Penulis: Naraya Irvan
Buat banyak orang, keluarga itu ruang tumbuh yang ideal ada bimbingan, ada pendampingan langsung, atau sekadar obrolan di meja makan tiap malam. Tapi jujur, narasi itu sering kali terasa nggak relevan buat hidup yang aku jalanin sejak kecil.
Aku tumbuh dengan pola yang beda. Aku merupakan anak tunggal, dan hanya tinggal berdua dengan ibu yang bahkan kamipun tidak memiliki kedekatan layaknya bagaimana ibu dan anak. Kondisi membuat waktu seringnya terasa terbagi. Ibu dengan pekerjaannya, dan aku dengan segala aspek hidup yang harus aku pahami sendiri. Karena keterbatasan ekonomi, Ibu harus bekerja sepanjang waktu. Efeknya? Beliau nggak bisa selalu hadir secara langsung buat mendidik atau membina aku tiap harinya. Bayangin aja, waktu tk dimana anak anak lain dianter sama orang tuanya, aku? Naik ojek, dan ini hanya salah satu dari banyaknya petualang yang aku jalani, i do it all alone.
Ya, mau gimana lagi? Keadaan memang nuntut aku buat bisa berdiri di kaki sendiri sejak dini. Aku masih ingat banget, waktu umur 7 tahun umur di mana anak lain mungkin masih takut lepas dari gandengan tangan ibunya, aku sudah harus naik pesawat sendirian. Pakai layanan Unaccompanied Minor (UM) cuma buat pergi ke Jakarta. Waktu di bandara Soekarno Hatta, aku bener bener merasa takut. Mungkin kalian bisa bayangin bocah umur 7 tahun jalan sendiri di bandara menunggu jemputan dari omnya.

Waktu itu tujuannya buat mewakili Ibu di sebuah acara keluarga yang penting. Rasanya campur aduk, tapi aku tahu Ibu nggak bisa nemenin karena beliau harus tetap bekerja demi membayar token listrik yang sudah bunyi. Momen itu jadi salah satu bukti kalau sejak kecil, kemandirian bukan lagi pilihan buatku, tapi keharusan.
Pelan tapi pasti, proses itu nempa aku jadi pribadi yang mandiri, adaptif, dan terbuka sama hal baru. Ibu mungkin nggak selalu ada sebagai figur yang ngajarin segalanya secara langsung, tapi Ibu hadir sebagai penopang yang memastikan aku tetap bisa melangkah lewat dukungan finansial dan kepercayaannya yang luar biasa ke aku.
Lucunya, makna keluarga baru benar-benar “kena” pas aku mulai merantau ke Universitas Brawijaya. Jarak fisik antara aku dan Ibu makin terasa, tapi justru di titik inilah aku mulai paham makna keluarga dengan cara yang beda.
Di tengah tekanan akademik, tuntutan kuliah, sampai kelelahan mental yang kadang datang tiba-tiba, Ibu jadi tempatku berpulang. Ibu adalah ruang aman di mana aku bisa berhenti sejenak. Sekadar ditanya kabar aja udah cukup banget buat bikin pikiran rasanya lebih ringan, tenang, dan membuat aku semakin termotivasi untuk membantai dunia.

Sekarang, keluarga buatku bukan lagi sebatas ruang untuk bertumbuh, tapi juga tempat untuk kembali. Makanya setiap libur semester, aku selalu usahain buat pulang. Aku pengen lebih banyak habisin waktu sama Ibu, ngerajut hubungan yang dulunya terasa “jauh” jadi semakin hangat tiap harinya.
Dengan segala keterbatasannya, Ibuku adalah sosok perempuan kuat yang selalu berjuang keras menafkahi dan membesarkanku sampai bisa di titik ini. Keluarga, meski hadir dalam bentuk yang nggak sempurna, akan selalu jadi tempat pulang dalam perjalanan hidupku.
Dari pengalaman ini, aku belajar satu hal: keluarga nggak selalu membentuk seseorang lewat pendampingan yang utuh. Terkadang, keterbatasan itulah yang justru ngajarin aku buat kenal diri sendiri lebih awal, belajar ambil keputusan, dan tanggung jawab sama pilihan sendiri.

*****
Kemandirian ini nggak menghapus butuhku buat tetap “pulang”. Di tengah proses jadi dewasa, aku sadar kalau keberadaan Ibu meskipun nggak selalu hadir secara fisik akan tetap jadi penyangga dan alasan utamaku buat terus berjuang sampai detik ini.
shout out to my one and only mom heheyy, w.
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.