merawat bayi yang telah meninggal. Masyarakat Toraja meyakini bahwa bayi yang belum tumbuh gigi masih suci dan belum sepenuhnya menjadi bagian dari dunia manusia, sehingga tidak layak dikuburkan di tanah seperti orang dewasa. Dalam Tradisi ini, pohon tarra menjadi perantara spiritual yang menghubungkan bayi dengan alam dan Sang Pencipta. Keyakinan tersebut menunjukkan bagaimana Budaya Toraja memandang alam bukan sekadar lingkungan fisik, melainkan entitas hidup yang memiliki peran keibuan dan spiritual dalam perjalanan hidup manusia.

Cara Masyarakat Toraja Melakukan Tradisi Passiliran

Proses pelaksanaan passiliran dilakukan dengan tahapan yang telah diatur secara adat dalam Tradisi Toraja. Jenis pohon yang digunakan haruslah pohon tarra yang masih hidup dan memiliki batang besar, karena satu pohon dapat digunakan untuk beberapa bayi dari satu keluarga atau komunitas. Lubang kecil dibuat pada batang pohon, lalu jasad bayi dibungkus dengan kain sederhana dan dimasukkan ke dalamnya tanpa peti jenazah. Setelah itu, lubang ditutup kembali dengan serat pohon agar dapat menyatu secara alami. Dalam Budaya Toraja, terdapat aturan adat yang harus dipatuhi, seperti larangan melakukan ritual ini bagi bayi yang telah tumbuh gigi serta kewajiban meminta izin adat sebelum pemakaman dilakukan. Semua tahapan tersebut menunjukkan betapa Tradisi passiliran dijalankan dengan penuh kehati-hatian dan penghormatan terhadap nilai leluhur.

Pada akhirnya, passiliran bukan sekadar ritual pemakaman, melainkan simbol identitas Budaya Toraja yang mencerminkan cara pandang mereka terhadap kehidupan, kematian, dan alam. Di tengah arus modernisasi, Tradisi ini menghadapi tantangan besar, baik dari perubahan pola pikir masyarakat maupun pengaruh budaya luar. Namun, mempertahankan passiliran berarti menjaga warisan kearifan lokal yang mengajarkan harmoni antara manusia dan alam. Bagi masyarakat Toraja, Tradisi ini adalah pengingat bahwa Budaya tidak hanya hidup di masa lalu, tetapi terus membentuk jati diri generasi masa kini. Dengan melestarikan passiliran, Toraja tidak hanya menjaga ritual adat, tetapi juga mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan, spiritualitas, dan penghormatan terhadap alam yang relevan sepanjang zaman.

*****

Majalah Sunday, Teman Memahami Tips Belajar, Edukasi Seksual dan Kesehatan Mental

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.

Ikutan berkarya di
Majalah Sunday

Post Views: 28