Penulis:Larissa Fiapermata Feby-Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno
Ada momen ketika kita tahu bahwa materi tidak terlalu sulit. Kita sudah pernah membacanya, bahkan merasa cukup paham. Namun entah mengapa, belajar tetap ditunda. Kita memilih membuka hal lain, menunggu waktu yang terasa “lebih pas”, atau berkata pada diri sendiri bahwa nanti saja masih sempat.
Kondisi ini sering membuat kita bingung. Jika sudah paham, mengapa tetap sulit memulai?
Dalam psikologi pendidikan, menunda belajar tidak selalu berkaitan dengan kurangnya niat. Penelitian tentang prokrastinasi menunjukkan bahwa penundaan sering muncul sebagai respons otak terhadap ketidaknyamanan, meskipun kecil. Rasa bosan, takut hasil tidak maksimal, atau tekanan untuk tampil sempurna dapat memicu otak mencari aktivitas yang terasa lebih ringan.
Artinya, menunda bukan karena kita tidak mampu, tetapi karena otak sedang menghindari perasaan tidak nyaman yang tersembunyi di balik aktivitas belajar.

Belajar tidak hanya melibatkan logika, tetapi juga emosi. Ketika belajar diasosiasikan dengan tuntutan tinggi atau ekspektasi tertentu, otak dapat merespons dengan penundaan sebagai bentuk perlindungan diri. Kita menunggu hingga merasa “siap”, padahal kesiapan itu sering kali tidak pernah datang dengan sendirinya.
Dalam psikologi kognitif, emosi seperti cemas dan tertekan diketahui dapat menghambat inisiasi tugas, meskipun kemampuan kognitif sebenarnya mencukupi.
Menariknya, rasa sudah paham juga bisa menjadi alasan menunda. Karena merasa materi mudah, kita menilai belajar tidak terlalu mendesak. Akibatnya, belajar terus ditunda hingga akhirnya waktu terasa sempit dan tekanan meningkat.
Di titik ini, penundaan bukan berasal dari ketidaktahuan, melainkan dari cara kita menilai prioritas belajar. Tanpa disadari, kita menunggu kondisi ideal yang jarang benar-benar terjadi.

Menunda belajar bukan selalu tentang malas atau kurang disiplin. Sering kali, itu adalah sinyal bahwa ada emosi, tekanan, atau pola pikir tertentu yang belum kita sadari. Dengan memahami alasan di balik penundaan, kita bisa mulai bersikap lebih jujur dan lembut pada diri sendiri. Dari sana, belajar tidak lagi dimulai dari paksaan, tetapi dari kesadaran akan apa yang benar-benar kita butuhkan.
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.