WeCreativez WhatsApp Support
Hai, Sunners... Mimin di sini!
Mau ngobrolin apa nih?

Lost but Not Gone

 

Entah sebuah kebetulan atau kehendak Tuhan, kali ini Nisa bertemu lagi dengan Bryan. Pertemuan yang sama sekali tidak pernah terlintas dipikiran Nisa. Nisa yang bekerja di Lombok sedang menghadiri sebuah tugas dinas di Jakarta sebagai utusan dari kantornya. Lokasi Bryan yang sedang berada di Australia membuat Nisa sama sekali tidak terpikir akan  bertemu dengan sosok yang sudah 5 tahun tidak dia jumpai. 

Nisa sedang berjalan memasuki lobby hotel menuju resepsionis untuk menanyakan keberadaan ruangan yang akan mereka gunakan untuk rapat yang akan diikuti. Saat sedang bertanya kepada resepsionis, dia mendengar suara laki-laki disebelahnya menanyakan lokasi yang sama ke resepsionis. Mendengar hal itu Nisa menoleh kesamping untuk mendapati sosok yang disampingnya, berharap akan menjadi temannya dalam mencari ruang rapat. Seketika saat dia menoleh dan mendapati sosok disampingnya, sekujur tubuhnya membeku dan lidahnya seketika tidak bisa berkata-kata. Wajahnya seketika memerah dan dia segera berbalik dan berjalan menuju lift. Dia berjalan memunggungi laki-laki itu. Dia adalah Bryan, lelaki yang dulu pernah menjadi kekasihnya namun harus kandas karena Nisa memilih untuk bekerja ke Lombok saat Bryan sangat membutuhkan sosok Nisa disampingnya.  Ayah dan Ibu Bryan meninggal kecelakaan mobil, dan sehari setelah kejadian itu Nisa memutuskan untuk pergi ke Lombok. Hal itu membuat Bryan sangat kecewa dan memutuskan untuk berpisah dengan Nisa secara sepihak. 

Sejak awal hingga pada saat hari ini, Nisa tidak pernah memiliki keberanian untuk bertemu dengan Bryan, Nisa merasa sangat menyesal dan malu bertemu dengan Bryan. Rasa bersalah itu dia sembunyikan selama lima tahun, dia juga terlalu malu untuk meminta maaf pada Bryan. Selama tiga tahun pacaran dengan Bryan, saat itu adalah badai terbesar di hidup Bryan tapi Nisa memilih pekerjaannya di Lombok. Padahal Bryan adalah satu-satunya yang selalu ada di hidup Nisa, saat semua orang meragukan Nisa dan meninggalkan Nisa. 

 

****

Nisa berjalan memunggungi Bryan dan berjalan menuju lift, dia berharap Bryan tidak akan melihatnya. Nisa merasa belum kuat untuk bertemu dengan Bryan. Bahkan sekarang matanya sudah memanas dan dia sedang berjuang agar air matanya tidak mengalir. Karna dia tau, jika air matanya terjatuh satu tetes, maka akan sulit menghentikannya dan dia tidak akan bisa mengontrol emosi yang dia punya. Nisa menaikkan maskernya menutupi setengah wajahnya dan memasuki lift dengan kepala yang tertunduk. Saat pintu lift tertutup penuh, Nisa menghela nafas merasa sedikit lega dengan kekhawatirannya bertemu dengan  Bryan. Namun, belum sempat dia menyelesaikan helaian nafasnya, pintu kembali terbuka dan kepala Nisa refleks mendongak melihat sosok yang mengakibatkan pintu lift yang sudah tertutup kembali terbuka. 

Dia terkejut mendapati wajah Bryan yang berdiri disana yang fokus menatapi layar ponselnya. Nisa kembali menundukkan kepala dan menurunkan topi yang dia pakai sebelum Bryan sempat menangkap  wajanya. Bryan berjalan memasuki lift dan melirik ke tombol yang ada dihadapan Nisa hendak menekan angka lantai yang akan dia datangi. Bryan menekan angka 3 dan tangan Bryan sekarang berapa tepat didepan kedua mata Nisa. Sadar dengan hal itu, jantung Nisa beradu dan dia baru menyadari bahwa dia bahkan belum menekan angka 3, lokasi rapat Nisa diadakan. Sejenak Nisa terdiam dan kemudian kembali sadar bahwa mereka menuju lantai yang sama. Jantung nisa semakin beradu, rasanya dia sangat ingin menangis dan ingin meninggalkan tempat ini. Bryan berdiri dibelakang Nisa dan Nisa hanya bisa tertunduk dengan segala rasa malu yang dia punya. 

Saat pintu lift terbuka, Nisa buru-buru berjalan meninggalkan lift dan Bryan ada dibelakangnya. Malangnya sebuah surat terjatuh dari tangan Nisa tanpa dia sadari dan membuat Bryan yang berada dibelakangnya memanggilnya.

“mba, suratnya jatuh!” sahut Bryan

Nisa mengutuki dirinya yang membuat kesalahan pada saat seperti ini. Nisa mengumpulkan segala keberaniannya dan dia kembali menurukan topi dan menaikkan masker sebelum berbalik untuk mengambil selebaran  yang kini sudah ada ditangan Bryan. Dia mengambil file itu lalu segera berbalik melanjutkan langkahnya. Tak selang beberapa menit, Bryan menarik tangannya dan tangan Bryan yang satu lagi membuka topi yang menutupi wajah Nisa.

Bryan terkejut mendapati bahwa kecurigaannya benar. Itu adalah Nisa. Wanita yang pernah meninggalkannya saat seluruh dunia Bryan remuk. Wanita yang sudah menghancurkan hatinya sampai berkeping. Namun, malangnya dia juga wanita yang tidak pernah bisa Bryan hapus dari ingatannya. 

Nisa yang terkejut seketika menatap wajah Bryan dan air matanya meluncur begitu deras membasahi seluruh wajahnya. Dia hanya bisa menunduk dan terisak tanpa bisa mengucapkan sepatah katapun. Tangan Bryan yang tadi menggenggam tangan Nisa pun seketika menjadi lemas mendapati yang di hadapannya adalah Nisa. Perlahan dia melepas genggamannya. Dia rasanya ingin berlari meninggalkan Nisa yang ada dihadapannya, tapi dia melihat keadaan ballroom sangat ramai dan dia tidak sampai hati jika harus meninggalkan Nisa terisak ditengah orang banyak.

Meski hatinya berat, Bryan menarik tangan Nisa dengan kasar berjalan menuju lift. Dalam lift mereka terjerembab dalam hening, yang terdengar hanya isak tangis hingga pintu kembali terbuka. Mereka berada dilorong hotel yang sepi tanpa pengunjung. Seketika saat melihat lorong yang sepi, Nisa mencoba mengeluarkan suaranya untuk meminta maaf pada Bryan. Namun, belum sampai satu kata keluar dari mulutnya, tangisnya malah semakin menjadi yang membuatnya terengah-engah sampai tak bisa berkata-kata.

Bryan memeluk Nisa, hatinya luluh melihat tangis Nisa. Bryan dapat merasakan bahwa Nisa sangat menyesali perbuatannya waktu itu. Tangan Bryan mengelus lembut rambut Nisa sama seperti saat dulu saat mereka bersama. Perlahan Nisa mulai tenang, saat dia sudah merasa tenang, dia mulai mengungkapkan permintaan maafnya. Dengan suara yang parau dan matanya yang sudah mulai membengkak, dia mengungkapkan permohonan maafnya pada Bryan dan kembali terisak diakhir kalimatnya. Bryan kembali membawa Nisa kedalam peluknya. Namun, dalam hati, Bryan mengutuki dirinya yang tidak berdaya untuk membenci dan membiarkan Nisa begitu saja setelah apa yang sudah Nisa lakukan yang membuat Dunia Bryan terasa semakin hancur.

Saat semuanya sudah tenang, mereka kembali ke tempat rapat dan mengikuti rapat hingga acara berakhir. Tak disangka mereka memang mengikuti rapat yang sama sebagai perwakilan wilayah dan WNI yang berada di Luar negeri. Saat rapat berakhir, mereka pergi untuk makan malam di restoran hotel. Terjadi keheningan beberapa kali hingga akhirnya Nisa menjelaskan bahwa kepergiannya ke Lombok bukan hanya karena perusahaan yang dia incar selama ini menerimanya. Dia bahkan belum diterima saat dia memutuskan untuk pergi ke Lombok. Dia pergi ke Lombok karena oma yang membesarkannya sejak kecil terkujur lemah dirumah sakit dan meninggal dunia di hari ke tiga setelah Nisa tiba. Seminggu setelah kepergian Oma nya, dia diterima di perusahaan tersebut. Nisa tak berani menghubungi Bryan bahkan untuk bercerita pun tidak karena Nisa tau Bryan sedang sangat terpukul juga. Nisa tidak pernah berpikir bahwa di minggu saat Nisa diterima, Bryan sudah tidak bisa dihubungi sama sekali. Bahkan dia hilang dari sosial media. Nisa mendengar kabar dari teman Bryan bahwa Bryan sangat terpukul saat Dia tidak ada untuk menemani Bryan dititik terendahnya. Mendengar hal itu, Nisa pun tidak pernah memiliki keberanian untuk sekedar berbicara atau mencari tau saol Bryan lagi.

Setelah Bryan mendengar penjelasan Nisa, Bryan pun merasa bersalah telah membencinya tanpa pernah bertanya alasannya. Meninggalkannya begitu saja tanpa kata-kata. Pertemuan yang singkat itu membuat mereka kembali menggali kembali rasa yang coba mereka kubur namun tak pernah bisa mereka kubur. Mereka bahkan masih memiliki rasa yang sama dan tidak seorang pun dari mereka pernah berpindah kelain hati setelah lima tahun berlalu. Dua bulan kemudian mereka memutuskan untuk mengulang kembali kisah yang pernah kandas dengan pemikiran dan perspektif yang lebih positif dan memiliki tujuan.

 

Penulis: Doras M Sinambela

Universitas Kristen Indonesia

Leave A Comment