Majalah Sunday

Mitos atau Fakta tentang
Selaput Dara dan Keperawanan

Penulis: Risa Swastika Jati – Universitas Indonesia

Sunners! Mimin penasaran nih, apakah kamu termasuk yang percaya bahwa robeknya selaput dara menandakan seseorang sudah tidak perawan atau tidak? Mitos atau fakta, ya? Kira-kira ada faktor eksternal lain nggak, ya yang bisa menyebabkan itu terjadi?

Tahukan Kamu tentang Selaput Dara?

Selaput dara adalah membran selaput lendir tipis yang menutup sebagian lubang vagina bagian luar yang berlubang untuk jalan keluar darah menstruasi. Selaput dara sering menjadi indikasi tentang keperawanan. Bentuknya sangat bervariasi dan berubah-ubah tergantung usia walaupun tidak ada perbedaan yang signifikan. Tingkat elastisitasnya meningkat setelah masa pubertas.

Ilustrasi vagina dengan buah

Menilik Perspektif Masyarakat dan Fakta tentang Keperawanan

Berdasarkan budaya tertentu, keadaan selaput dara yang tidak robek pada gadis yang belum menikah menunjukkan kebanggaan dan kehormatannya. Dalam budaya seperti itu, bukti tradisional keperawanan adalah terjadinya pendarahan dari selaput tipis tersebut yang robek setelah menikah. Hal itu membuat deskripsi “perawan” digunakan untuk menilai atau mengevaluasi wanita berdasarkan standar yang ditetapkan oleh budaya yang mungkin memposisikan wanita sebagai subordinat atau lebih rendah dari pria. Sebenarnya, keperawanan adalah kondisi fisik yang dapat diidentifikasi walaupun tidak selalu melalui keutuhan selaput dara.

Faktanya, selaput dara pascapubertas bersifat elastis sehingga beberapa ditemukan memiliki selaput yang masih utuh. Pada umumnya, selaput dara pascapubertas menjadi membran yang tidak memiliki aliran darah sehingga jika robek biasanya hanya menyebabkan sedikit perdarahan. Perdarahan ini mungkin tidak disadari karena warna darah menjadi samar-samar.

Seharusnya, status keperawanan ditentukan oleh apakah seorang wanita pernah melakukan hubungan seksual atau tidak. Kesalahpahaman mengenai keperawanan dapat menimbulkan dampak negatif sosial yang cukup serius dalam masyarakat yang memercayainya. Hal ini bukan hanya karena masalah pribadi atau nilai individu, tetapi berkaitan dengan tradisi yang melibatkan kehormatan keluarga. Berlawanan dengan kesalahpahaman ini, selaput dara pascapubertas bersifat elastis sehingga dapat meregang yang memungkinkan saat penetrasi seksual tidak ada robekan dan pendarahan.

Faktor Eksternal Penyebab Robeknya Selaput Dara

Memang selaput dara dapat robek karena berhubungan seksual. Namun, perlu kamu ketahui kalau ada beberapa penyebab lainnya. Misalnya, menyelipkan benda ke dalam vagina, melakukan kegiatan olahraga yang berat, pembedahan, penggunaan tampon, dan terjatuh pada benda tajam.

Salah satu contoh penyebab robeknya selaput dara

Jika seorang wanita tidak mengalami pendarahan saat pertama kali berhubungan seksual, menunjukkan bahwa dia telah kehilangan keperawanan sebelumnya. Oleh karena itu, kalau kamu masih memercayai bahwa pendarahan pada malam pertama pernikahan sebagai tanda keperawanan maka itu hanya memperpanjang mitos saja. Kamu sebagai remaja perlu belajar lebih banyak tentang selaput dara dan keperawanan agar bisa menghilangkan mitos dan meluruskan kesalahpahaman.

*****

Majalah Sunday, Teman Memahami Tips Belajar, Edukasi Seksual dan Kesehatan Mental

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, tips belajar dan cerita cinta hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.

Ikutan berkarya di
Majalah Sunday

Post Views: 17
Chat Now
Selamat Datang di Majalah Sunday, ada yang bisa kami bantu?