WeCreativez WhatsApp Support
Hai, Sunners... Mimin di sini!
Mau ngobrolin apa nih?

Kesatria

Aku duduk di pojok ruangan seorang diri sambil menunggu pahlawanku datang.

“Put, ayo makan!”

Kepalaku menoleh ke arah sumber suara sambil mengangguk senang. Kupikir dia sudah melupakan sedikit banyak tentang diriku karena akhir-akhir ini agaknya kepulangannya sangat jarang.

“Makan apa hari ini?” Aku berteriak senang. Kulepas boneka beruang yang lusuh itu dan langsung menghampiri laki-laki ini.

“Nasi, tempe, sama sambal!”

“Assiikk!”

Sebuah rantang plastik berwarna hijau dibukanya. Menampilkan butiran nasi yang tidak terlalu putih, sedikit keras, juga dua tempe goreng dan satu plastik kecil berisi sambal.

Kami mulai memakan hidangan dengan lahap, seperti tidak ada yang lebih enak daripada nasi dan tempe di siang hari yang cukup panas.

“Aku pikir kamu lupa.”

“Nggak, dong. Siapa lagi yang aku inget selain kamu, Putri?”

Aku tersenyum malu. Rasanya aneh digombalin kembaran sendiri.

“Gimana kabar kerjaan kamu?”

“Nggak terlalu buruk.”

“Pasti kamu suka, sampe lupa ngunjungin aku.”

Dia tertawa sampai-sampai nasi yang baru saja dimasukkan ke dalam mulutnya itu terlihat. “Maaf, deh.” Katanya. “Jendral sering ngasih kerjaan ke aku, jadi aku jarang banget ke sini.”

“Hm.” Aku hanya berdehem sebagai jawaban. Tempat ini sebenarnya sudah sangat membuatku bosan. Ruangan sebesar dua kali tiga meter dengan kasur kapuk dan lantai tanpa keramik membuat aku ingin segera keluar secepatnya dari sini. “Kapan aku bisa keluar, Satria?”

Satria tersenyum menatapku. “Sabar ya, Put. Aku juga lagi cari uang supaya kita bisa bebas dari sini.”

“Tapi aku bosan.”

Tangan kiri Satria yang tidak menyentuh sambal itu mengelus pelan pucuk kepalaku saat aura perempuanku yang suka mengeluh ini keluar. “Doain aja, ya. Kalau kita udah bisa pergi dari sini, aku akan bawa kamu ke tempat yang nggak pernah kamu kunjungin!”

“Benar, ya?”

“Iya.”

Senyumku kembali mengembang. Nafsu makanku makin bertambah saat bayang-bayang kebebasan ini hadir. Terlepas dari kamar kecil yang sumpek dan pergi ke suatu tempat yang belum pernah aku kunjungi, pasti sangat menyenangkan. Ah, aku jadi membayangkannya.

Kami hanya tinggal berdua.

Ralat. Maksudku sendiri.

Seluruh keluargaku ditawan oleh para penjajah Jepang dan beberapa mati karena tidak kuat merasakan kerja rodi yang kejam itu.

Kini, hanya aku dan Satria yang tersisa.

Satria membandel membawaku kabur dengan kondisi kakiku yang lemah dan tidak berdaya. Dia menggendongku berkilo-kilo meter melewati gang-gang sempit, bahkan kadang gorong-gorong. Umur kami baru lima belas tahun dan dia sudah begitu hebatnya menggendong perempuan lemah sepertiku.

Aku tidak bisa berdiri dengan sempurna dalam waktu lama. Kakiku sudah rapuh karena beberapa kali dipukul dan diinjak dengan kencang oleh para penjajah ketika aku tidak melakukan pekerjaanku dengan baik. Hal serupa juga dialami oleh Satria. Namun, jiwa laki-laki ini begitu kokoh. Ia bahkan sering melindungiku saat aku sedang dimarahi. Keluarga kami juga banyak yang bernasib sama sepertiku. Bahkan, beberapa berakhir mati.

Kini, pemuda itu membawaku ke tempat yang menurutku sedikit aman, namun menyebalkan. Aku harus dikurung di dalam ruang bawah tanah kerajaan, sementara Satria bekerja dengan keluarga bangsawan. Aku tidak begitu mengerti pekerjaan apa yang dia lakukan. Tapi, dia selalu datang padaku dalam kondisi baik-baik saja; baju yang rapi, rambut lurus yang tertata, juga wajah tampan tanpa goresan. Mungkin ia menjadi pelayan kerajaan atau semacamnya. Yang jelas, setidaknya aku merasa sedikit aman di sini.

Sudah sekitar satu bulan kami pindah ke tempat ini. Satria sering mengungjungiku meski dalam rentang waktu satu hari sekali untuk makan siang bersama. Dia tidak tidur bersamaku. Aku tidak tahu di mana ruang tidurnya, mungkin dia bersama para pelayan lain.

Tapi, tiga hari belakangan, saudaraku itu belum juga datang. Aku mulai lapar. Semua makanan dan cemilan yang Satria berikan tiga hari lalu sudah habis. Air galon yang sering ia bawa juga mulai menipis. Aku bingung, ke mana cowok itu? Tempat ini berada di dalam ruang bawah tanah, yang berarti tidak ada jendela atau apa pun yang membuatku tahu dunia luar.

“Buka penjara 101!”

Kepalaku menoleh ke arah pintu. Aku tidak pernah mengenali suara ini. Terlalu berat jika aku katakan bahwa ini adalah suara Satria. Aku tahu persis bagaimana nada bicara kembaranku yang satu itu.

“Ada satu perempuan di dalam, Jenderal.”

Kakiku menekuk. Kupeluk erat boneka lusuh yang diberikan Satria saat pertama kali membawaku ke sini. Aku memojok ketakutan. Di mana Satria? Siapa laki-laki di luar sana?

BRAK!

“Perempuan?” sahut laki-laki yang baru saja membuka pintu.

SREETT!

Mataku melotot. Satria yang selalu aku lihat berpakaian rapi itu dilempar dengan beringas dalam kondisi kepala yang berdarah. Baju bagus yang selalu kulihat itu kini berganti menjadi kaos putih yang kotor. Aku bergidik ngeri.

“Siapkan becak. Saya ingin perempuan itu dikirim ke Raja Fathan. Biarkan laki-laki ini yang ada di—”

TAP!

Tangan Satria dengan tegas memegang kaki pria yang dipanggil Jendral tadi, lantas berkata, “Raja Fathan akan menjatuhkan kamu ke penjara kayak saya kalau dia tahu perempuan yang diberikan untuk dijadikan istrinya itu cacat, Jenderal yang terhormat.”

GLEK!

Napasku tertahan. Meski apa yang dikatakan oleh Satria adalah benar, tapi baru pertama kali aku mendengar dia mengatakan aku cacat di depan wajahku sendiri.

“Cih.” Jenderal tersebut mengangkat kakinya paksa sambil berkata, “Kunci mereka berdua di dalam. Orang-orang tidak berguna.” Lantas, Jenderal dan satu laki-laki di sampingnya tadi keluar dan meninggalkan kami berdua.

Aku masih memojok saat perlahan kulihat Satria mulai bangkit dengan tubuh gemetar. Ingin sekali aku membantunya, tetapi kakiku terlalu lemah untuk bangun dan berjalan barang dua langkah saja. Kulihat, ia menghampiriku perlahan sambil mengusap sisa darah yang ada pada pelipis dan hidungnya. Sekarang, laki-laki itu sudah berada tepat di hadapanku.

“Maaf, ya.” Tangan kanannya terangkat pelan untuk mengelus kepalaku. “Aku uma nggak mau kamu dibawa mereka buat dijadiin selir Raja.”

Salivaku terteguk. Aku tahu apa maksudnya. Satria mengerti apa yang baru saja diucapkannya tadi pada Jenderal.

“Kamu bohong sama aku?”

Bibir tipisnya masih berusaha tersenyum meski tanda keunguan itu tercetak jelas di sekitar sudutnya. “Maaf.” Ia sempat terbatuk sebentar dengan kondisi wajah yang langsung berpaling dariku. “Aku nggak mau ngeliat kamu di siksa lagi.”

Mataku berkaca-kaca. Selama satu bulan ini Satria telah berbohong padaku dengan mengatakan bahwa dia bekerja di sebuah keluarga raja. Nyatanya, Satria masih menjadi pekerja Romusha.

“Aku ketahuan diam-diam mengambil baju pelayan kerajaan saat aku ingin pergi ke sini. Mereka pikir aku mencuri, padahal aku cuma meminjamnya sebentar.” Suaranya serak. Meski begitu, senyum tak pernah lepas dari wajahnya yang tulus.

“Kenapa… kenapa kamu ngelakuin ini?”

Boneka beruang yang entah ia dapat darimana kala itu masih aku peluk dengan erat. Kini, tangan laki-laki itu beralih memegang pipiku yang mulai basah akibat air mata yang tak sempat terbendung lagi. Dia menghapusnya perlahan, lantas berkata, “Karena aku Satria.” Katanya.

Aku mengernyitkan dahi. Menyuruhnya untuk menjelaskan apa maksud dari ucapannya barusan.

Lagi-lagi, Satria tersenyum masih dengan tangan yang memegang pipiku.

“Karena tugas (ke)satria… untuk melindungi tuan Putri, kan?”

Sudah.

Cukup.

Aku tidak kuasa menahan derasnya air mata yang tiba-tiba keluar dari pelupuk mataku. Kulempar sembarang boneka beruang yang tadi ada dalam genggaman, lantas tubuhku maju sedikit untuk memeluk Satria.

“Maaf.” Ucapku.

Satria mengelus kepala belakangku sambil tersenyum diam-diam. Aku tahu dia selalu seperti itu.

“Jangan marah, ya?”

Aku menggeleng. Tuan putri yang selalu menunggu kesatrianya itu datang, kini tidak perlu khawatir lagi.

Kesatria itu akan ada bersamanya selamanya.

Kesatria itu… pahlawanku.

Satria itu… kembaranku.

 

…TAMAT…

Novianti Sabani

Universitas Negeri Jakarta

Leave A Comment