Penulis: Meiccy Putri Jonarti- UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Sunners, pernah nggak sih kamu melihat ketan dimasak di dalam bambu, dibakar di atas bara api ramai-ramai? Di Minangkabau, kegiatan ini dikenal sebagai tradisi malamang, sebuah warisan budaya yang tak hanya soal makanan, tapi juga kebersamaan, religi, dan cerita panjang yang terus hidup hingga kini. Aromanya yang khas dan cita rasa gurih dari lamang sering jadi alasan kenapa tradisi ini selalu ditunggu-tunggu setiap tahun.
Di Minangkabau, tradisi malamang telah hidup sejak ratusan tahun lalu dan diwariskan dari generasi ke generasi. Malamang merujuk pada kegiatan memasak beras ketan yang dicampur santan di dalam batang bambu yang dilapisi daun pisang, kemudian dibakar di atas bara api. Konon, menurut sejarah, tradisi ini berakar dari perjalanan dakwah Syekh Burhanuddin. Untuk memastikan makanan yang halal saat bersilaturahmi, ia menyarankan warga memasak ketan dan santan dengan cara tersebut. Dari situlah nilai-nilai kearifan lokal yang dijaga oleh masyarakat.

Masyarakat Minangkabau melakukan malamang untuk menyambut momen-momen istimewa, terutama menjelang Ramadan, peringatan Maulid Nabi, dan Idul Fitri. Pada waktu-waktu tersebut, kegiatan malamang menjadi bagian dari persiapan kebersamaan dan aktivitas sosial masyarakat dalam menyambut hari-hari penting.

Tradisi malamang memiliki makna yang lebih luas dari sekadar memasak. Di dalamnya tersimpan kebiasaan masyarakat dalam menjaga kehalalan makanan, menghargai ajaran para ulama terdahulu, dan mensyukuri hasil yang diperoleh bersama. Pada saat yang sama, malamang mempererat hubungan sosial masyarakat Minangkabau. Proses pembuatannya dilakukan secara gotong royong, mulai dari menyiapkan bambu dan bahan hingga menjaga api agar lamang matang dengan baik. Kebersamaan inilah yang menghadirkan rasa solidaritas, keakraban, dan kekeluargaan. Karena itu, malamang tetap hidup sebagai tradisi budaya yang lekat dengan nilai sosial masyarakat Minangkabau.
Sunners, Tradisi malamang menunjukkan bahwa sebuah budaya bisa bertahan karena terus dijalankan dan dimaknai bersama. Aktivitas memasak ketan dalam bambu ini bukan hanya soal kuliner, tetapi juga ruang kebersamaan, silaturahmi, dan nilai religi yang tumbuh di tengah masyarakat Minangkabau.
Mengenal tradisi seperti malamang bukan sekadar menambah wawasan, tapi juga menjaga warisan budaya agar tetap hidup. Dengan memahami maknanya dan menghargai prosesnya, generasi muda punya peran penting agar tradisi lokal tidak hilang di tengah era sekarang.
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.
